Pindah Ke Mars Saja

January 15, 2012 § Leave a comment

“Mau dibawa kemana pembangunan bali?”

Bali Itu Spirit.

Pertanyaan yang sangat relevan di bicarakan kekinian. Bali menjadi ramai dengan gegap gempita pembangunan pulau kecil. Begitu banyak keinginan penghuninya merubah wajah Bali. Pemerintah juga mengambil bagian penting dalam menentukan kebijakan, berbagi proyek dengan pihak swasta maupun investor. Investasi berjalan lancar, bak tak akan ada habisnya. Berbagai pembangunan meningkat sarana, keperluan publik dan investasi berjalan seiring pembangunan destinasi terbaik di dunia. Target 4 juta wisatawan asing tahun depan mungkin bukan isapan jempol belaka. Mengingat Bali menjadi sorotan serta sentral perhatian dunia, menunggu perhelatan akbar pertemuan Negara-Negara Ekonomi Pasifik (APEC) 2013.Sebelum menuju perhelatannya. 2009 pemerintah membuat Peraturan Daerah no. 16 tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) Bali sebagai tindak lanjut akan Undang-Undang no. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang Nasional. Dan kejutan, Bali menjadi propinsi yang kedua yang menyusun perda tata ruang dari 33 propinsi. sekaligus menyabet penghargaan dari pemerintah pusat atas kerja kerasnya. Menuju pelaksanaan perda ini, awal 2010 bisik- bisik pemerintah kabupaten kota mulai pasang badan menolak Perda ini, dianggap mampu mengurangi investasi, mengungkit masalah radius kesucian pura, aturan progresif untuk bangunan yang melanggar. Ketakutan terangkum jelas ketika pada pimpinan kabupaten menjadi inferior dengan pemerintah provinsi, serta elemen masyarakat (yang ketika itu mengatasnamakan Forum Peduli Gumi Bali. Mosi yang diajukan kepada pimpinan provinsi, dan debat-debat hadir dengan keras di berbagai kalangan. Termasuk mahasiswa dan pelajar Bali. Demonstrasi, aksi teatrikal jalanan turut pula meramaikannya. Seminar- seminar yang difasilitasi lembaga swadaya masyarakat tidak mampu meredakan konflik kepentingan yang tersaji begitu saja di depan mata. Bali Post sebagai koran lokal menjadi semacam surat kabar berbayar untuk mengajukan statment masing – masing pihak berkepentingan. Dan kabar terakhir, Gubernur Made Mangku Pastika mengajukan Moratorium pembangunan daerah Bali Selatan.

Paradoks 

RTRWP sebagai tuntunan pembagunan, grand design pembangunan Bali sampai 2029. Harusnya menjadi tonggak perjuangan akan keadilan pembangunan di Bali. Hutan-hutan lindung tak lantas menjadi hutan produksi, sawah abadi tak menjadi view villa tanpa ada kompensasi yang berarti. Hanya dengan mengubah bunyi pasalnya, konon harganya sampai milyaran per 1 kata. Bukan lagi rahasia umum bukan?Apakah Perda no. 16 sudah final? Kenyataannya ada beberapa pasal yang menjadikannya janggal pada pasal 29 dan 30 sebagai penuntun kebijakan masalah transportasi, mengadakan klausul pembangunan bandara baru di Buleleng. Akan terdapat 3 bandara, sebagai pulau kecil bahkan lebih kecil dari Jakarta. Haruskah memiliki 3 bandara.Apakah akan mubazir? Dimana perluasan akan Bandara Ngurah Rai dilaksanakan dengan menggusur perumahan pegawai dan masyarakat sekitarnya. Investasi bandara buleleng berada dan dikelola oleh perusahaan India, bukan oleh pemerintah / BUMN milik pemerintah. Yang dimana pembagian keuntungan tak akan 50%, toh hanya pajak saja. Alasan pemerataan pembangunan pariwisata, alasan yang terlalu mengada-ada, toh pembangunan pariwisata kini tidak merata. Beberapa objek pariwisata di banyak kawasan tidak terencana dan cendurung dibiarkan oleh pemerintah. Visibility studies untuk beberapa tempat di Buleleng cenderung tidak memadai, karena wilayah daratan landai sangat sempit dan didominasi bukit. Teringat dengan kecelakaan pesawat PANAM pada tahun 1974 di Gunung Patas dekat Gerokgak.Apakah karena kedekatan Menteri Pariwisata yang notabene berasal dari Bali dengan SBY, terkait pegembangan pulau kecil ini menghadapi APEC. Dan Jelas pembangunan bandara akan menggusur masyarakat, dimana lahan hampir 1000hektar akan terbangun menutupi areal sawah, perkebunan, serta hutan. Serba- salah ketika polemik pembangungan paradoks ini, jikalau ditinjau dari salah satu pihak ada banyak hal yang mesti dikorbankan. Jika mendukung revisi, banyak tanah yang mesti beralih jd akomodasi pariwisata, banyak kawasan suci akan terbangun kepentingan mass tourism. Dan jika anti revisi, kita menerima klausul yang jelas menyisihkan masyarakat pula. Mestikah polemik harus bergejolak, menutupi sebuah rencana besar lain yang merugikan pula?

Bagaimana  Bali Kedepan? 

persembahan ke sawah, sarana untuk manusia Bali mensyukuri berkah Tuhan. lantas kalau tidak ada sawah, mungkin budaya itu PUNAH

Kita melihat problematika yang begitu besar pada pulau ini, entah menyebutnya sebagai surga, atau yang lain. Masyarakat harus mulai memilah dan berpikir menyuarakan keluhan, tak lagi diam. Semakin diam semakin senang orang berduit menguras peluh rakyat. Kesadaran, akan nasib anak-anak yang nanti tinggal di tanah moyangnya. Haruskah tergusur. Haruskah mereka tinggal di rusun-rusun sempit, hampir punah layaknya orang Indian Amerika, Orang –Orang Betawi yang terhimpit pembangunan Ibukota yang melaju bak Jet Shukoi. Serbuan masalah yang melanda. Urbanisasi besar-besaran, sampah, dilema lingkungan, masalah sosial, mass tourism, budaya, investasi. Arah pembanguan Bali, begitu kacau kalau perencanaan pulau dan pembangunan tidak mengacu pada “One Island Management”. Kabupaten menjadi seenaknya membangun, villa seenaknya berdiri, dan bahkan aturan jelas dilanggar, pelang peraturan pembangunan lahan hijau bergeser setiap ada pembangunan. Entah kemana kita nanti. Apa mau pindah ke Mars?

*ekamul.2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pindah Ke Mars Saja at Sudut jalan.

meta

%d bloggers like this: