Inisiasi kedua: Dengar Cerita dari Gelombang

March 12, 2015 § 1 Comment

Saya sering sekali duduk di piggiran pantai dan setiap kali melihat laut pikiran saya begitu tenang, banyak yang telah saya ceritakan padanya, mungkin seperti seorang ibu. Hubungan percintaan hingga apa yang tengah dihadapi daratan akibat ulah investor. Tapi saat itu saya belum menyempatkan waktu untuk mendengar keluh kesahnya? Dan apa yang ia rasakan kini?

Sebenarnya saya sudah tahu, bahwa akan ada inisiasi lanjutan oleh rumah Intaran bagi peserta program 300 hari di RI. Sebenarnya dalam waktu satu bulan paling tidak kami harus mengikuti tiga inisiasi. Yang pertama (seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya) di Desa Sudaji, Desa wisata yang kaya akan buah-buahan lokal, dan berikutnya akan saya ceritakan ini. Kegiatan di Rumah Intaran tentu saja tidak terlalu padat jika dibandingkan konsultan arsitektur lain. Kliennya sangat terbatas dan RI sendiri lebih aktif dalam riset serta kegiatan sosial. Namun karena terdapat beberapa agenda dan pekerjaan, inisiasi tersebut harus tertunda, hingga tanggal 22 februari dan inisiasi ketiga pada awal maret.

Seperti yang telah saya kemukakan sebelumnnya inisisasi adalah program yang wajib, bahwa memakai sudut pandang yang sama untuk menyelam ke Semesta pengetahuannya. Sejauh yang telah dijelaskan oleh Gede Kresna, inisiasi di RI begitu berbeda dari yang dilakukan oleh pengajar-pengajar arsitektur kita mengenai ruang. Mungkin kawan-kawan yang pernah kuliah/mengenyam pendidikan arsitektur pernah mendapatkan pelajaran mengenai ruang, tidak jarang dosen memberikan penjelasan dan berpraktik merasakan ruang.

Dalam hal tersebut, saya malah sering menerka-nerka ruang apa yang terbentuk di alam, apakah pengaruhnya bagi personal space saya? Cuma itu saja. Hal tersebut cuma akan melengkapi deskripsi lebih lanjut mengenai ruang. Sangat berbeda dengan inisiasi yang punya tujuan yang spesifik, bahwa kita pada dasarnya harus mengerti keadaan lingkungan kita, apa yang benar-benar dibutuhkan, dan mempertanyakan ulang apakah yang kita bangun benar-benar harus ada? Apakah arsitek perlu berpikir lebih jauh mengenai dampak  dan perubahan yang ditimbulkan ketika apa yang kita desain telah benar-benar terwujud? Tentunya tak banyak yang berpikir hingga sejauh itu.

Dari Badung, Buleleng, Bengkala, Berakhir di Pacung

Hari tersebut begitu padat bagi saya, maklum anak rantau (walaupun hingga Singaraja). Pasalnya hari kemarin, saya harus ke Tabanan untuk berbagi pengalaman kepada calon fungsionaris BEM Universitas Udayana 2015 dan hari tersebut harus kembali ke Singaraja, ada beberapa hal yang harus dikerjakan. Saya berangkat dari Cemagi, Mengwi sekitar pukul 12.00 Wita, dan setelah menyempatkan menjenguk keponakan yang tinggalnya agak jauh dari rumah. Pukul dua siang, saya telah sampai di Kota singaraja, kecepatan motor standar 60 km/jam dan sempat singgah di Mengwi untuk membungkus sate favorit. Pukul setengah 3 sore sampai di Rumah Intaran.

Danau Beratan Berkabut, Saat Perjalanan untuk Mengisi Materi di Tabanan.

Danau Beratan Berkabut, Saat Perjalanan untuk Mengisi Materi di Tabanan.

Agak sedikit mengantuk dan (tentunya) melelahkan, saya mengiyakan untuk mengikuti inisiasi yang kedua. Pertama karena memang kewajiban, alasan yang selanjutnya adalah kesempatan untuk jalan-jalan. Setelah menyantap makanan yang sempat terbeli tadi, langsung berangkat menuju tempat inisiasi. Yang ikut, tentu saja saya, Haps, Fida, Bapak (Gede Kresna), Ibu (Ayu gayatri), Taksu dan Gek Jyo. Semula tidak diberitahukan mengenai tempatnya, namun beberapa hari sebelumya saya membaca file program 300 hari di RI, kira-kira akan menyasar pantai yang ada di Buleleng. Karena sebelumnnya kami dihadapkan pada bukit, dan sekarang laut, mungkin mengacu konsep Segara-Gunung. Atau terlebih pada alasan keduanya saat ini sedang diincar oleh pengusaha-pengusaha yang cari untung.

Sekitaran 30 menit perjalanan, menelusur jalan utara bali, kami menapaki beberapa desa di kecamatan Kubutambahan, dan menuju Tejakula. Melewati objek wisata Air Sanih dan juga pantai-pantai yang area pantainya “ditumbuhi” Crib, seperti Pantai Penyusuhan menuju arah Pura Ponjok Batu. Tidak ada yang menarik dari perjalanan singkat tersebut, kecuali saat bapak berseru. “ Ini Ka, tanahnya pak Mangku (tentunya kawan2 tahu maksud saya),” Tanahnya luas, kira-kira hampir 2-3 kilometer searah jalan menuju lokasi inisiasi. Pagarnya tinggi-tinggi berwarna putih (kesannya begitu ketat dan sangat was-was). Tanahnya berbukit, dan banyak pohon kayu santan dan ilalang. Tanah seluas ini untuk apa? Apakah akan dibangun destinasi baru (mall, hotel, atau resort) setelah bandara baru dibangun di Kubutambahan, Buleleng, Pikir saya dalam hati. Saya ingin bertaruh, bahwa nantinya akan hadir tipikal macam BW di Kuta (bagi yang ingin bergabung menebak silahkan).

Gelombang di Pantai Pacung

Pak Gede dan Taksu Tengah Berkeliling di Pantai

Pak Gede dan Taksu Tengah Berkeliling di Pantai

Satu hal yang dekat dengan kata Pacung/desa Pacung, tentunya Pura Ponjok Batu. Pura yang dibangun sebagai Pura Dang Khayangan (sebagai wujud bakti pada guru) atas perjalanan spiritual dari Dang Hyang Nirartha sekitar abad ke-14 di Bali. Dang Hyang Dwijendra dianggap orang yang berjasa dalam menyempurnakan konsep Hindu di Bali, serta tata upacara Masyarakatnya. Sudah hampir 600 tahun, peninggalannya dapat kita temukan saat ini, seperti halnya Pura tesebut.

Sebelum sampai di Pura Ponjok Batu, mobil terhenti di dekat sebuah warung kecil. Warungnya menjual alat makan dari batok kelapa, produknya artistik,dan dikerjakan oleh tangan. Pengerajin dan penjaga tokonya bukan anak muda, namun pasangan suami-istri yang sudah tua, Pak Runa (69 tahun) dan Istrinya. Pada masa mudanya, ia merupakan Lulusan Akademi Usaha Perikanan dan menjelajah Indonesia juga dunia. Mereka nampaknya begitu nyaman dengan apa yang mereka kerjakan setiap hari. Tiada beban bagi mereka, setidaknya begitu yang dapat saya lihat dari keseharian mereka membelah bambu untuk kerajinan.

Dipilihnya pantai tersebut sebagai tempat inisiasi berikutnya. Kami menuruni jalan menuju pantai. Pantainya tidak terlalu lebar, kalau sekedar ingin menghitung pantainya hanya cukup untuk dua kapal. Disepanjang pantai berderet kapal-kapal nelayan. Tidak banyak hanya sekitar 10-15 kapal. Hal yang sangat berbeda yang saya temukan di bagian timur buleleng dan karangasem. Dimana pantai begitu banyak, tak heran pantainya begitu landai dan juga cukup panjang. Hampir ratusan kapal berderet memenuhi pantai. Pantai di desa Pacung tersebut sangat berbeda, ternyata ditengah cuaca buruk seperti hari tersebut nelayan hanya dapat mengantongi modal mereka melaut tanpa untung. Sesekali mereka menanggung rugi, karena hanya mampu menangkap beberapa ekor ikan.

Mereka begitu jauh akan pariwisata, namun tetap bertahan pada pilihannya. Namun investor telah mengkavling tanah-tanah mereka. Tanah yang dimiliki desa hanya sekitar 2,8 hektar, sisanya dikuasai investor dan milik pribadi. Hal serupa mungkin dapat kita temukan di berbagai daerah di Bali. Di wilayah singaraja saja yang memiliki garis pantai 150 Km, begitu banyak dikuasai oleh pemilik modal. Apalagi wilayah badung, tabanan, gianyar hampir setiap jengkalnya menjamur hotel dan restoran. Jika sempat kawan tanyakan diantaranya telah berganti pemilik, mungkin orang-orang Jakarta yang kelebihan uang, atau mungkin orang luar negeri. Lalu apakah kita sebegitu mudahnya melepas tanah kita, menggadai pantai kita. Kita anak dan cucu hanya tahu bahwa itu dulu pernah menjadi milik kita, bukan saat ini.

Nelayan Tengah Meyiapkan perlengkapan Melaut.

Nelayan Tengah Meyiapkan perlengkapan Melaut.

Lampu dan Jring yang Digunakan Nelayan Saat Melaut.

Lampu dan Jaring yang Digunakan Nelayan Saat Melaut.

Baling-Baling Kapal Nelayan.

Baling-Baling Kapal Nelayan.

Para nelayan nampak begitu sibuk. Ibu-ibu juga turut mengantarkan dan menyiapkan perbekalan. Anak-anak nampak memperhatikan apa yang dikerjakan oleh orang tuanya, kemudian sesekali nampak bermain di sekitaran kapal. Perlengkapan yang disiapkan jarang saya temukan, dimana setiap kapal dilengkapi dengan 6 lampu dengan intensitas yang cukup besar ditambah dengan intalasi kabel dan genzet. Pada bagian depan atau belakang kapal terdapat saringan lingkaran ukuran kecil dan ditambahkan sebuah tongkat panjang.

Inisiasi 2: Mendengarkan Suara Lautan

Inisiasi dimulai, kami nampak mencari tempat duduk untuk mendengarkan alam. Haps memilih di bagian timur dari pantai, ia menuju sebuah karang dan dekat dengan area mandi dari masyarakat setempat. Fida memilih agak ketengah bersebelahan dengan haps.

Area "Pertapaan" yang Saya Pilih.

Area “Pertapaan” yang Saya Pilih.

Pemandangan dari Tebing, Tempat Pertapaan Saya.

Pemandangan dari Tebing, Tempat Pertapaan Saya.

Gugusan Batu.

Gugusan Batu.

Vegetasi

Vegetasi

Saya memilih untuk menuju tebing di sebelah barat pantai. Di atas batu-batu hitam yang memanjang kearah laut persis seperti untaian ekor iguana yang tengah berpose untuk majalah ternama. Saat ingin naik menuju tempat yang dituju, beberapa ekor kupu-kupu terbang berputar-putar seolah menunjukan ada tempat istimewa menunggu saya. Tempat tersebut cukup lapang, persis berada di ujung karang. Horizon nampak sejajar dengan mata. Ilalang dan bunga-bunga kecil nampak bergoyang disapu angin.

Banyak suara yang dapat saya dengarkan, deburan ombak, suara angin yang cukup kencang, burung-burung yang berterbangan disekitar dan juga ranting-ranting yang bergesekan. Sekitar 20 menit, telah duduk disana, nampak dua orang tengah menuju laut. mereka menaiki kapal kecil dengan dua dayung. Mereka sesekali memandang kearah saya, sesekali mereka nampak tersenyum dan sepertinya mengunjing apa yang tengah saya lakukan.

Waktu 80 menit telah berjalan, Pak Gede Kresna memanggil kami untuk menuliskan pengalaman yang kami rasakan saat inisiasi. Seperti yang dilakukannya saat inisiasi pertama, ia akan menanyakan 10 pertanyaan yang begitu mendasar tentang apa yang kami lihat, dengar, dan rasakan selama inisiasi tersebut. Yang paling penting adalah mengenai visi dan pandangan masa depan yang kami pikirkan mengenai pantai tersebut.

Menjaga Pantai Publik

Pantai di Desa Pacung, Buleleng

Pantai di Desa Pacung, Buleleng

100% Pantai adalah milik publik tiada satu investor yang dapat menguasainya sedikit pun.

Saya kira hal tersebut tidak berlebihan, mengingat peranan apa yang dimiliki oleh pantai dalam aktivitas sosial kultur masyarakat Bali. Pantai merupakan salah satu bagian upacara penting, Nangkluk merana, Melasti, Melukat, Ngaben, Mecaru, Pakelem, dan rangkaian upacara lainnya. Pantai beserta laut senantiasa memberikan kita sumber makanan. Saking pentingnya pantai tidak boleh dimiliki secara pribadi. Desa adat seharusnya punya wewenang penuh terhadap pantai.

Jika terdapat keinginan untuk membangun di kawasan pantai harusnya dipikirkan secara matang. Desa harus menentukan zonasi pembangunan, paling tidak sekitar 200-400 meter dari pasang tertinggi. Selain itu akses masyarakat menuju pantai tidak boleh ditutup. Serta desa menyiapkan skema kompensasi yang besar terhadap pembangunan tersebut. misalnya dengan beban upacara desa yang harus ditanggung oleh investor selama melakukan kegiatan pariwisata. Hal tersebut harusnya membuat investor berpikir lebih jauh.

Dalam jangka waktu menengah dan panjang, desa harusnya menyiapkan skema Investasi Desa. Saya kira dengan gelotoran dana milyaran rupiah, desa dapat menyisihkan dana untuk perbaikan fasilitas pantai, dan membangun usaha-usaha yang relevan dengan potensi sekitar. Desa-desa seperti Jimbaran dan Kedonganan merupakan contoh yang tepat untuk membedah peranan desa dan lembaga keuangan mikro meningkatkan pendapatan masyarakat. Desa memiliki peran sebagai inisiator dan juga wasit dalam investasi desa. Lembaga di desa, seperti Adat dan dinas mengatur regulasi dari usaha yang akan dibangun, lembaga keuangan mikro yang kuat berperan memberikan stimulan kredit dengan bunga ringan pada warga desa.

Serta yang paling penting adalah membangun kepercayaan diri masyarakat di desa, bahwa pada dasarya mereka mampu, dan adanya batasan yang jelas dalam  menjalankan usahanya. Upaya tersebut adalaha bagian yang penting dalam membangun sebuah kesadaran baru. Kesadaran akan tanah merupakan hal yang penting dalam menjaga identitas. Tanah adalah milik desa, pantang untuk digadaikan.

Saya bermimpi untuk dapat melihat kawasan pacung terkenal dengan rumah nelayan yang fungsional. Turis-turis dapat menikmati sajian sederhana sambil menikmati pantai yang tenang. Masyarakat dengan bebas memanfaatkan pantainya tanpa harus takut diusir oleh satpam-satpam penjaga villa atau restoran. Aktivitas sosial kultur dapat berjalan sebagaimana mestinya tanpa adanya kekhawatiran harus memindahkannya kepantai-pantai lain yang terbuka aksesnya. Kapal-kapal nelayan begitu tegak dan dengan gagahnya berbaris rapi, seolah mengatakan kami bagian yang takkan terpisahkan dari pantai. fasilitasnya baik dengan bak-bak sampah yang teratur rapi.

Mungkin hal itu yang patut dinamakan Merdesa!

Advertisements

§ One Response to Inisiasi kedua: Dengar Cerita dari Gelombang

  • Krisna Mahay says:

    Jadi teringat dengan reklamasi teluk benua,.
    Baru baru ini saya baru melihat langsung keadaan disana, terkejut dan gak nyangka sampai segitunya.
    Jadi kepikiran aja, itu lautnya gak nangis apa ya, gak murka apa ya?
    Bayangin aja kak, kalau tubuh kita dikeruk atau ditambah tampa ijin. Apa gak sakit? apa gak murka gitu ya?
    Haiss…
    Bagaimana kalu laut itu murka, kemana mereka akan mengamuk?..
    Jadi miris lihatnya, kasihan sama laut yang sekarang. Yang beberapa diantaranya dimiliki pribadi sama beberapa orang.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Inisiasi kedua: Dengar Cerita dari Gelombang at Sudut jalan.

meta

%d bloggers like this: