Bertani adalah Jiwa Zaman yang baru?

June 11, 2020 § Leave a comment

Saya sangat senang bibit kacang yang beli di pasar mulai tumbuh dengan baik, begitu juga dengan bawang yang merupakan hasil pilah-pilih bawang kecil yang dapat dari sawah. Semuanya saya tanam di samping pekarangan rumah. Ada sawah yang bukan milik saya, saya tanami begitu saja, awalnya saya buat gundukan ditutupi mulsa rumput yang dari situ juga. Saya tanam apa saja, mulai dari tebu yang saya colong dari kebun paman saya. Singkong hasil potongan batang singkong yang roboh di sawah. Yang belum saya lakukan memungut bayam yang tumbuh di got pinggiran jalan yang tumbuh sangat subur.

Belakangan saya tengah menyukai kegiatan tanam-menaman. Berhubung corona, banyak inisiatif dari ngo, perseorangan, dan usaha kecil untuk mendorong kegiatan tersebut. Contohnya Misalnya Peken Bibit Dot Com di Payangan bekerja sama dengan beberapa perusahaan dan NGO membuat gerakan tanam saja. Mereka bagi-bagi bibit gratis untuk yang mau menanam di rumah. Kemudian ada usahaMemula Id yang coba memberikan harga yang miring untuk bibit sayur-sayuran. Ada juga inisiatif lain juga seperti Yayasan Emas Hitam yang bagi-bagi bibit untuk warga sekitar.

Inisiatif barusan saya pikir cukup banyak andil untuk orang balik coba menanam. Saya juga demikian. Berkebun bukan hanya mengisi waktu. Bagi saya yang pekerjaannya bekurang karena pandemi bisa jadi obat untuk tetap beraktivitas positif, tidak stres, dan memberikan alternatif terhadap keterbatasan akibat pandemi. Ini merupakan bagian dari mitigasi dan adaptasi terhadap bencana. Modal masa depan untuk menghadapi krisis ke depan juga. Menanam atau berkebun adalah jawaban yang paling logis.

Bukan hanya bantuan yang sifatnya instan saja. Seperti sembako yang akan habis, namun dengan menanam memberikan modal yang tidak akan putus dan habis. Macam memberikan bantuan berupa kail atau jaring pada nelayan, akan lebih berguna daripada ikannya yang sekali habis.

Kemudian, ketika orang-orang atau saya mulai menanam untuk keperluan sendiri. Saya jadi berpikir lebih jauh mengenai kondisi pangan kita setiap hari. Yang kita beli di pasar atau warung melalui proses yang sangat panjang. Mulai dari panen di sawah atau kebun, kemudian lewat pengepul ke penjual besar, penjual kecil, pengecer, hingga konsumen. Jadi berpikir bahwa harga -harga untuk produsen atau petani jauh lebih kecil. Bahkan ditengah pandemi, petani tidak bisa menjual barang yang diproduksinya karena harga terlalu rendah di tingkat pengepul. Namun kenyataan harga barang di pasaran cukup baik. Perjalanan panjang ini yang kemudian banyak disoroti beberapa teman.

Inisiatif untuk mendekatkan konsumen dengan produsen dilakukan Oleh Teman Sayur, Nyoman Fruit, Bali Organik Subak (BOS), BaleLaku, Sayur Bonceng, Punk Pangan dari Denpasar Kolektif, dan beberapa pengembang aplikasi seperti Bli Didi di Batur. Atau bisnis kawan2 saya di Jogja yang buka RanahBhumi Katalog , dimana coba menjual bahan-bahan makanan atau kebutuhan sehari-hari yang serba organik. Atau mau contoh yang besar bisa ketemu produk-produkJAVARA yang dikembangkan Bu Helianti Hilman

Inisiatif juga mendorong kesadaran baru dalam bisnis pertanian ke depan khususnya di Bali. Bisnis pertanian yang sehat, organik, kedekatan produsen dan konsumen melalui platform belanja digital, soal cerita para produsen, makin mengemuka ke depan. Kita bisa saja menuju pemahaman pertanian yang maju seperti jepang atau korea yang maju di bidang pertanian. Yang dimana bisnis pertanian ditopang adanya koperasi petani dan konsumen yang mapan. Konsekuensinya pada pertemuan kepentingan antara kedua pihak, untuk sama-sama mendapatkan keuntungan. Harga di petani jadi baik. Komsumen saya pikir juga dapat harga yang lebih murah dari harga pasar.

Internet juga banjir akan informasi menanam. Mulai dari pengenalan dasar perkecambahan. Saya menonton salah satunya dari BBQ Mountain Boys misalnya. Atau dari IDEP soal permaculture, penyimpanan benih, pembuatan kompos atau belajar HPT (hama dan penyakit tanaman). Hingga mengelola kebun produksi dari banyak kanal-kanal video di yutub. Seperti Exploring Alternatif, Happen Films, National Geographic.

Kini media belajarnya banyak, yang jual bibitnya ada, sampai platform penjualannya ada. Menanam, berkebun, dan bertani adalah jiwa zaman yang baru.

Eka Mul

Munggu-Dalung 2020

Mening Banyak Proyek daripada Banyak Uang

April 19, 2020 § Leave a comment

Kadang saya merasa bahwa pekerja kreatif tidak dihargai. Bagaimana tidak? Barusan klien yang telah saya selesaikan desainnya mengatakan batal untuk menggunakan desain tersebut. Tanpa dibayar dan dengan alasan yang menurut saya tidak logis.IMG20170606155748

Saya tengah membutuhkan uang. Di tengah pandemi yang membunuh manusia dan ekonomi secara masif ini, ada saja orang yang tidak mempedulikan orang lain. Saya bisa menghargai jika kemudian kliennya mengatakan tidak punya biaya untuk membayar desainnya. Bisa saja desainnya saya hibahkan dengan cuma-cuma, asalkan dibangun dan tetap dikoordinasikan jika ada hal tidak jelas.

Alasannya, borongannya terlalu kecil. Masih IMB dan tidak disetujui desainnya oleh pemborong. Ini saya malah bingung standing owner. Ia owner apa pemborong? Jika kemudian lebih hemat biaya pembangunannya, desainya tidak njelimet, aspek lingkungan dan fisika bangunannnya terpenuhi. Saya pikir akan sangat menguntungkan kliennya.

Tapi ya sudahlah, saya tidak ingin banyak debat dengan orang tersebut. Mendingan saya kerjakan lagi apa yang tengah mandeg ini. Saya tengah berpikir desain bisa murah dan bahkan gratis untuk yang benar-benar membutuhkan. Karena saya senang bekerja dalam emosi yang positif, dan bisa membantu orang lain mewujudkan impiannya memiliki hunian atau kantor baru.

Saya lebih mening punya banyak proyek, dari pada banyak uang jika begitu.

Uneg-uneg Masyarakat Biasa soal Corona di Bali

March 27, 2020 § Leave a comment

Di tengah badai Corona di indonesia, saya musti tetap berada di luar rumah. Ada satu tuntutan yang tidak bisa diganggu gugat. Rasa waswas sering sekali tidak bisa dibendung, kala ada orang yang bersin sembarangan, atau batuk tanpa masker. Sangat berbahaya, ditengah ketidaktahuan kita akan jangkauan virus ini. Padahal jika dilihat penyebarannya sepele dari droplet atau cairan bersin dari para inang atau suspect yang jatuh atau tertinggal di tempat seperti gagang pintu, meja, atau benda lainnya.

Ditengah belum adanya upaya yang sangat sistematis dari pemerintah, dan tidak ada tindak lanjut dari pemerintah khususnya di Bali. Saya jelas musti waspada penuh. Banyak orang yang tidak sadar akan gejala dan akibat virus ini. Bali sendiri dalam polemik soal tradisi pengerupukan dan melasti yang tengah dekat. Kita mesti paham akan Corona sendiri. Etiket kita soal bersin, batuk, atau kebersihan musti dipahami. Walaupun saya tidak bekerja di rumah, atau mesti berada diluar selama virus ini menyebar.

Saya sendiri berusaha untuk melindungi diri sendiri, orang disekitar saya, dan orang lain. Upaya saya lakukan adalah berusaha untuk tidak bersin, batuk di sembarang tempat. Seringkali berada di restoran cepat saji untuk numpang wifi, saya usahakan untuk mengelap meja, sebelum dan setelah duduk, membersihkan tempatnya sebelum balik pulang. Cuci tangan sesering mungkin, bawa alkohol sendiri untuk cuci tangan. Berupaya untuk tidak memegang area muka. Saya sering pandangi orang yang batuk atau bersin, moga-moga ingat untuk menutup mulutnya. Atau ada saja yang pakai masker sekenanya. Sayang maskernya jika digunakan selibat saja. Lebih baik disumbangkan untuk yang lain.

Satu hal yang saya pikir genting untuk dilakukan pemerintah khususnya di bali peningkatan fasilitas publik, saya kecewa misalnya wifi-id musti ditutup sementara waktu karena Corona. Karena sebetulnya akan meningkatkan penumpukan orang di area tertentu untuk kebutuhan sama. Orang akan membanjir di area gratis wifi lainnya. Makin sedikit tempatnya makin terbuka untuk penyebarannya. Mudah-mudahan apa yang dilakukan di surabaya, bisa ditiru di bali. Misalnya ruang disenfektan. Bisa dibuat dengan dana teknis bencana, dan ditempatkan di titik strategis dan pusat keramaian. Kemudian bisa mewajibkan untuk desa melakukan penyemprotan disenfektan secara mandiri dan sosialisasi ke masyarakat yang lebih luas, terutama masyarakat desa, lansia dan orang tua.

Hal selanjutnya saya pikir mulai penting untuk pengumpulan data valid soal kesehatan masyarakat. Tiap banjar mulai menginventaris orang yang bepergian ke luar negeri, atau luar kota dalam waktu dekat. Mereka perlu diberikan pemahaman soal karantina pribadi, adanya data valid soal adanya suspect di sekitar tempat tinggal atau desa. Jika ada yang sesak, batuk, dan juga menunjukan gejala virus ini perlu adanya sterilisasi, pencatatan, dan upaya isolasi mandiri. Jaga kebersihan, penyemprotan yang simultan, dan pencegahan pribadi.

Satu hal yang mengganjal saya beberapa hari ini adalah soal nyepi yang diperpanjang. Kewenangan adat akan penutupan adat, pengurangan akses berpergian dan berkegiatan agaknya cukup aneh dan sensitif. Karena banyak yang terganggu akan kebijakan ini serta agak tidak fleksibel dalam pengambilan keputusan. Takutnya bisa mengganggu akses individu untuk bekerja di luar rumah, mencari penghasilan, dan juga jika memang ada tuntutan lain mendesak. Terlebih ada himbauan lebih lanjut hingga tanggal 30 mendatang. Ini seperti opsi menutup akses secara keseluruhan atau Lockdown.

Lockdown sendiri opsi yang membutuhkan banyak persiapan dan kesiapan infrastruktur kerja. Negara yang sukses menerapkannya adalah vietnam. Dimana mereka menyiapkan segala bantuan untuk masyarakat yang aksesnya terbatas. Seperti kebutuhan pokok, komunikasi dan kesiapan pendukung medis. Pemerintah daerah dan provinsi belum ada mekanisme membahas ini secara seksama. Tidak ada kejelasan tentang dukungan masyarakat tersebut.

Jika dilihat untuk alur informasi, koordinasi masih kedodoran. Upaya sebatas himbauan. Langkah pengurangan dampak akan himbauan tidak berjalan. Malah terkesan lepas tangan, tidak ada kepastian akan akan keperluan masyarkat tersebut.

Upaya lainnya juga mesti simultan dilakukan, seperti yang dipaparkan sebelumnya. Pemerintah inisiatif untuk menjalankan banyak skenario pencegahan, pengobatan, dan perbaikan akan kondisi ini. Persiapan untuk beberapa bulan ke depan. Masyarakat perlu informasi yang jelas, konseling via telepon, dan bantuan untuk konseling psikologis.

Data-data mikro ini yang penting menghadapi corona, di bali tidak ada keterbukaan  data atas penderita yang confrim, ODP, PDP. Pemerintah tidak ada upaya tracking pasien, pengumuman soal kemungkinan penyebaran sembari menunggu tes massal yang akan dijadwalkan minggu ini.

Jaga kesehatan, kurangi intensitas bertemu atau waktu keluar rumah, jika masuk rumah dari luar mandi, cuci pakaian.

Selamat berperang! Tetap sehat semuanya.

Solidaritas dan Habis Bensin di Jalan

March 11, 2020 § 2 Comments

Saya hobi sekali ndorong motor di jalan, mobilitas yang tinggi denpasar-badung PP bisa 2 kali bolak-balik. Kadang musti mengejar waktu, jadi urusan bensin bisa kadang terlupa. Pada akhirnya saya musti berjalan, untung tidak terlalu jauh untuk dapat bensin. Karena kini banyak sekali penjual bensin eceran buka hingga larut malam. Jika sial, musti jalan beberapa menit, pernah hingga sekitar 15-30 menit sampai nemu penjual bensin atau SPBU terdekat.

Motor saya dulu, sebelum diganti jarang ngadat, tapi saat ini dengan matic sering kehabisan bensin. Tapi saya tidak pernah khawatir ada saja yang rela bantu. Saya juga siap bantu jika ada masalah di jalan. hhahhaha

Namun di saat susah selalu ada yang membantu. Awalnya bertanya kondisi kendaraannya. “Kenapa Mas/bli?” Saya katakan saya habis bensin. Mereka selalu menawarkan bantuan mendorong kendaraan saya sampai pengecer atau spbu terdekat. Jika motor mungkin gampang, mereka akan mendorong kendaraan dengan kaki. Seperti menendang gerakannya. Saya konsentrasi saja untuk melihat ke depan. Bagi yang menolong mereka harus konsentrasi ekstra, antara mendorong kendaraan saya dengan kaki, serta mengendalikan motor sendiri. Yang paling susah sepengalaman saya dorong motor saat kendaraan ramai atau macet. Kaki bisa pegal, kesemutan atau rasanya seperti terkilir. Tapi mereka yang bantu ikhlas menolong. Setelah sampai untuk isi bensin mereka langsung berlalu, saya selalu ucapkan terima kasih banyak. Mereka menyahutnya sambil berbalik.

Ini kejadian yang sering saya alami sendiri. Beberapa tahun terakhir. Perkembangan kendaraan sekarang  yang dominan matic, dengan sistem pompa untuk bensin sangat sering sekali susah untuk mengakali kondisi ini. Sebelumya untuk pada kendaraan dengan pelengkap tutup katup bensin pada tipe honda Supra X 125 atau Kharisma. Kondisi habis bensin bisa diakali dengan membuka katup bensinnya. Lumayan bisa bantu sampai pengisian bensin terdekat. Semenjak 2009-2018 memiliki kendaraan tipe ini, saya jarang sekali harus mendorong kendaraan sangat jauh. Paling hanya beberapa 10-20 meter saja. Tapi sejak dipaksa menganti dengan tipe matic kejadian seperti ini malah lebih sering terjadi. Mungkin karena ketiadaan katup, yang diganti pompa otomatis seperti mobil. Jika habis ya sudahlah.

Tapi solidaritas dan budaya saling bantu, membuat kita lebih nyaman ketika berhadapan dengan kondisi tersebut. Seringkali berpapasan dengan pengendara yang mendorong kendaraan di jalan. Pikiran saya tiba-tiba kemana-mana. Apa tujuan mereka sudah dekat, atau tempat pengisian sudah dekat atau sebagainya. Saya pikir saya harus balik atau berhenti dulu untuk bertanya kondisi kendaraan mereka, atau memastikan ada yang menolong atau tidak.

Tapi saya mantapkan buat berbaik atau bertanya, dan memberikan bantuan. Bisa dengan mendorong atau bantu membelikan bensin. Karena saya pikir saya bisa saja ada dalam kondisi yang sama.

Ekamul

11 Maret 2020

Denpasar Malam 3 Maret

March 4, 2020 § Leave a comment

Ah aku lupa voucher wifi sudah habis barusan, niat untuk kembali berselancar ke dunia maya pupus sudah. Walaupun tiada sesuatu yang tenggah dikerjakan, ini jadi semacam ritual sebelum pulang ke rumah. Denpasar jam 22 lebih, masih ramai. Lalu lalang kendaraan begitu deras. Macam suara rintik hujan dua hari lalu.

Telkom denpasar tampak ramai. Tampak kepala menunduk dan oleng kesamping. Tengah menikmati tontonan atau sedang melihat foto-foto yang diposting di media sosial. Dunia tengah gandrung akan dunia maya. Berita corona atau covid 19 tengah hangat, semua orang tengah sibuk bersiap menghadapi pademi, namun ada juga yang santai. Saya kaum yang agak tengah. Mencoba preventif dan santai di saat yang bersamaan.

Page: 1 2

Selamat Sewindu RI, Rumah Perlawanan

February 29, 2020 § Leave a comment

Tulisan ini sebagai bentuk terima kasih dengan perkenalan gagasan-gagasan yang membumi, berakar pada sekitar, dan digali dengan kacamata yang tajam serta kritis.

Tahun 2016, Selesai magangnya ganda dan oetman kayaknya. Saya edit sedikit. Foto Oleh: Ganda

Perkenalan saya dengan RI semata hanya kekaguman akan gagasan Gede Kresna (GK), yang saya pikir relevan dengan permasalahan di Bali dan Arsitektur secara umum. Membaca tulisannya di laman Facebook yang hampir setiap hari, sehari bisa tiga status. Ketika itu tahun 2014, saya menamatkan sekolah arsitektur. Merasa bahwa ilmu saya setengah-setengah. Antara menulis, desain dan juga organisasi membuat saya begitu minder. Tapi ketika itu Rumah Intaran membuka diri untuk “menerima” orang macam saya, dengan membuka program magang 100 hari judulnya, bekerja, Belajar lagi, dan menulis buku. Saya beruntung untuk masuk seleksinya, saya dikirimkan email untuk ikut programnya bersama 2 orang lainnya.

Sekitaran februari 2015, saya berangkat bersama 2 orang lainya, Hafz dan Fida keduanya dari Yogjakarta, keduanya mempunyai nama Noer, pakai hijab pula. Dijemput dengan mobil sewaan, dengan supir 2 orang kawan, Dode dan Hery. Kami tiba kemalaman pukul 10. Karena lumayan tidak tahu jalan. Perkenalan dengan si daun pahit, yang menjadi pembuka sarapan tiap pagi. Diceramahi aturan-aturan pasta gigi, soal GMO, soal target-target magang selama 100 hari. Ditemani juga oleh Dwi yang juga sedang magang. Lengkaplah semuanya berempat.

Saya di RI sekitar 1,5 tahun, agak tengah selesai dibanding haf, yang duluan mengejar beasiswa ke Inggris, dan fida yang bolak-balik Jogja dan keluar masuk RI hingga beberapa tahun belakangan. Banyak hal yang saya syukuri adalah pengalaman bertemu banyak kawan, guru, dan tempat2 belajar di luar sana. Buku pertama saya dicetak oeh RI, untuk pertama kali bisa nembus Sulawesi yang sangat jauh dari pemikiran saya bisa sampai sana. Pertama kali bisa menginap dan bertemu dengan Mas Yori Antar, nginep di kantornya, dan paham apa yang diperjuangkan Rumah Asuh, atau ketemu dengan Pak Eko Prawoto dan kunjung kerumah beliau di Kulon progo. Berkeliling ke karya Romo Mangun di Jogja. Bersingungan dengan kawan2 yang bergerak dalam upaya aktivis arsitektur, seperti Ciliwung Merdeka, Dokumentasi Arsitektur seperti Ruang 17 Om Darman atau Wilfrid, belakangan juga ketemu Ayos dari lingkungan pertemanan yang itu Juga. Ketemu penulis idola, mbak Vivi (Avianti Arman), Mbak Imelda dan Mas Sony. Bercerita santai dengan Sugi Lanus, OLE dan Mbok Sonia, atau pak Gus Agung, Mbok Dwi Yani, Mbak Ari Hana, Jro Suci saking Les. Waduh banyak sekali malah.

Pengalaman yang padat serta kaya. Namun dibalik semuanya saya pikir ada andil besar GK dan Ibu Ayu, sebagai pendiri RI. Gagasan mereka membuat semacam jaring yang besar, menjadikan dirinya sebagai jembatan untuk pengalaman-pengalaman tersebut. Belum lagi kunjung ke Desa-desa yang kami tidak bayangkan, seberapa kayanya sebuah desa jika dilihat dengan sudut pandang yang benar, menuliskannya menjadi gugus gagasan yang relevan, serta menjadikan alternatif solusi permasalahannya kini. Mereka bisa jadi pionir untuk dokumentasi terhadap desa-desa di Bali, yang jarang disentuh dan diwartakan secara benar. Jika bertanya mengenai Buleleng, Singaraja, dan desa-desanya, Rumah Intaran khatam dan memiliki dokumentasi yang lengkap. Mulai dari tradisi, arsitektur, cagar budaya, kuliner, dan potensi desa masing-masing. Bagi mereka yang ingin terjun pada dokumentasi bisa belajar banyak di RI, atau ingin mengolah hasil dokumentasinya yang lebih dari 10 tahun belakangan juga sangat menarik.

Namun bagi yang pernah tinggal di RI berproses disana, sangat paham apa kultur yang mesti berubah dari RI. Selama berproses dan hingga hari ini saya melihat adanya tidak adanya fleksibilitas untuk belajar di RI. Ada semacam program yang blek tumplek, yang musti diikuti oleh para kawan2 magang. Beda dengan kerja, yang sibuk pada proyek kerja, mulai dari desain dan pengawasan. Kawan-kawan magang belum memperoleh kebebasan untuk menentukan segi pembelajaran yang mereka minati. Misalnya jika tertarik pada arsitektur kayu, RI malah terlalu jauh mengenalkan ragam kuliner, kebudayaan masak, dan tata hidangan. Atau bagi yang ingin belajar kewirausahaan desa, belum tentu bisa bertemu guru-guru yang bisa memberikan jawaban akan pertanyaannya.

Saya berpikir, haruslah GK dan RI adil untuk memberikan semua kebebasan belajar itu. Musti dibangun diskusi yang terbuka dengan mahasiswa yang hendak magang. Dan RI musti jeli membaca potensinya dan diarahkan demikian. Karena kultur yang dibangun sesuai dengan gagasan RI yaitu ruang pemberontakan, ruang perlawanan akan gagasan kini. Yang memberikan dampak negatif bagi aspek kehidupan saat ini. Kritik semestinya dimaknai sebagai bagian dari perjuangan, kebebasan belajar merupakan pintu masuk untuk membangun gagasannya.

Anak-anak magang bisa ditempatkan ke desa-desa, untuk mengorganisir, memetakan, dan memecahkan masalah bersama masyarakatnya. RI bisa jadi fasilitator dan mentor untuk mereka. Pemahaman sudut pandang untuk menemukan potensi, masalah, dan juga solusi yang sebenarnya ada di dalamnya. RI haruslah benar-benar jadi HUB bagi semuanya.

Kedua, yang menjadi pikiran saya adalah belakangan RI terjebak dan menghabiskan banyak waktu untuk menghidupi diri dengan line bisnis yang banyak. Saya pikir sumber daya manusia yang kurang jadi masalah. Satu hal yang musti dipikirkan dalam membangun line bisnis lainnya adalah ketersediaan tenaga yang cukup. Kadang sisi studio dan mahasiswa magang yang musti berjibaku membantu line ini. Sehingga tidak cukup energi menggarap ruang gagasan yang mereka ingin pelajari.

Jika kemudian ingin mengembangkannya saya pikir RI musti cermat berhitung, untuk SDM, material bahan baku dan juga publikasi yang profesional. Karena ini peluang yang baik untuk mengembangkan healing food misalnya, atau kesadaran konsumsi. Karena jauh sebelum line ini berkembang arsitektur kayu RI sangat unggul. Penggunaan bahan-bahan recycle, bongkaran kapal, dan material alami sangat jarang ditemukan saat ini. Ini saya pikir arena belajar kawan-kawan yang bekerja dan magang di RI. Line studio Arsitekur ini malah kemudian pelan-pelan mulai meredup dan agak ditinggalkan Rumah Intaran.

Ketiga, dan yang terakhir, RI musti sangat serius untuk menjual gagasanya. Saya pernah terpikir banyak sekali potensi yang bisa di jual sekaligus membantu banyak perajin, petani, dan peternak. Ada kalanya usahanya malah turun intensitasnya, kehabisan tenaga dipertengahan, dan merugi karena karya artisan menumpuk di gudang. Belakangan masalah itu terjawab dengan adanya Koperasi Pangan Bali Utara (KOPABARA), yang penuh energi baru untuk membantu memasarkan aneka potensi pangan tersebut.

Umur 8 atau sewindu masih sangat hijau. Untuk jadi arsitek atau perancang dalam sebuah bincang dengan kawan pak GK, Mas Adi dari AWD butuh waktu 10 -15 tahun pengalaman merancang untuk jadi profesional. Delapan tahun masih berkutat pada ruang-ruang gagasan yang harus terus diuji, ditemukan kembali, dan dicoba pada ruang-ruang masalah sesungguhnya. Semoga di tahun-tahun mendatang hasil-hasil gagasan RI makin terasa, dan dibicarakan terus-menerus dan memberikan kontribusi bagi Bali Utara, Bali, Indonesia. Jika bak Intaran, akan terus hijau, tidak akan layu, jika ditebang akan tumbuh kembali, walaupun hidup di tempat yang kering sekalipun tetap memberikan kesejukan bagi sekitar.

Selamat sewindu Rumah Intaran (RI), semoga makin membumi gagasannya, dan terwujud mimpi dan citanya.

Mimpi Desain Rumah Murah

February 23, 2020 § 2 Comments

Saya tengah bermimpi mengerjakan sebuah rumah murah, proyeknya bisa dimana saja, dibuat siapa saja, dan dengan material yang beragam sesuai dengan kebutuhan.

Itu impian saya, mengingat saya juga berasal dari ekonomi yang biasa saja, bisa bangun rumah saja sudah syukur. Banyak di antara kita yang berada dalam level yang sama. Jika kemudian kemampuannya hanya sekitar 100-200 juta (termasuk harga tanah) tentu tidak akan mampu menutupi semua biaya untuk pembangunannya.

Rumah Kayu 1

Desain Eksperimen ruma kayu untuk 1 keluarga dengan 1/2 anak. 3-4 orang. Rangkanya bisa menggunakan kayu atau baja. Ruangnya dibagi 2 lantai, lantai 1 untuk dapur, ruang bersama dan kamar mandi. Lantai 2 khusus untuk ruang tidur

Saya terinspirasi mas Yusing, dari Studio Akanoma di Bandung. Pada tahun 2016 ia menerbitkan buku rumah murah. Dimana dalam buku tersebut, ia mendesain beberapa rumah untuk kliennya dengan budget yang minim sekitar 100-180 juta rupiah per rumah. Ia juga mengadakan sayembara bersama Imelda akmal seorang penulis arsitektur, untuk mendesain rumah murah. Hasilnya sangat bagus saya pikir di tengah banyaknya rumah dengan budget wah.

Inti dari rumah murah adalah menciptakan lingkungan rumah yang nyaman, sehat, dengan material yang murah, kuat, dan memiliki organisasi ruang yang baik. Kriteria tersebut cukup merepresentasikan rumah murah yang musti dihasilkan. Luaran tadi, menciptakan tantangan yang cukup rumit untuk para pekerja konstruksi, mengingat harga bahan bangunan yang tinggi, harga jasa konstruksi yang tidak murah, dan SDM pekerja pembangunan yang makin sulit dan mahal. « Read the rest of this entry »

Karena Shortcut, Ekonomi Candi Kuning jadi Melarat?

February 23, 2020 § Leave a comment

Untuk pertama kali mencoba short cut di daerah Bedugul. Ada 2 yaitu sebelum restoran Strawberry Hill dan melingkar di hutan hingga ke area Danau Beratan. Kesan pertama saya seperti tidak berubah dari rute tersebut. Waktu tempuh mungkin berkurang sedikit, kisaran 5 menit. Tapi ada satu hal yang saya rasa begitu mengganjal. Tampak kesan memaksa untuk masuk ke short cut jika dari arah Singaraja, karena di belokan barat Danau tidak diperkenankan untuk belok menuju Pasar Candi Kuning.

Verboden

Verboden untuk melintas dari arah Singaraja menuju Candi Kuning, diarahkan langsung menuju ke Short Cut Bedugul di Sisi Danau Beratan.

Dalam pikiran saya bertanya, bagaimana jika saya ingin berbelanja di Pasar Candi Kuning? Beli beberapa tanaman hias, membeli buah, atau sekadar ingin makan jagung atau sate kelinci. Ya jalannya harus memutar. Saya coba bertanya dengan ibu-ibu pedagang di pinggiran danau soal tanda verboden tersebut. Memang masih ada warga yang lewat kesana, cuma ketika ada petugas tidak diperkenankan untuk lewat.

Jika saja saya pengendara dari Singaraja, saya tidak akan mau repot untuk memutar kembali ke candikuning. Saya akan langsung bablas ke Denpasar misalnya. Jika ingin jajan saya bisa nanti mampir di pedagang lain di sepanjang jalan setelah short cut. Namun hal tersebut pasti berdampak bagi pedagang di sekitar pasar candi kuning. Jika dulu ada 2 jalur kendaraan, walaupun agak tersendat. Dagangannya bisa cukup laris. Mungkin sekarang malah lebih lesu karena hanya dilalui oleh 1 jalur saja dari arah Denpasar.

Saya pikir lebih tepat untuk membuat semacam bundaran agar bisa memberikan pilihan bagi pengguna jalan. Saya pikir hal tersebut akan lebih adil untuk pedagang di area Candi Kuning. Sehingga area lain tidak ditinggalkan begitu saja, malah membuat semacam ketimpangan karena infrastruktur tadi. Hal ini saya rasa terjadi pula di Jawa, ketika beberapa ruas tol ada di Jawa Tengah hingga Jawa Timur dibangun. Area yang tidak dilalui tol ekonominya lesu. Malah berduyun-duyun membangun di dekat tol. Ekonomi daerahnya malah mati.

Infrastruktur bisa beri dampak positif dan negatif, tapi yang jelas tidak harus memberikan dampak negatifnya bagi masyarakat sekitarnya. Setidaknya para pembuat kebijakan mencoba menganalisis permasalahannya juga, jangan ujug-ujug kapak tujeng membangun tanpa adanya analisis dampaknya secara menyeluruh. Semoga ada solusi.

230220

ekamul

Dosa-Dosa Buang Energi Fosil dan Cara Menebusnya

January 13, 2020 § Leave a comment

Belakangan saya merasa bersalah, banyak menggunakan kendaraan bermotor, banyak mengidupkan lampu padahal cukup dengan menghidupkan satu lampu, dan juga banyak buang-buang energi untk hal-hal yang sebenarnya dapat dihemat.

Jika kemudian energi bisa dikonversi secara perlahan menuju energi terbarukan, saya pikir tidak perlu melihat berita penyu mati di Riau karena uji coba PLTU.Atau melihat protes nelayan sekitar PLTU Celukan Bawang hingga saat ini. Atau juga kita merawat pembangkit listik tenaga matahari di beberapa titik di bali yang terbengkalai.

Energi terbarukan masih banyak dilihat sebagai teknologi yang mahal dan terlalu maju. Padahal dibanyak daerah pedalaman seperti di Waerebo atau bahkan di Anapura, Nepal. Penduduknya menggunakan tenaga air atau  mikro hidro untuk mencukupi energinya. Masyarakat di sana mengadopsi upaya mandiri untuk menghasilkan energinya sendiri, tanpa bantuan pln,atau pemerintah. Perawatannya dengan swadaya masyarakt. Mulai dari pemasangan, kemudian perbaikan, dan warga iuran untuk operasionalnya. Harga dan operasionalnya bahkan sangat kecil dibandingkan dengan pembangkit yang besar. Jejak karbonnya kecil sekali, jika berbanding PLTA yang musti mendatangkan batu bara di Kalimantan. Atau tenaga sampah sekalipun dengan pembakaran. Ditambah emisi yang dihasilkan berbahaya bagi manusia.

Indonesia belum semaju Swedia, atau negara Eropa soal pengurangan emisi. Negeri ini malah pengurangan emisinya tidak berjalan. Melihat fakta tersebut, apakah tidak buat kita berpikir untuk beralih pada energi terbarukan? Atau wacana biodisel dari sawit saya pikir tidak menjawab tantangan perubahan iklim dunia.

Fokus pengembagan keilmuan dan industri Indonesia haruslah pada upaya pengurangan emisi, dan keberlanjutan. Energi alternatif kita jauh lebih melimpah dari negara utara. Asalkan ada keinginan untuk memanfaatkannya pasti ada jalan. Walaupun alatnya sederhana, atau prisip beli, tiru, modifikasi tidak memalukan. Komitmen kita soal perubahan gaya hidup ke area tersebut patut dilakukan.

Contoh-contohnya cukup banyak, misalnya koperasi Amogasiddhi di Kesiman yang pakai tenaga surya, atau Bale Bengong markasnya pakai tenaga surya, atau Puku Camper yang mobil tendanya coba untuk mengambil energi dari matahari, atau banyak produk dengan tenaga listrik yang jauh lebih hemat dari kendaraan pakai energi fosil.

Saya pun ingin untuk pindah, walau masih dalam angan untuk punya sepeda listrik atau motor listik, rumah pakai energi surya, atau angin, dan bisa bangun sepeda energi kenetik. Saya janji untuk mencobanya nanti, sembari berusaha, kita bisa mencari informasinya dulu, berbagi, dan menyuarakannya dahulu kan?

Ekamul

Habis nonton sepeda kenetik buatan jerman.

Hidup Damai Mungkin Tak Terlalu Jauh, Adanya di Desa

January 12, 2020 § Leave a comment

Laptop rada berembun karena hujan mengguyur sejak tadi. Awal hujannya dari saya masih di pantai. Anginnya jelas tidak santai, awannya bergelayut dan berarak perlahan. Denpasar jadi adem dibanding tadi siang. Sambil menunggu hujan reda, berteduh, dan setel yutub.

 

Ada yang menarik di halaman awalnya, sebuah video dari kenalan saya di desa les, buleleng. Nama akunnya Cerita dari Desa, sedang menampilkan Chef Yudi, pemilik warung Sunset yang terkenal dengan pork ribsnya memasak nasi mengguh bebek. Dalam video berdurasi sekitar 20 menit itu, iya tengah duduk-duduk di depan talenan dan penggorengan. Ia dengan cekatan memotong bawang, menerangkan tips memasak bebek, dan mulai meracik masakan tersebut. Kemudian ia ambil bebek yang telah dipotong dimasukkan dalam wajan, menambahkan daun salam,bumbu,air dan terakhi nasi. Sungguh menggoda selera saya yang jauh di denpasar.saya lantas buat postingan di facebook untuk dibagikan pada khalayak lainnya. Ada beberapa video lainnya yang juga sangat menarik dari aku tersebut. Semuanya mengenai hal yang biasa dan keistimewaan hidup di desanya.

Gambaran ini mungkin saja terjadi terhadap video yang menarik lainnya. Namun bagi saya ada perasaan yang membuncah ketika bisa menonton dan membagikannya pada kawan-kawan lainnya. Saya terus mengikuti video terbarunya.saya pikir konten yang dibuat chef jero yudi dan timnya sangatlah berarti bagi saya yang tidak begitu banyak punya “previllage”. Maksudnya pengalaman-pengalaman yang mengesankan hidup di desa.

Saya sebagian orang kota, lahirnya saja di desa, tapi hidup hampir seluruhnya di kota. Tk, sd, smp,sma, kuliah seluruhnya di nusa dua, kuta, dan denpasar. Kerja dan bergaul juga di denpasar. Sedikit sekali punya teman di kampung sendiri. Kadang agak susah menyatu dengan kawan sebaya. Dengan kata lain pengalamannya juga berbeda kan.

Misalnya lihat postingan di twitter foto manjus di tukad, atau mancing lidung. Ada saja kemudian yang menanggapiya seperti saya, perasaannya ingin berada dalam perasaan yang sama.

Pernah sekali datang di festival sawah di tabanan, garapan bli Made Adnyana Ole dan masyarakat desanya. Ada banyak hal yang nempel dalam ingatan saya. Mereka main di sawah, ada lomba ngejuk bebek, ada yang melajah manyi, main layangan. Ada perasaan yang sama pada benak saya.

Atau jangan-jangan kehidupan perkotaan malah menjadi jenuh dengan kegiatan yang hampir sama setiap saat. Beberapa teman juga bilang jaen idup di desa. Kebutuhan di kota macam-macam, ada banyak jajanan, ada banyak hiburan, tapi kok ada perasaan yang tidak puas. Ada keiginan untuk sesuatu yang liyan, berbeda, dan memberi kesegaran pada hidup.

Di desa tidak pernah saya temukan kesusahan hidup yang ditangisi berhari-hari. Mereka punya penyaluran yang kreatif terhadap kekurangan. Lebih senang berkorban padahal tidak punya. Memberikan kegembiraan-kegembiraan ditengah kondisi yang tak memungkinkan. Orang desa ada pada tingkat keseimbangan yang sebenarnya. Walau kemudian larinya ke klenik kadang. Orang desa malah mampu menanggapi keadaan secara bijak. Kalau ilmunya namanya pasrah atau berserah. Konon menurut ajaran jawa kuno disebut sumarah.

Sumarah dalam pikiran saya malah mirip dengan moksa dalam hindu bali. Persamaannya adalah perasaan damai, tidak terikat pada kesedihan dan kesenangan, perasaan yang seimbang. Istila indonesianya mungkin bisa pakai padanan “merdesa” bukan merdeka. Walaupun saling terkait. Merdeka artinnya bebas. Sedang merdesa perasaan yang tercukupi, damai, sentausa.

Mungkin apa yang digambarkan dalam video chef yudi, melalui ekspresinya yang tenang, damai, atau perasaan kawan yang posting gambar pemandangan rumah di desa dengan tulisan jaen idup di desa, atau para masyarakat desa yang mengenalkan ragam budayanya melalui festival. Atau seperti saya lihat video masak-masak barusan bisa jadi macam pencarian yang sebenarnya dalam kehidupan. Hiruk pikuk tidak selamanya harus diarungi, hidup juga perlu bagian-bagian yang tenang, balik ke desa,melakukan hal yang mendasar. Sepertinya tujuan itu demikian.

 

#denpasar hujan

  • Recent Posts

  • Catagories

  • Archives

  • Twitter nih!

  • Hasil Foto Keliling

  • Follow Sudut jalan on WordPress.com