Kerja, Kartini dan Akhir Pekan ini

April 18, 2015 § Leave a comment

Bacaan Berat di Akhir Minggu (sumber)

Ada banyak hal yang harus ditunda, itu tentu saja bukan pembenaran. Karena semuanya punya alasan. Tentu saja bukan sebuah ketidakmampuan, namun hanya perkara waktu saja.

Ini boleh dicibir dengan pelbagai hinaan. Bagaimanapun hal tersebut merupakan sebuah kekurangan dalam diri saya. Saya tidak akan menyangkal hal tersebut. karena itu saya dengan segala keterbatasannya.

Itu jawaban dan juga peryataan yang sering terpikir. Karena hutang harus dibayar. Janji tidak akan lunas ketika pelunasannya tidak berjalan. Bahasanya kredit macet. Atau janji yang macet. Dua hari ini berkeinginan untuk hilang dari adab rumah intaran sejenak. Rumah adalah tempat yang tepat untuk menghilang dari rutinitas  kerja. walaupun sebenarnya tidak  dapat dikatakan sebagai kerja, namun disana menjadi satu dengan aktivitas keseharian. Jauh dari macet serta polusi. Sangat jauh dari rutinitas saya ketik masih berkeliling sekitaran Badung dan Denpasar, namun seringkali teringat untuk mencicipi yang katanya merupakan peradaban kota. Beserta segala tingkah polahnya.

Lebih dari  dua bulan di RI, namun saya juga harus mengakui saya adalah personil yang begitu sering hilang dari sabtu dan minggu. Alasannya begitu sederhana, ya karena rumah saya relatif dekat. Saya menyatakan dekat , tentu saja karena saya tidak merasa jarak Kota Singaraja dan Badung jauh. Hanya butuh waku 2 jam lebih sedikit untuk dapat berkumpul sejenak dengan keluarga. Kenapa relatif, karena tidak semua kawan-kawan sependapat dengan saya. Singaraja jauh sekali, mungkin itu pendapatnya, atau mungkin lebih cepat ke Singapura dari pada ke Singaraja. Sama-sama Singa, Cuma berbeda kendaraan yang dipakai, satu dengan pesawat, yang satu dengan pelbagai kendaraan darat. Jika menggunakan mobil terutama saat akhir pekan tentu saja tembus hingga 4 jam, lebih dekat ke Singapura. Pernyataan tersebut saya tangkap dari pembicaraan, beberapa pekan yang lalu dengan Bli Sugi Lanus di Singaraja.

Saya kadang tidak merasa tidak bersimpati dengan Haps serta Fida, yang jauh dengan rumah mereka di Yogyakarta. Mereka juga mengidamkan hal yang sama untuk pulang. Mungkin perlu lebih dari beberapa hari hingga seminggu untuk kembali lagi ke Bali. Hal itu perlu banyak rencana, waktu, dan juga biaya. Jadi saya merasa berhutang dengan mereka soal “pulang” ini. mungkin saya harus menyiapkan waktu untuk bisa mengajak mereka berkeliling lebih banyak di Bali. karena petualang tentu saja dapat membuat kita lupa sejenak dengan rumah, sekaligus membunuh waktu menunggu faktor-faktor tersebut terpenuhi dahulu. Tulamben, Ubud, Tabanan, Denpasar, bahkan Buleleng sendiri belum habis untuk dikunjungi. Sesekali membuat rencana perjalanan untuk minggu-minggu depan.

Lalu, apa yang akan dikerjakan atau ingin membayar hutang-hutang yang belum terbayarkan. Satu hal yang tentunya dibayar terdahulu adalah berkabar dengan beberapa teman. Teman-teman bilang begitu ingin untuk mendengarkan apa yang terjadi dan yang saya dapatkan di RI. Melalui salah satunya dengan tulisan ini saya ingin berbagi. Akhir-akhir ini RI tengah sibuk dengan berbagai bumbu, resep masakan, kelas memasak dengan nini (Ibunya Pak Gede Kresna), serta pengerjaan beberapa buku yang menjadi tugas bulanan kami.

Di Dapur RI, di setiap makan siang dapat dicium berbagai bau masakan, serta berbagai bumbu. Masakan yang dicoba atau dikerjakan mulai dari Betutu ayam, Lawar Serati, Bulung, Laklak, Urap Paku, Serosob (seperti Kari Ayam) yang kesemuanya jadi menu makan siang di RI. Tentu saja semuanya istimewa, karena memasak dipandu juru masak handal (walaupun sejak 3 minggu lalu minus Mbok Wayan sebagai pemegang mandat juru Kuliner RI karena sakit). Tiap 2 hari sekali meja makan berubah jadi medan pertempuran karena penuh dengan berbagai bahan dan diakhirnya penuh dengan makanan enak. Selain itu buku-buku jadi selingan yang mengembirakan juga fokus (karena pengerjaan dalam tenggat yang pendek).

Buku-buku portfolio project yang dikerjakan RI juga telah rampung sejak hari Kamis lalu. Karena akan dibawa ke Jakarta. Tenggatnya singkat hanya 2 hari, beruntung hampir seluruh materinya telah siap dan dikerjakan sebelumnya. Serta dalam proses pengerjaan buku Panduan Penanganan Sampah Desa. Materinya dikerjakan secara perlahan dan bulan ini tentunya harus segera rampung. Mengingat dibawa bulan depan saat workshop RI di Bekasi, serta janji-janji lainya. Dan kembali ke rumah tentunya adalah saat menarik nafas kembali.

Sabtu dan Minggu ini, bertebaran beberapa acara keren yang sayang untuk dilewatkan. Terutama penampilan Navicula, di Warung Kita Sabtu ini. walaupun saya masih harus berpikir lagi untuk datang. Saya pulang karena ada hal yang juga harus dikerjakan. Serta ingin bertemu dengan beberapa orang. Semoga  beruntung bertemu dengan mereka. Diantaranya kawan saya, Pak De tentu saja bukan nama sebenarnya, ini hanya nama yang diberikan oleh Teman-teman KKN saya pada Bli Made Putra Aryana. Yang secara kebetulan mengangkat permasalahan jalan raya serta kemacetan menjadi bahan skripsinya. Dimana secara kebetulan pula sedang jadi fokus tantangan untuk riset lalu lintas Bali. Hal ini masih dalam  tahap mencari referensi serta narasumber yang kompeten untuk menjawab permasalahan ini. jika ada yang mau menjadi narasumber serta membantu data-data riset ini, saya mohon bantuannya.

Lalu ada beberapa project lain yang juga perlu waktu, untuk mewujudkannya. Dalam waktu hampir tiga bulan ini, mungkin masih sedikit hal yang tuntas untuk dikerjakan, namun kami dan saya sendiri berusaha untuk membangun ritme kerja yang lebih baik. Dengan tenggat waktu, serta sistem kerja yang lebih efisien. Dimana waktu dekat masih banyak tenggat yang harus dikerjakan. Namun pekerjaan lain juga masih menunggu, saya telah mengutarakanya di awal tulisan tadi. Walaupun begitu saya sudah membayar salah satunya dengan tulisan ini.

“Panggil Aku Kartini Saja” karya Pram, juga menambah isi kepala, dan juga hati. Karena Kartini, bukan saja sosok wanita yang dipingit, dinikahkan, punya anak, dan meninggal saat persalinan. Ia mengetengahkan perlawanan terhadap feodalisme Pribumi Jawa. Tafsir Pram tentang ide-ide perlawanan Feodalisme dan Nasionalisme yang tertuang dalam surat-surat Kartini tentulah sangat jeli. Bagaimana tidak, buku habis gelap terbitlah terang belum juga saya baca. Dan tentu saja (menurut saya) belum tentu ditafsirkan secara lugas oleh penyusunnya seperti Pram. Ide-Ide Nasionalisme Indonesia mungkin dipengaruhi pula oleh ide-ide kartini mengenai Demokrasi yang berkembang di Barat. Dimana pada awal abad 20, ada wanita dengan lugas menyatakan pendapatnya mengenai perlawanan budaya yang tidak memanusiakan, adanya strata serta kasta, serta cara pandang yang otentik tentang penjajahan. Hal tersebut ia lakukan ketika berada dalam kurungan adat bernama pingitan. Belum genap berusia 20 tahun, Kartini tentunya lebih berani dari kita yang hidup di zaman sekarang. Ia telah mengemukakan pendapatnya tentang Nasionalisme, kita belum tentu sampat pada tahap pemahaman tersebut.

Jauh dari pada itu, saya ingin mengucapkan selamat hari Kartini, 21 April. Bahwa kartini hari ini tidak terlalu banyak polesan, lebih baik jika pikiran yang diisi dengan pengalaman yang baik dan pengetahuan yaang luas. kejarlah cita sejauh-jauhnya, dakilah gunung-gunung pengetahuan yang tidak terbatas tingginya, dan menyelamlah ke dalam pemahaman hati yang paling mendalam. Itu tentu saja lebih penting daripada memoles bibir dengan gincu, dan alis dengan mangsi. Selamat untuk wanita yang telah ada dalam tahapan itu, dan berilah inspirasi pada semua orang. terutama bagi para ibu yang setia merawat anak-anaknya menjadikan kami dan semuanya sebagai kebaikan semua bangsa.

Minggu, dan akhir pekan dapat berakhir, serta selau berakhir dengan cerita-cerita. Senin, rutinitas akan selalu menantang kita untuk tidak bosan, karena akan selalu ada akhir pekan yang mencerahkan.

Cemagi, 18 April 2015

Menikmati Akhir Pekan

 

Advertisements

Tagged: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kerja, Kartini dan Akhir Pekan ini at Sudut jalan.

meta

%d bloggers like this: