Antonius Ismael (Triaco & Associates): dari Aga Khan Award hingga Menjaga Bali

March 8, 2015 § 5 Comments

“kita ingin kantor arsitek tidak hanya mengurusi arsitektur. Kantor harus ada filosofinya, harus ada resposibility (tanggung jawab) sosialnya, lingkungannya  dan bukan CSR“

-Antonius Ismael-

Rumah Intaran turun gunung , munngkin hal tersebut menggambarkan perjalanan kami kemarin. Satu mobil dengan 7 penumpang. Gede Kresna (pimpinan Rumah Intaran) bertugas menyetir, Ibu Ayu navigator, dan Saya, Haps, Fida serta tambahan Taksu dan Gek sebagai penumpang. Kami berniat mengunjungi beberapa Kantor dan prinsipalnya. Adapun yang dikunjungi adalah studio milik Popo Danes di sekitar jalan Hayam Wuruk, Antonio Ismael (Triaco & OG Architecture Studio), dan Ketut Arthana (Arte Architect) walaupun yang terakhir batal untuk dikunjungi.

Persiapan perjalanan cukup panjang, dan membutuhkan waktu perjalanan hampir 4 jam, dikarenakan terdapat tempat yang sempat disinggahi dan juga studio kami berada di Bengkala, Buleleng. Pukul lima, rumah intaran nampak begitu sibuk. Sarapan tengah disiapkan, dan para awak tengah bersiap untuk berangkat. Tepat pukul tujuh mobil avanza silver membawa kami ke Denpasar, kira-kira 90 Km dari Bengkala.

Tepat Pukul sebelas, kami tiba di denpasar untuk mengunjungi studio Popo Danes, melihat dan mengobrol dengan Popo, arsitek cum “aktivis” dan juga pemerhati budaya. Tentang kegiatan aktivisnya di bidang lingkungan, tentang makanan tradisional, dan masalah yang tengah dihadapi Bali ke depan. Setelah itu berkunjung ke kediamannya di daerah Padanggalak, Sanur. Setelahnya mengunjungi kantor Antonio Ismael (prinsipal dari Triaco & Associates), ia dikenal sebagai salah satu penerima Aga Khan Award for Architecture tahun 1989, untuk perencanaan kawasan Citra Niaga di Samarinda. Pada tahun tersebut saya tentunya belum lahir.

Pertemuan dengan keduanya tentunya sangat istimewa, namun karena telah diceritakan oleh Bapak dan Haps mengenai Popo, saya musti menulis yang belum diceritakan yaitu perbincangan dengan Antonio Ismael. Saya baru mengenalnya belakangan, karena beberapa perbincangan di Kantor Rumah Intaran. Ketika itu kami tengah membincangkan Romo Mangun Wijaya dan mengenai buku-bukunya. Singkat cerita ditanyakan oleh Bapak, apakah mengenal Antonio Ismael. Tentunya ketika itu kami menjawab tidak. Terlebih bagi saya, karena ketika di kampus begitu miskin referensi dan juga panutan arsitek-arsitek berprestasi Indonesia. Karena begitu banyak mengulas starchitect luar seperti zaha Hadid, Frank Llyyod Wright, Antonio Gaudi, bahkan sampai Tadao Ando. Ternyata diluar itu orang indonesia turut memberikan sumbangan berharga pada arsitektur Indonesia dan juga inspirasi pada dunia.

Kantor arsiteknya, berada di Jalan Batur Sari, Sanur. Jalan itu mengingatkan saya pada beberapa orang teman, seingat saya pernah bersama-sama untuk meluangkan waktu kesana. Dari luar kantornya seperti kantor umumnya, warnanya putih dengan sign nama kantor yang kecil dan terdapat beberapa kendaraan dan sebuah sepeda. Masuk ke kantornya, semua arsitek tampak serius mengerjakan tugasnya masing-masing. Lalu kami masuk dan mereka menyambut kami dengan ramah tentunya, serta tak lupa menanyakan beberapa hal yang kami lakukan di Rumah Intaran.

Bersama dengan Bapak Antonio Ismael dan stafnya

Bersama dengan Bapak Antonio Ismael dan stafnya

Bapak Antonio menyambut kami, wajahnya ramah dengan rambut kriting mengembang. Ia nampak tengah sibuk menelpon istrinya, bahwa setelah bertemu kami akan menjeguk seorang sulinggih (pendeta) di daerah Sanur. Kami menyempatkan berfoto dengannya bersama seluruh staf kantornya. Kami kemudian berbincang dengannya mengenai project terkini ruang rapatnya.

 

Filosofi kantor Arsitektur Seharusnya

Di ruang rapat kantornya nampak sederhana, dicat putih, dengan bukaan mendatar berupa fix glass viewnya berupa kebun belakang. Di ruang rapat tersebut tergantung dua buah papan  tulis, berisi berbagai coretan, mungkin project terkini dan penanggung jawab projectnya yaitu staf kantornya. Kemudian ia menjelaskan fungsi kedua papan tersebut.

berbincang dengan Antonio Ismael

berbincang dengan Antonio Ismael

“Bagian ini (kiri) untuk project kantor, dan sebelah kanan untuk project sosial,” terangnya kepada kami. Ia tengah merencanakan rumah susun di beberapa kawasan slum di beberapa daerah. Di papan tersebut, berisi beberapa catatan mengenai konsep, sistem struktur, sistem budgeting, dan pembiayaan. Sebenarnya dari papan tersebut saya belum terbayang, apa yang dikerjakan oleh kantor arsitek ini. Setelah mencarinya lewat internet, baru saya ketahui bahwa kantor ini fokus pada sistem partisipatif dalam merancang karya-karyanya.

Salah satunya untuk project Kawasan Citra Niaga, di Samarinda. Kawasan tersebut merupakan kawaasan perdagangan terbesar di Samarinda, Kalimantan Timur. Kawasan ini terkenal sebagai pusat perdagangan oleh-oleh khas Kutai timur dan Kalimantan. Citra Niaga seluas hampir 2,7 hektar dengan luas lantai yang terbangun hampir 18.300 m2. Total pedagang kaki lima yang menggunakannya petak kecil sebanyak 244 pedagang dan terdapat sekitar 141 ruko dan 74 kios pedagang.

Untitled-3

Site Plan Kawasan Citra Niaga, Samarinda

Untitled-4

Tampak Kawasannya

Untitled-5

Menara Burung Enggang, Landmark Kawasan Citra Niaga

Untitled-2

Area Alun-Alun dan Bale-Bale, Digunakan untuk Fasilitas Publik serta Kegiatan Kesenian

Untitled-1

Kawasan Citra Niaga, Samarinda

 

Project ini diganjar penghargaan Aga Khan Award for Arcitecture pada tahun 1989. Terdapat beberapa alasan. Pemberian ruang bagi pedagang kecil dan kaki lima dalam kawasan ini emnjadi alasan yang kuat untuk pemberian award yang perah dimenangkan Romo Mangun tahun 1992. Antonio, sebagai salah satu konsultan arsitektur yang menanganani project tersebut, menfasilitasi diskusi berbagai pihak, mengembangkan sistem manajemen, keuangan project, serta mendesain fasilitas tersebut, bersama Griyantara Architect. Dalam rancangan terdapat fasilitas yang lengkap, seperti panggung pertunjukan kebudayaan, pedestrian yang nyaman, alun-alun dan bale-bale yang dapat digunakan secara umum. Paling penting adalah pembangunan kawasan ini tidak membebani anggaran daerah

Peranan pengembang dan juga swasta sangat berperan dalam pembangunan tersebut. Pedagang (terutama pedagang kaki lima) sebagai pengguna bukan sebagai sapi perahan. Mengingat sewa ketika jaya sangat murah. Ada semangat gotong royong tercermin dalam desainnya dan juga sistem yang manajemennya. Sistem subsidi silang telah diterapkan, dimana belakang begitu tred. Kawasan ini juga menjadi contoh bagi pengembangan kawasan serupa di Indonesia. Kisah sukses tersebut, mengantar Antonio mendapatkan beberapa penghargaan lain, seperti IAI Awards dan juga penghargaan lain untuk project lainnya.

Tentunya ada beberapa hal yang tercermin dari project yang dikerjakan oleh konsutan ini. Pengalaman yang begitu banyak dalam Barefoot architecture (arsitektur komunitas/guyub), yang patut menjadi salah satu inputnya. Lulusan UC Barkeley dan MIT ini serta sempat bekerja di Meksiko untuk komunitas masyarakat ini menerapkan filosofi khusus pada konsultannya. Bahwa konsultan arsitektur tidak harus selalu mengurusi arsitektur saja, namun juga punya tanggung jawab untuk berbuat sesuatu untuk sekitar dan lingkungan. project tersebut, juga tergambar jelas bahwa peranan arsitek sangat sentral. Dimana sebenarnya profesi arsiteknya bisa berperan bagi sekitarnya. Lebih pada pengembangan hal-hal pengembangan komunitas agar lebih berdaya. Tidak melulu mengerjakan bangunan untuk orang yang berduit.

Hingga saat ini, konsultan ini tetap berpijak pada hal tersebut. seperti yang saya temui di kantor konsultannya hari tersebut. Papan whiteboard penuh coretan project terbaru dan sosial yang selalu akan berdampingan. Ingatan saya ke Studio Genesis dan Akanoma milik Yu Sing, yang fokus untuk membangun rumah-rumah murah bagi masyarakat menengah kebawah, teringat pekerjaan Yori Antar dan tim untuk pembangunan kembali rumah tradisional, seperti Waerebo, atau Lab Tanya, yang berfokus pada riset perkotaan yang juga sekaligus studio arsitek pula. Tapi disisi lain masih belum banyak konsultan punya dua sisi tersebut, yaitu masih terlalu banyak mengurusi project komersil tanpa adanya kesadaran akan sekitar. Semoga dapat bertambah kedepan dan saya berpikir apakah kelak dapat menerapkan hal yang serupa pada konsultan saya sendiri?

Menjaga Bali

Ia juga sempat mengatakan visinya tentang Bali kedepan. bahwa daerah ini telah sesak dengan Hotel bahkan over supply. Kenapa kita tidak mebuat hotel kampung. Rumah-rumah masyarakat yang ada di desa-desa bisa digunakan untuk menginap tidak  usah kemudian membangun hotel lagi. Saya juga visi sebagai orang Bali harusnya sama dengan apa yang dikemukan arsitek kelahiran Amsterdam ini. orang Bali harus jadi pemilik, membangun usahanya sendiri, dan tidak bergantung pada investor luar.

Masalah terbesar orang bali adalah dengan sesama selalu bertengkar. Orang bali sangat sulit untuk menyelesaikan masalah bersama. Terlau banyak kepentingan yang menjadi akar masalahnya. Tidak total untuk berkorban secara sosial pada kepentingan yang lebih besar dan berkelanjutan. Bahkan saat desa punya kesempatan seperti saat ini, dengan dana yang begitu besar masuk ke kas desa. Harusnya mampu membuat masyarakatnya berdaya tidak seperti saat ini. dengan catatan masyarakatnya punya tujuan yang sama

Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) harusnya menjadi salah satu lokomotif pemberdayaan desanya. Lembaga-lembaga keuangan mikro harus jadi sumber pendanaan yang mandiri. Lepas dari kepentingan kelompok dan perseorangan dan bahkan asing.

Advertisements

§ 5 Responses to Antonius Ismael (Triaco & Associates): dari Aga Khan Award hingga Menjaga Bali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Antonius Ismael (Triaco & Associates): dari Aga Khan Award hingga Menjaga Bali at Sudut jalan.

meta

%d bloggers like this: