Antara Studio, Kamu, dan Entah Siapa Lagi

May 21, 2012 § 3 Comments

Gambar

berusaha menangkap esensi cahaya, sejauh mana manusia mampu menangkap keindahan itu ada dalam hal-hal yang sederhana :)

Mungkin perlu buat puisi dulu sebelum merealisasikan membuat tugas studio yang tiba-tiba bisa terserang kantuk. Banyak hari ini yang saya lihat melalui mata dan hati ini. terlalu banyak yang bisa dirasakan hati sekecil ini. untuk seorang yang baru merangkak menjalani kehidupan yang begitu luas. Bak samudra dan daratan kehidupan yang tiada harus dijelajahi, diwaktu yang begitu sempit hidup itu. Tapi adil ketika banyak orang yang ingin merasakan saripati kehidupan dan Tuhan pasti akan memberikan kesempatan yang lebih. Jika dibandingkan dengan orang yang legowo akan hidup. Terima saja. (ah pemikiran yang terbalik dulu, terasa bijaksana terkadang). Sayang mereka belum pernah masuk dalam hidup, duka itu terkadang memberikan pengalaman yang terbaik bagi manusia.

Aku, hanya rumput yang kadang bergoyang akan hembusan angin kadang ada pulanya rumput begitu goyahnya melupakan angin untuk bergerak. Dan bertanyalah mengapa engkau bergoyang dan kadang tidak. Itulah hidup, lets it flow if you want, reach the wind. Bersiulah dan angin menyapamu dan memelukmu dengan lembut dan perlahan.

Bukan begitu, manusia dengan hidup bersusur batas antara mati dan hidupmu. Pematang itu begitu luas  saling terhubung entah putus dalam, bergelombang kadang naik, turun, agak terjal, bersebelahan dengan jurang, dan terkoneksi dengan pematang lain. Yang menuntun setiap pengguna untuk bertegur sapa, atau berjalan dan membangun pematang baru. Persimpangan menunggu sedikit kelokan. Memberikan diri muu jeda untuk sekedar melihat indahnya pemandangan. Yang menurut mereka para orang-orang kota begitu menyebalkan. Bukalah hatimu, tulus, bersyukur, betapa Tuhan adil menciptakan setiap inci dirimu. Entah ini merupakan sajak akan keputus asaan, atau senandung gembira, entah sedikit prosa. Tapi itu yang kusuka berbicara padamu. Dan jujur.

Malam ini ditemani sereal, dan malam begitu gelap. Tapi begitu banyak bintang, entah hujannya kemana. Mungkin dia hanya sejenak. Mungkin dia khilaf kan hari ini musim kemarau, harusnya hujannya tidak ada. Berseru.

Lupakan sejenak hiruk pikuk pilkada, pemilihan umum, uang, politik, diskusi, buku, tugas, komputer, hubungan mu dengan seorang, selingkuhan, dosen galak, kata-kata puitis. Lega rasanya bisa mengelar diri tanpa batasan. Ekspresi yang singkat, dengan berbagai bnyak kosakata yang kadang terlupa, melihat betapa indahnya kata-kata. Cuma retorika, tapi ketika bersambung dengan kata lain ini kuat. Menampilkan banyak makna, entah apakah ini prosa.  Indah sekali berbagi tadi, itu membuat manusia sepertiku sederajat, sama bersaudara, dan memanusikan manusia. Jadi orang lain itu bagian hidupmu. Dan kader itu bagian dirimu pula. (entah organisasi akan dibahas pula saya rasa  tidak), bukan ranah nya. Ini kontemplasi dini hari. Mata kok mulai kantuk tapi masih sedia 2 bungkus kopi dan sebungkus sereal diatas meja dan dapur. Tak perlu khawatir kelaparan karena tadi telah berbagi, dan walaupun sedikit tapi ketika semua senang aku juga kenyang dengan senyuman dan cerita-cerita yang begitu menarik. Kadang “Walekan” menjadi cara yang ampuh membangun saling mengerti dan mengingatkan. Aku baru sadar, materialisme dialektik itu tidak dibangun atas komtemplasi yang dalam dalam diri, tapi orang lain melakukan antitesa terhadap tesis yang kita pegang. Credo namannya kurasa, aliran dan bahkan permainan akan fisik (agak sarkas terkadang) tapi tahu situasi perlu loh.

Kemana lagi, ke Jakarta, atau Bali. sudahlah aku hanya telah sampai dirumah dengan rasa lelah, terlalu banyak yang mesti dipikirkan, kadang entah pikiran itu kemana, inspirasi itu begitu saja, menangkapnya berupa kupu-kupu akan kata-kata, gambar, bakan chart, masuk dan lewat kiri keluar kanan. Kreatif itu begitu kau menangkap kredo2, dan suara –suara Atman didalam hati mu. Dia berbisik dengan pelan. Mana IDEMU? Hahahahhaha.

Ekamul

19 Mei Dini Hari. 0:11

Advertisements

Tagged: , , ,

§ 3 Responses to Antara Studio, Kamu, dan Entah Siapa Lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Antara Studio, Kamu, dan Entah Siapa Lagi at Sudut jalan.

meta

%d bloggers like this: