Dari Kedelai Lokal, Menuju Kemandirian Pangan

February 10, 2014 § Leave a comment

Ada sebuah kabar yang baik mungkin dari dunia pertanian indonesia, kenapa tidak mungkin hampir setengah masyarakat Indonesia tahu adanya bibit kedelai kualitas baik hasil negeri sendiri. Mungkin hanya lewat layar televisi, namun begitu jernih memprovokasi dibuatnya tulisan ini, jadi menurut saya Indonesia masih punya harapan.

Barusan datang dari rumah sakit menjeguk suadara sepupu yang istrinya baru melahirkan. Anaknya laki- laki namun saya masih lupa menanyakan namanya. Namun berdasarkan cerita bibi, anaknya sehat berat badannya diatas rata- rata yaitu 3,9, panjangnya 50 cm. Datang dari sana, saya menghidupkan saluran televisi dan menyetel beberapa saluran. Setelah menelaah seluruh salurannya saya tertambat untuk menyaksikan feature dan penelusuran dari reporter Metro TV mengenai kedelai.

Ditengah kisruh harga kedelai yang melambung ditengah gempuran kedelai amerika. Dan bahkan hiruk pikuk para cukong kedelai. Kedelai asli indonesia mampu memiliki kualitas yang jauh lebih baik dari kedelai yang di impor dari negeri paman sam. Kenapa demikian? Kedelai jenis grobongan (penemunya Bapak Tjandramukti) memiliki sifat yang baik, punya ketahanan terhadap hama, dan memiliki kualitas (dari segi warna, dan ukuran) yang lebih baik. Plus yang paling membanggakan ditanam secara organik di sekitaran Jawa Tengah.

Dalam wawancara terhadap peneliti dari Inggris, Prof. Jo. Yang telah melakukan penelitian terhadap varietas tersebut menuturkan pengalamannya meneliti, dan berkecimpung dalam pengembangan jenis kedelai tersebut. Serta menghadirkan akedemisi dari Universitas Tunas Pembangunan, dan mahasiswa UTP (yang merupakan anak petani yang mendapatkan beasiswa untuk kuliah pertanian) serta dari seorang pengerajn tempe di wilayah Solo, Jawa Tengah.

Satu kesimpulan saya, kita tidak habis. Bahkan dalam tulisannya,  Dahlan Iskan optimis untuk dapat memenuhi kebutuhan kedelai nasional dengan varietas ini, Kita masih memiliki harapan untuk mengurangi defisit kebutuhan kedelai nasional yang selama ini kita penuhi dari impor. Kemudian malah membuat para mafia kedelai perutnya membuncit. Hal itu makin menguatkan bahwa negara indonesia, dikuasai pedagang, yang tidak ingin negeri yang mandiri, membonceng kepentingan diri dan asing. Dimana berbagai produk pertanian harus kita datangkan jauh-jauh (menghasilkan carbon footprint yang tinggi), harganya selangit (ditambah ppn, dan sogok sana- sini untuk meloloskan kuota impornya) dan dipermainkan di pasaran. 

Pemerintah dalam hal ini juga punya peran terhadap hal tersebut, jadi makin kentara peranan menteri pertanian yang belakangan absen, terlalu banyak mengambil urusan politik, dan belakangan dituduh sebagai mafia dalam berbagai kebijakan kuota impor. Pemerintah tidak mau bekerja keras untuk urusan perut bangsanya. Masyarakat diarahkan untuk gandrung akan olahan dan produk luar negeri.

Namun kita punya harapan, tinggal kita mau untuk melihat apa yang kita punya, dan siap untuk bekerja mengembangkannya. Semoga harapan itu tetap ada, seperti bayi yang masih memiliki jalan yang panjang untuk tumbuh menjadi harapan bagi seluruh seisi rumahnya dan bahkan seluruh masyarakatnya, amin!

211113

Ulang tahun putri perdana sari ke- 23

Advertisements

Tagged: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Dari Kedelai Lokal, Menuju Kemandirian Pangan at Sudut jalan.

meta

%d bloggers like this: