Hening: Mendengar Suara Alam, Mendengar Kehendak Semesta

February 15, 2015 § 6 Comments

Harus duduk selama 70 menit di tengah tegalan, dengan pohon-pohon durian dan rambutan yang berbuah dengan lebatnya. Hanya duduk dengan tenang tanpa bicara sambil mendengarkan suara-suara alam. Melalui “perenungan” tersebut, banyak hal yang dapat saya lihat, dengarkan, dan rasakan.

140220151102

Paviliun yang saya tempati di Rumah Intaran.

Pagi hari seperti biasa di Rumah Intaran, desing suara mesin-mesin penghalus kayu memecah sunyi di Bengkala. Para artisan sudah mulai bekerja di workshop. Bak pengingat bahwa hari sudah cukup siang. Bergegas untuk menuju dapur dan memasak pisang-pisang yang tergantung di tiang dapur. Seperti hari sebelumnya, rutinitas yang sama, mengunyah sehelai daun Pohon Intaran/ Nimba, dengan beberapa pisang ketip atau kepok dan secara kebetulan hari ini pisang tanduk rebus, tidak lupa ditemani beberapa gelas kecil teh jahe.

140220151087

Sarapan di RI, sepotong ubi (biasanya pisang rebus) dan sehelai Intaran.

Sudah seminggu lebih berada di rumah Intaran, beberapa tugas kantor dan beberapa tugas kecil dan besar telah dijelaskan oleh Gede Kresna, pemilik serta inisiator gerakan dari Rumah Perlawanan ini. Setidaknya ia telah membangunnya kurang lebih empat tahun lalu di desa Bengkala, Buleleng. Bersama dengan istri sekaligus partner kerjanya, Ayu Gayatri  yang rela berpindah ke desa dan memulai gerakan perlawanan terhadap nilai-nilai instan setiap hari. Bersama dengan para tukang kayu (atau yang mereka sebut dengan artisan), mereka menjalankan Studio arsitektur dan juga gerakan bernama Rumah Intaran atau RI.

140220151107

Pemandagan di Dapur Rumah Intaran waktu hujan.

Saya dan dua teman lainnya, Rofida biasa saya sapa Fida dan Hafsah pendeknya Haps berkesempatan untuk mengikuti Program “300 Hari Di Rumah Intaran: Bekerja, Belajar lagi, dan Menulis Buku”. Kami mulai mengikuti program tersebut sejak 2 februari hingga 2 November 2015 mendatang. Program tersebut terbagi menjadi beberapa bagian, pertama inisiasi, hingga pada akhirnya mengikuti seluruh rangkaian kegiatannya baik, berupa penugasan sebagai junior arsitek, menulis beberapa buku, melakukan beberapa studi yang digagas Rumah Intaran, terutama mengenai Arsitektur, Sosial Budaya, Pariwisata, hingga Lingkungan.

Sebagai langkah awal untuk mengerjakan berbagai hal tersebut, menurut Gede Kresna diperlukan sebuah kacamata atau sudut pandang yang sama. Inisiasi atau orientasi dilaksanakan kepada peserta program yang diselenggarakan oleh Rumah Intaran. Baik untuk program Magang (Internship) dan juga untuk program yang kami ikuti.

Inisiasi Satu: Tegalan di Desa Sudaji

Sudaji, mungkin dapat diibaratkan sebagai “Mekarsari” bagi Bali. Itu yang saya sampaikan pada Fida dan Haps sejak pertama kali berkunjung ke Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Buleleng. Sudaji merupakan salah satu wilayah penghasil buah-buahan serta bibit berbagai macam tanaman. Masyarakatnya telah mengembangkan berbagai bibit unggul buah-buahan, serta sentra bagi buah-buahan di Bali. Pernah suatu saat ketika berada di Bangli, saya iseng menanyakan bibit buah di pedangang tanaman, hampir seluruhnya didatangkan dari desa tersebut.

DSC_0864

Pemandangan dari Tegalan milik Gede Suhar. (Fida)

Di sepanjang jalan desa, setiap pekarangan penduduk ditumbuhi berbagai tanaman buah. Rambutan, nangka, wani, manggis, dan yang paling khas tentunya durian. Durian di Sudaji, Pohonnya relatif pendek, buahnya banyak, dan ukurannya relatif besar. Mungkin banyak lagi hal-hal yang menarik dari Sudaji, tapi tanaman buah merupakan ikon yang membuat desa di perbukitan ini begitu terkenal.

Gede Suhar, salah seorang tokoh di Desa Sudaji menyambut kami di kediamannya. Sebuah Kori Agung dan empat buah lumbung dapat dilihat dari halaman luar rumahnya. Dua hal tersebut menyiratkan beberapa hal. Pertama, Kori Agung dan empat lumbung tersebut menjelaskan status keluarganya sebagai keluarga yang cukup terpandang dan berada. Kedua, kedua hal tersebut menjelaskan bahwa sejak dahulu hingga kini keluarganya merupakan bagian dari tokoh-tokoh desa yang menjaga eksistensi desa dan adat istiadat setempat.

DSC_0845 edit

Berbincang dengan Bli Gede Suhar di Kediamannya di Desa Sudaji. (Haps)

Namun di sisi yang lain, kami melihat hal-hal yang sederhana yang dilakukan oleh keluarganya. Ia membuka rumahnya sebagai penginapan untuk turis yang berkunjung ke Sudaji, hal itu dikarenakan anggota keluarganya banyak yang merantau, sehingga banyak ruang-ruang kosong. Hal yang lain adalah istrinya berdagang makanan. Sate plecing, Blayag, Serapah menjadi andalan warungnya, yang ia dan istrinya buka di depan gerbang pintu rumahnya. Saking larisnya, sambal plecingnya diburu ketika dagangan lain telah habis.

Ia menyambut kami untuk kedua kalinya. Ada dua agenda yang kami rencanakan di Sudaji, salah satunya untuk mengadakan inisiasi bagi penghuni baru di Rumah Intaran, yaitu kami bertiga. Inisiasi diadakan di salah dan tegalan milik Gede Suhar. Menuju lokasi kami disuguhkan dengan pemandangan pohon-pohon buah yang memanjakan mata, melewati beberapa pura dengan ukiran khas buleleng, dan juga rumah-rumah tua dengan bata yang direkatkan dengan tanah.

Sebuah Pondok, dari bata dan tanah berada di tengah-tengah persawahan. Disebelahnya dilengkapi dengan sebuah bale bengong dan juga kamar mandi, di tengah-tengah area tersebut terdapat pohon kenanga (sandat) serta bibit durian. Pemandangan di belakang pondok tersebut sangat menarik, sungai dengan pintu air, serta jejeran perbukitan hijau yang terlihat seolah saling mendahului.

Pondok milik Bli Gede Suhar dengan latar belakang perbukitan. (Rofida)

Pondok milik Bli Gede Suhar dengan latar belakang perbukitan. (Fida)

Inisiasi akan diadakan di sekeliling pondok. Sebelum memulainya,  Gede Kresna menjelaskan apa yang dilakukan selama inisiasi, ada dua hal yang harus dilakukan yaitu diam dan mendengarkan suara alam. Ayu Gayatri yang selalu mendampingi kami selama program ini, bertugas menghitung waktu dan mendokumentasikan semua proses inisiasi. Yap Waktu dimulai, demikian aba-aba Gede Kresna memulai proses orientasi pertama ini. Kami bertiga memulai menelusur tegalan tanpa alas kaki mencari tempat yang tenang untuk mendengar suara alam, mengetahui setiap kata-kata kehendak semesta.

Mendengar Suara Alam, Mendengar Kehendak Semesta

Kami memilih sendiri tempat-tempat yang dianggap nyaman untuk melihat dan mendengarkan suara alam. Kami dilarang untuk saling berbicara sekaligus juga untuk duduk saling berjauhan, agar tidak terganggu satu sama lain. Fida memilih duduk di depan pohon Durian yang buahnya cukup banyak dengan latar belakang persawahan dan bukit, sedangkan Haps memilih untuk duduk di depan pohon singkong dan pepaya yang bengkok serta di sebelahnya terdapat pohon durian dengan buah menggantung pendek dekat dengan tanah. Saya memilih untuk duduk di bagian yang cukup terbuka  berhadapan dengan pohon cempaka, cengkeh dan pohon wani, dengan latar belakang bukit yang sama seperti dua teman saya.

Pemandangan dari tempat "semedi" di Tegalan Bli Gede Suhar.

Pemandangan dari tempat “semedi” di Tegalan Bli Gede Suhar.

Saya memetik beberapa lembar daun talas sebagai alas duduk, dengan posisi duduk bersila dimulailah ritual perenungan tersebut. Saya mencoba untuk memejamkan mata seolah seperti seorang pertapa yang menjalani meditasi keras selama berhari-hari. Belum genap duduk selama sepuluh menit,  seorang bapak datang menghampiri saya sambil membawa beberapa tandan pisang. Sejak duduk di tempat tersebut, saya memperhatikannya tengah sibuk menganyunkan sabitnya ke beberapa pohon pisang di bagian bawah tegalan. Kemudian ia bertanya sedang apa saya berada di tegalan tersebut.

Ngujang driki gus?” Tanya bapak tersebut sambil memanggul tandan pisang tersebut di punggungnya.

Mlali pak, tiang mriki sareng Bapak Gede Suhar,” sahut saya.

“ Gede Suhar? ” tanyanya kembali

Ring beten alihin buluan gus, Pak Gede Suhar ngelahin tegalanne,” usulnya pada saya.

Selepas itu, saya kembali melanjutkan “meditasi diam” tersebut. Udara yang sejuk dan tajuk pohon-pohon yang memberikan perlindungan terhadap sinar matahari. Suara-suara berdesing dari serangga-serangga yang  berterbangan di sekitar saya, suara kicau burung-burung yang saling bersahutan atau suara dengung sayap tonggeret yang melengking. Hal-hal tersebut yang seolah mengisi suara latar dari pemandangan kelas berat di depan mata saya. Pemandangan dan suara tersebut seperti antitesa dari hiruk pikuknya kota dan bunyi klakson di tengah kemacetan. Bahkan yang paling “jahat” (istilah yang dipakai oleh teman-teman di Flores untuk mengganti kata keren) adalah semacam terapi dari ketergantungan kita akan teknologi. Setidaknya memberikan waktu bagi diri untuk melihat kedalam, berpikir tentang banyak hal, dan mengenali diri lebih jauh lagi.

70 menit telah berlalu, tidak terasa dan diselingi rasa kantuk. Hujan mulai turun rintik-rintik, terdengar suara cipratan air dari daun. Mungkin akan semakin deras pikir saya. Saya segera menengok keatas, terlihat Haps memanggil saya untuk kembali ke Pondok. Mungkin takut akan hujannya semakin deras, serta Ayu Gayatri memanggil kami bertiga untuk segera kembali.

Rambutan tegalan Bli Gede Suhar.

Rambutan dari Tegalan Bli Gede Suhar.

Di Pondok, Gede Kresna dan Gede Suhar telah menunggu kami. Seikat rambutan yang baru saja dipetik untuk mengobati rasa lapar kami, karena telah lewat jam makan siang. Inisiasi ini dilanjutkan dengan menjawab 10 pertanyaan. Yang berbeda adalah menjawab dan membacakannya di tengah-tengah sawah di dekat pondok. Sawah dengan padi yang baru ditanam serta kecebong yang berkeliaran, kami mencoba untuk berjalan menuju tengah sawah. Setelah berada di lokasi yang diinginkan, Inisiator program ini membacakan pertanyaannya satu persatu. Kami diminta untuk menjawabnya dengan cepat dengan waktu menjawab yang terbatas. Setiap selesai pertanyaan dan menjawabnya kami diminta untuk membacakannya. Kemudian Ia tambahkan penjelasan-penjelasan mengenai pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Setidaknya beberapa penjelasannya saya uraian dalam beberapa poin penting. Pertama bahwa sangat penting untuk mengetahui berbagai kualitas di sekitar kita. Hal itu membuat kita menghargai dan berusaha untuk tidak merusak tatanan yang telah ada. Ditambahkannya adalah kurangnya pemahaman arsitek terhadap tapak. Banyak arsitek di kota-kota besar yang membangun di berbagai daerah, tidak pernah datang ke tapak, tidak mengetahui hal–hal istimewa di dalamnya dan pada akhirnya merusaknya. Persawahan di Sudaji mungkin ke depan akan menghadapi derasnya penggunaan pupuk kimia, pestisida, dan sampah plastik yang sulit terurai.

Di tengah Sawah. (Ibu Ayu)

Di tengah Sawah. (Ibu Ayu Gayatri)

Di tengah berbagai ancaman tersebut, setidaknya suara-suara alam memberikan pesan bagi kita.  Atau jika alam memiliki kemampuan untuk menyampaikannya sendiri pada kita kehendaknya. Kata kata yang tepat mewakili kehendak semesta mungkin seperti di bawah ini.

“Merawat Kami (Alam) memberikanmu hal-hal luar biasa, perubahan sekecil apapun mengakibatkan kamu kehilangan hal yang berharga yang selama ini kamu dapatkan”.

 Bengkala, 12 februari 2015

Catatan Inisiasi pertama di Rumah Intaran

Advertisements

§ 6 Responses to Hening: Mendengar Suara Alam, Mendengar Kehendak Semesta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Hening: Mendengar Suara Alam, Mendengar Kehendak Semesta at Sudut jalan.

meta

%d bloggers like this: