Bantu Layout Buku nih: Cerita-Cerita dari Kota Lulo

January 3, 2017 § 1 Comment

cover

Saya tengah mengerjakan buku hasil dokumentasi Workshop bersama yang diadakan di Kendari, sekitaran pertengahan lalu. Hasil kerjasama antara Universitas Tadulako dan juga Rumah Intaran serta Ruang 17 (Sebuah portal arsitektur online yang digagas Muh Darman). Sebenarnya hasil dokumentasi ini telah memasuki fase layout kedua. Dimana sebelumnya telah saya kerjakan beberapa bulan setelah Workshop berakhir.

Yang menarik dari pengerjaan buku tersebut tentu saja, melawan kebosanan untuk terus melanjutkan editingnya secara bertahap. Tipikal editornya yang kadang tidak mood mengerjakan bukunya selalu saja datang. Juga pekerjaan-perkejaan yang sebenarnya bisa dikerjakan dalam waktu yang berbeda. Tapi saya pikir berkomitmen juga penting untuk menyelesaikan buku tersebut. hahaha. Makanya saya memutuskan untuk membagikan progres kerjanya. Sekalian laporan untuk teman-teman UHO, juga menyemangati diri sendiri. « Read the rest of this entry »

Perlukah Bangunan Banjar Berubah?

November 23, 2016 § Leave a comment

Ditengah tenggat mengerjakan gambar konstruksi yang sangat mepet. Saya memutuskan menyalurkan energi negatif “ngedumel” saya lewat tulisan singkat ini. karena tengah dipaksa ketentuan pembiayaan oleh proyek pemerintah kabupaten yang mengharuskan kontruksi jalan pada januari depan. Ketergesaan kadang bisa berubah jadi ajaib, konstruksi bak bin salabim, anggaran yang terbatas-tas.

Kisi-kisi Rancangan Bale Banjar

Namun, yang jelas saya ingin tanyakan pada kawan-kawan (dan saya sendiri) haruskan sebuah bangunan sosial berubah? Banjar misalnya? Perubahan harus sesuai dengan kebutuhan warganya? Atau menuruti gengsi belaka?

Hal ini menjadi pertanyaan ketika dulu diminta untuk mengerjakan bale pemebatan di banjar saya. Ketika itu saya diminta untuk membuat sebuah bangunan untuk memasak dan juga mebat untuk upacara-upacara adat di Banjar. Hal tersebut terjadi begitu cepat. Berbarengan dengan adanya tipe bangunan serupa di banjar sebelah. Pegurus banjar “ngebet membuat hal yang serupa. Ketika gambar selesai (dan waktu itu saya masih kuliah jadi konstruksinya amat-amat sederhana dan  sesuai  arahan oleh pengurus banjar) kegiatan pengerjaan segera dilakukan. Ada hal yang tidak saya hitung ketika itu, Bale kulkul khas tahun 1968 disikat dan diratakan. Diganti dengan bale kulkul baru yang ada di lantai 2 mirip dengan bangunan banjar sebelah.

Kisi-Kisi Interiornya

Saya agak menyesal tidak memikirnya secara matang. Padahal hanya perlu waktu sedikit lagi bangunan bale kulkul tersebut mencapai umur 50 tahun, dan sah sebagai cagar budaya. Lalu hari ini sedang mengerjakan perbaikan banjar dengan tenggat  yang jelas sempit. Lantai 2. Sangat berbeda dengan eksisting hari ini. bangunannya atasnya wantilan dengan sisa bale kembar eksisting yang harus dilestarikan. Saya mencoba meraba-raba kebutuhan, proyeksi, dan juga kemungkinan-kemungkinan dimasa mendatang? Mungkin akan ada yang berubah?  Hanya waktu yang akan menyikap jawabannya.

3d-2

Kisi-Kisi Eksterior Bale Banjar

(Bukan) Penutup Merekam Bali

November 18, 2016 § Leave a comment

​Khidmat rasanya menulis ditemani senandung Efek Rumah Kaca. Musim hujan ini selalu mengingatkan saya akan Lagu “Desember”  grup musik asal Jakarta ini. Terlebih minggu ini terakhir Project bersama menulis di blog masing-masing bertajuk “ Merekam Bali”. Pekerjaan-pekerjaan menulis ini menemani hari-hari menunggu balasan pesan-pesan bersama pacar. Karena sudah hampir sebulan menjalin hubungan. Grup menulis ini walau hanya beberapa orang, dan responnya yang kembang-kempis, setidaknya akan jadi cerita bagi para penulisnya. 

Ada yang berhutang beberapa tulisan, karena sedang tidak ada di Bali. ada yang kadang terlewat karena beberapa urusan. Tapi bukan untuk mengisi saja di tiap minggunya, namun bagaimana cerita-cerita bisa memberi dampak untuk mengenal Bali secara dalam. Mulai dari permukaan hingga hal yang jauh sangat serius. Beberapa tulisan dari teman bahkan ikut kompetisi penulisan, salah satunya mendapatkan juara, satu lagi sedang menunggu pengumuman (saya rasa). Gembiranya menerima tanggapan yang menarik setelah tulisan-tulisan ini dipublikasikan. Perbincangan-perbincangan di kolom komentar media sosial, hingga sebuah tulisan di koran lokal yang menanggapi tulisan-tulisan yang tentu membuat hati sangat senang dan gembira.

Tulisan ini bukan Epilog, karena masih banyak yang ingin melanjutkan aktivitas yang menyenangkan ini. saya harap teman-teman yang tertarik untuk melakukan project berikutnya, lakukan saja. Seperti saran saya pada kawan-kawan panitia Reuni SMP angkatan tahun 2002 SMPN 1 Kuta, yang akan dihelat 11 desember mendatang. Berapapun yang ikut, laksanakan saja, karena toh yang penting dapat bertukar cerita itu saja. Begitupun dengan menulis blog, lakukan saja, jika harus ditunda jangan lama-lama, atau ketika bisa saat ini ya segera dikerjakan jangan ditunda. Semudah itu.

Terima kasih atas perhatian semuanya. Dan jelas ini bukan penutup! Tabik. 

​Yok, Ke Perpustakaan BIPR Sanur

November 16, 2016 § 2 Comments

Saya bukan orang yang lahir suka membaca. Budaya tahun 90-an membuat saya lebih menyukai tayangan televisi daripada bacaan-komik atau sejenisnya. Di era tersebut,televisi berusaha memenangkan hati penontonnya dengan banyak tayangan. Khusus anak-anak dengan kartun setengah hari ketika minggu, atau pada sore hari ketika lenggang. Atau tayangan tinju dan olahraga populer di waktu-waktu istirahat keluarga. Walau kini hanya tersisa adalah pelayanan tv pada pengiklan dan partai politik, saat itu ketergantungan kita pemuda-pemudi 90 ini tidak lepas dari televisi. Sampai harus pilih-pilih tayangan yang mengingatkan pada masa kecil, kartun.

Budaya lisan dan literasi di keluarga sebenarnya tidak mewah. Di rumah lebih banyak buku menu masakan dengan buku-buku kamus pariwisata praktis kepunyaan pada wisatawann yang ketinggalan ketika berkunjung ke restoran tempat bapak dan ibu saya bekerja. Hal itu juga membuat saya agak menyesal ketika mencanangkan gol membaca saya tahun ini sebanyak 20 buku di situs goodreads tahun ini. Angka tersebut sebenarnya cukup sedikit, karena rata-rata pelajar menengah di Amerika minimal membaca 25 buku. Artinya jumlah segitu tidak pantas untuk saya karena umurnya jauh dari anak-anak sekolah menengah. Atau angka 100 buku yang dicapai Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang dibaca ketika berada di AS. Jelas angka-angka yang tidak terkejar.

Jauh-jauh saya menimang capaian tersebut akankah tercapai. Beberapakali saya ingin mengganti atau mengeset ulang  angkanya, jelas hal yang memalukan. Tapi sampai atau tidak, itu akan jadi rapor sendiri bagi saya. Membaca adalah soal sikap, ada konsistensi kita untuk bertanggung jawab menelusuri tiap jengkal kalimatnya, namun juga soal menentukan kebutuhan materi yang benar-benar diperlukan, kegembiraan ketika mendapatkan suatu hiburan dalam bacaan, dan kebermanfaatan ilmu atas pengetahuan yang didapatkan.

Saya tengah berputar-putar pada wacana membaca ini sejak lama. Buku-buku sebenarnya sangat mudah untuk diakses saat ini. Terlebih era digital membuat kita dapat menemukan berbagai bacaan, sekehendak kita. kadang saya jadi berpikir saat mudah mendapatkan keistimewaan tersebut, kita tidak menyambutnya secara antusias. Kita manusia yang kurang antusias akan sesuatu. Saat akses itu ada kita selalu berminat pada hal-hal yang jelas tidak substansial. « Read the rest of this entry »

Tenang, Macet itu Hanya Indikator Awal..

November 9, 2016 § 1 Comment

Menulis dengan tenggat yang minim mungkin bisa jadi latihan yang sepadan untuk mengasah kemampuan sebagai wartawan. Tiap hari harus menyetorkan beberapa tulisan yang sedari pagi masuk catatan editor. Penugasan dan sudut pandang beritanya ditentukan agar lebih menarik masuk koran. Pagi hingga siang liputan, sore hari tulisan harus masuk dapur redaksi. Malam editing serta konfirmasi data, dan terakhir tugas para penata letak yang akan menyesuaikan berita yang masuk ke dalam halaman koran.

Namun saya, yang punya niat setengah-setengah jadi pewarta dan setengahnya jadi arsitek, atau harus dibagi menjadi sepertiganya untuk seorang yang  biasa-biasa saja. Agaknya begitu rumit. Maka, jika ada kekurangan yang luar biasa terhadap tulisan ini. Ya saya minta maaf. Namun berdasarkan pada rapat via line yang begitu singkat, saya menulis secara rutin tiap selasa (dan minggu ini masuk minggu ketujuh) di blog milik saya mengenai Bali. Walau hanya sampai minggu kedelapan (tepatnya hanya sampai minggu depan), menulis mengenai pulau kecil ini harus berlanjut. Walaupun kadang topiknya terasa bergejolak, ada yang serius ada yang tidak minimal menjadi catatan tersendiri untuk para penulisnya. Suksma!

Bermacet-Macet Ria

Bagi warga Denpasar dan Badung, dan kota-kota penyangga lainya seperti gianyar dan tabanan, seolah harus berjuang hingga ke rumah tiap sore hari. Jalanan penuh asap kendaraan, klakson-klakson begitu nyaring di telinga merupakan santapan sehari-hari para masyarakat sekitaran kota. Konsentrasi pekerja yang tinggi di perkotaan, seperti Denpasar dan Badung selatan telah menyebabkan jalan-jalanan kita yang super mini jadi sesak dan juga makin tidak terkendali. Sore in mungkin salah satu sore yang pasti begitu naas bagi saya.

img20161108184712-01-01

Sekitar satu jam berhenti dan menonton kemacetan sore ini, di sekitaran Daerah Kwanji, Dalung.

Niat menghindari sengketa macet di sekitaran Canggu-Kerobokan, via Kwanji, Dalung harus menemui kenyataan bertemu hal yang serupa. Padahal sebelumnya disekitaran Gunung Agung-Mahendradatta juga tidak jauh berbeda. Bahkan pengendara motor-lainnya yang sempat saya ajak ngobrol ketika menunggu macet. Kondisi di beberapa ruas jalan lain seperti Sempidi-kapal dan sekitarnya juga macet tiap sore. Hujan besar tadi sore (08 November 2016) sekitaran Denpasar Barat, hingga Badung turut menjadi faktor bagi pengendara pulang pada saat yang bersamaan. « Read the rest of this entry »

Catatan Residensi Jengki Madura 2016: Beraksitektur melalui Dokumentasi Arsitektur

November 2, 2016 § Leave a comment

Seorang teman mengajak untuk menonton film Tiga Dara, besutan Usmar Ismail itu digelar di Ruang terbuka Bentara Budaya Bali, Ketewel, Gianyar di penghujung September. Pemutaran bergaya gerimis bubar (Misbar) ini menyedot banyak penonton. Saya begitu menikmati filmnya. Alih-alih menyukai pemerannya yang berkarakter, lucu, centil. Atau lagu-lagu yang menarik, lirik-liriknya yang tandas bertanya soal mapannya seorang lelaki yang harus mempersunting seorang istri. Saya malah tertarik pada latarnya, gaya rumah  ala Indonesia yang berkembang pada periode tahun 1950-1960.  Dikenal dengan gaya jengki atau dikenal dengan arsitektur jengki.

Kenampakan rumah dan latar cerita film Tiga Dara yang mengambil latar kota Jakarta pasca kemerdekaan. Tampak bangunan dengan atap pelana dengan dinding miring, jendela bulat, dan kolom-kolom miring mengecil di bagian bawah yang merupakan identitas bangunan bergaya Jengki.

Kenampakan rumah dan latar cerita film Tiga Dara yang mengambil latar kota Jakarta pasca kemerdekaan. Tampak bangunan dengan atap pelana dengan dinding miring, jendela bulat, dan kolom-kolom miring mengecil di bagian bawah yang merupakan identitas bangunan bergaya Jengki.

Kolom-kolom miring mengecil ke bawah, plat beton menaungi teras, gewel dengan tekstur material yang kaya, ekspolarasi fasade bangunan dengan krawang, jendela dengan segibanyak atau bulat engkap dengan topinya, dan atap pelana dengan kemiringan yang cukup. Hal tersebut mengingatkan saya akan Residensi Jengki Madura yang saya ikuti pada awal hingga pertengahan bulan September 2016.

14046140_1767282536894132_1018614707032105632_n

Program Residensi Jengki Madura 2016

Residensi Jengki Madura difokuskan untuk medokumentasikan rumah dan karya arsitektur yang berhubungan erat dengan jurangan tembakau. Dokumentasi tersebut diadakan di dua desa yang terletak Kabupaten Sumenep, yaitu Kapedi dan Prenduan. Dua desa tersebut dikenal sebagai daerah pemasok tembakau ke pabrik rokok di Pulau Jawa. Rumah-rumah bergaya jengki tersebut dibangun antara 1950-1975. Selain arsitektur, tim juga mendokumentasikan pemiliknya melalui kacamata antropologi. Hubungan sosial, ekonomi, budaya, agama, politik juga turut menjelaskan bagaimana arsitektur ini dapat hadir di desa tersebut. « Read the rest of this entry »

Mabesikan Festival, yang Terlewat Minggu Lalu

November 1, 2016 § Leave a comment

54981cc9754dfeceef621018f28d6867

Poster Mabesikan Festival (sumber).

Masih terekam jelas penyelenggaraan mabesikan fest beberapa minggu lalu. Yang jelas teringat tentu saja gurauan dengan kawan-kawan yang jarang bertemu. Mereka adalah teman-teman yang bekerja di pelbagai sektor, terutama kreatif, ada ilustrator, artis, komikus, ada arsitek, penulis, seniman dan juga tidak ketinggalan wartawan. Aktivis penggerak sosial yang hanya dapat dilihat di aksi-aksi jalanan dan layar gadget bisa ditemukan di sini. Mabesikan Festival merupakan festival yang “memamerkan” karya-karya dan juga project seni yang dilakukan satu tahun belakangan. Para seniman dan juga komunitas yang berpameran mendapatkan hibah seni untuk merespon berbagai isu, seperti agraria, kekerasan, lingkungan, dan juga pemberdayaan perempuan.

Digagas oleh SFCG (Search Of Common Ground) dan kedutaan Besar Denmark, acara yang dihelat di desa budaya Kertalangu ini terasa sangat penuh dan beragam. Stand pameran untuk para penerima hibah, stand pameran produk, makanan, dan panggung musik mengisi ruang-ruang di Kertalangu. Brosur-brosur komunitas, informasi tentang kerja-kerja para aktivis lingkungan, ilustrasi atau poster aksi, dan seni dari plastik juga dapat ditemukan di arena pameran. « Read the rest of this entry »