Membayangkan Kiamat Kecil Puncak, Bogor di Bedugul, Tabanan.

September 1, 2015 § Leave a comment

Kemacetan jalan raya Bedugul-Singaraja tidak hanya disebabkan volume kendaraan yang besar. Namun yang semakin kita sadari adanya pembangunan yang masif di daerah penyangga tersebut.

Kemacetan jalan raya Bedugul-Singaraja tidak hanya disebabkan volume kendaraan yang besar. Namun yang semakin kita sadari adanya pembangunan yang masif di daerah penyangga tersebut.

Kembali ke Singaraja tentunya begitu melelahkan, betapa tidak dengan perjalanan yang hampir 3 jam tentunya bukan perjalan yang 100% menyenangkan, terlebih mengingat bahwa yang akan dihadapi adalah hari-hari kerja seperti biasa. Yang menguatkan statement ini adalah tentang kemacetan yang luar biasa di daerah ini.

Musim liburan telah tiba,tentunya ini berlaku bagi siswa-siswa kelas 3 yang selesai menunaikan ujian nasional. Bali sebagai destinasi wisata (murah) tentunya tidak ketinggalan kebanjiran banyak wisatawan pelajar ini. pesertanya umumnya berasal dari jawa. Hal tersebut bisa dilihat dari plat nomor kendaraan yang membawa mereka menuju bali adalah plat nomor daerah di berbagai daerah di Jawa. Saya sebagai orang yang tinggal di Bali tentunya tidak heran, juga tidak (terlalu) keberatan jika mereka juga menikmati pulau ini, seperti yang biasa kami lakukan setiap harinya. Yang membuat saya risau adalah soal kemacetan yang parah di daerah Bedugul kala akhir pekan.

Bagi saya yang harus menuju singajara tentunya akan begitu keberatan. Pasalnya butuh waktu lebih dari 30 menit hanya untuk lewat di depan Kawan Joger. Hampir tiga puluhan bus mengular hampir sepanjang 2-3 kilometer sebelum dan sesudah pabrik kata-kata tersebut. ribuan pelajar dan juga wisatawan lokal memadati jalanan, berbelanja ke warung-warung, atau sibuk mengobrol satu sama lain. antrean tersebut makin bertambah dengan banyak bus juga yang menunggu giliran untuk mendapatkan tempat parkir. Kendaraan yang melintas di kawasan tersebut tentunya makin tidak leluasa, karena jalan yang digunakan otomatis hanya cukup untuk dua kendaraan (mobil) untuk melintas.

Antrean seperti itu juga dapat dilihat di kawasan Danau Beratan, Candi Kuning. Kondisinya lebih baik jika dibandingkan dengan yang terjadi di Depan Kawan Joger karena kawasan tersebut memiliki beberapa parkir dengan kapasitas besar. Jika kemudian saya harus kembali ke singaraja setiap akhir pekan apakah juga akan merasakan yang sama. Saya Cuma teringat satu hal apakah Bedugul akan seperti Puncak, Bogor?

Yang mengerikan tentu saja membayangkan kawasan penyangga air ini, lama-lama akan begitu banyak villa yang menjamur, serta menduduki tanah-tanah yang merupakan kawasan hijau. Tiap akhir minggu harus menanggung ribuan kendaraan yang bukan dari daerahnya. Serta yang paling tragis, tentu saja dianggap sebagai biang dari banjir-banjir di kawasan dataran rendah. Penduduknya selalu dilecehkan karena tidak menjaga lingkungan. Padahal tentu saja ini ulah-ulah pengusaha tanggung yang tidak mengerti tata ruang dan juga sempalan oknum pemerintahan yang  hobi mencatut saat penerbitan izin pembangunan. Apakah kejadian akhir pekan itu merupakan petanda akan datangnya kiamat-kiamat berikutnya? Tentunya akan dijawab oleh waktu tentunya!

Advertisements

Tagged: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Membayangkan Kiamat Kecil Puncak, Bogor di Bedugul, Tabanan. at Sudut jalan.

meta

%d bloggers like this: