Visi Lingkungan dan Cerita Tentang Bli Made Kusuma

September 1, 2015 § 2 Comments

Jikalau harus ditanyakan kepada saya, siapa orang yang paling nekat yang saya kenal. Seketika akan saya jawab Made Kusuma.

Bli Made Kusuma Jaya, saat sedang oil pulling di Rumah Intaran

Bli Made Kusuma Jaya, saat sedang oil pulling di Rumah Intaran

Tidak semua orang mau mengurus sampah. Apalagi anak muda, mungkin akan lebih memilih jalan-jalan, pergi ke kafe untuk sekedar mengobrol, dan bercanda di sosial media. Sangat sulit untuk menemukan figur-figur yang sedia mengurus sampah. Atau rela mengabdikan dirinya untuk membantu orang lain yang kesulitan mengurus sampahnya sendiri. Akan saya jawab begitu mustahil. Atau mungkin ketika saya yang ditanyakan, apakah mau mengurus sampah? Tentunya saya akan berpikir begitu lama. Menimbang segala aspek dalam hidup saya. Apalagi ketika menulis hal ini, saya masih pikirkan jawabannya.

Lalu, ditengah zaman yang miskin panutan ini. Siapa yang patut jadi panutan, minimal inspirasi untuk menyelesaikan masalah dirumah sendiri. Saya dengan yakin menyebutkan nama Made Kusuma Jaya aka Kuskus. Bli made, begitu sapaan saya merintis sebuah cita-cita menjadi Sosialprenuer Sampah. Ia merintis karir persampahannya sejak bergabung dengan LSM Bali Fokus, selepas berkuliah di Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM), Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana. Setelah dua tahun, belajar di LSM, Bli Made memilih untuk kembali pulang kampung, di Banjar Gunung Kangin, Desa Bangli, Baturiti, Tabanan pada 2013. Memulai sebuah Bank Sampah dan berkembang sebagai Central Bali Recycling.

Kembalinya Bli Made, juga berkaitan dengan tanggung jawabnya sebagai anak laki satu-satunya mengelola kebun dan sawah yang diwariskannya. Hal tersebut tentunya  sulit ditemukan hari ini. Pada saat kembali tersebut, Ia menyadari bahwa permasalahan sampah di desanya begitu rumit. Ia sering berkomunikasi dengan turis-turis yang menginap di sekitar lingkungan rumahnya. Turis tersebut menyayangkan, sampah warga dibuang secara sembarangan bahkan ada yang membuangnya di hulu pangkung dan tepat di bawah pelinggihnya. Orang Bali, buang sampah mereka di tempat-tempat yang suci. pangkung (jurang), sungai, campuhan (pertemuan sungai), dan bahkan di Pura orang bisa membuang sampahnya.

Masalah di Desanya juga begitu unik. Bli made melihat bahwa banjar dan desanya begitu bersih. Lalu kemana sampah-sampah dibuang. Ternyata menurutnya  warga desa membuang sampahya di jalan-jalan utama, di wilayah desa lain. Masyarakat Bali mengolah sampahnya sendiri, tidak membebankan masalah sampah kita pada orang lain. Maka dari itu setiap rumah terdapat Teba, guna mengolah sampahnya sendiri. Berangkat dari hal tersebut Ia nekat untuk mendirikan Bank sampah pertama di desanya, bahkan tabanan. Modalnya hanya niat, mungkin juga minus. Ia mengumpulkan sampah-sampah dari warga desa,  dibawanya ke “gudang” miliknya.

Bukan hal mudah untuk mengerjakan hal yang masih dianggap sebagai pekerjaan umum. Penghasilannya minim, jauh dari apa yang didapatnya saat bekerja di Denpasar. Tentunya ketika itu ia mulai membangun rumah tangga. Banyak cibiran dari tetangga bahkan keluarganya sendiri. Neneknya dari desa sebelah sempat menyayangkan pilihannya untuk mengelola sampah desa. Kemudian ia mencari beberapa alternatif untuk menyokong usahanya, yaitu dengan mendatangi beberapa restoran, villa dan juga hotel yang berada di desanya. Ia mengajukan proposal untuk mengelola sampah yang dibuang oleh usaha-usaha tersebut. Pemilik usaha tersebut mudah buang sampah, tidak ada tanggung jawab menyelesaikan apa yang mereka buang.

Penghargaan oleh Peradah bagi Made Kusuma, dibawa oleh anak-anak di lingkungannya. (Dokumentasi Made Kusuma Jaya)

Penghargaan oleh Peradah bagi Made Kusuma, dibawa oleh anak-anak di lingkungannya. (Dokumentasi Made Kusuma Jaya)

Pemilik usaha dan juga karyawan malah membawa sampahnya ke restoran atau hotel. tentu saja menganggap apa yang dilakukannya mudah, dan juga karena telah membayar jasa pengelolaan sampahnya. Biaya yang dipatok bli made untuk villa, hotel, dan restoran sangat murah, jika dibandingkan dengan keuntungan yang mereka peroleh dari apa yang dilakukan bli made. Tapi hal itu memberikan tantangan sendiri untuk mengembangkan usahanya pada cakupan yang lebih luas dari sebelumnya. Dimana saya sadar bahwa manusia tumbuh dengan tantangan di dalam hidupnya, lalu apa artinya hidup tanpa tantangan?

Pengelolaan bank sampah yang digagas bli made, setidaknya mulai di desanya menjadi titik tolak penting penanganan sampah di Desanya. Walaupun belum ada sebuah payung hukum berupa aturan adat dari pemuka adat setempat. Operasional bank sampah yang dikelola masih dapat tertutupi dari pengelolaan sampah yang dilakukan untuk restoran di sekitar Baturiti. Selain tantangan itu, ia masih menghadapi sikap masyarakat sekitarnya membuang sampah secara sembarangan, dan beberapa kali ia harus menutup sendiri tempat sampah ilegal di desanya. Tentu saja hal tersebut tantangan yang berat untuk mengedukasi warga sekitar. Membutuhkan waktu yang lebih banyak serta perhatian dari lebih banyak orang. namun hal tersebut tidak menyurutkan langkahnya dalam membersihkan lingkungan desa dan juga wilayah Bali tengah seperti nama usahanya Centre Bali Recycling.

Atas usahanya selama lebih dari 5 tahun (juga waktu yang telah ia investasikan di beberapa LSM) dalam pengelolaan sampah di Desanya, Ia diganjar penghargaan dari peradah Indonesia tahun 2014. Bli made menerima penghargaan untuk pemuda Bali yang bergiat di bidang lingkungan. Penghargaan tersebut ia terima bersama dengan bli Pande Putu Setiawan penggiat pendidikan dan pendiri Anak Alam.

Pasukan  Hitam yang Suka Sampah

BSF (Black Soldier Fly), atau Hermetia illucens merupakan mahluk asing dan tidak pernah secara luas di masyarakat. lalat ini punya banyak kelebihan dari lalat yang kita kenal. Mereka (BSF) bukan merupakan vektor penyakit, ia mampu mengkonversi sisa makanan atau bahan organik menjadi protein dan lemak. Jenis lalat ini punya fase larva yang hobi makan sisa makanan, sampah sisa daging, ikan, sayuran, buah-buahan, ataupun sampah pasar hingga dua kali berat tubuhnya.  Selain itu ia  dapat menjadi pakan hewan dan ikan. Hal-hal itu yang disampaikan bli Made kusuma kepada saya dan Rumah  Intaran.

Mas Prayitna (sedang presentasi), Bli Made Kusuma (Dokumentasi Rumah Intaran).

Mas Prayitna (sedang presentasi), Bli Made Kusuma (Dokumentasi Rumah Intaran).

Bli Made dan Mas Priyatna (seorang arsitek yang tinggal di sibang kaja) aktif memperkenalkan serangga ini untuk mengkonversi sampah organik rumah tangga menjadi sesuatu yang jauh lebih berguna, selain dapat digunakan sebagai pakan, larvanya menghasilkan  pupuk cair dari aktivitas makannya serta kompos pada yang merupakan kotoran hewan ini. mereka juga banyak berbagi mengenai pengembangan sinergi konversi sampah tersebut untuk kegiatan pertanian skala rumah dan juga untuk desa. Dimana Desa punya kesempatan yang besar untuk mengurangi sampah yang dibuang hingga 40%, yaitu bahan-bahan organik sisa dapur dan pasar yang merupakan sumber serta penyakit ketika dibuang. Usaha sampah ini, juga merupakan ujung dari usaha peternakan bagi desa. Dimana skala usahanya ditentukan dari sampah organik yang dibuang setiap harinya.

Hal ini tentunya juga dapat meningkatkan nilai keberlanjutan usaha dari pengolahan sampah yang dilakukan dipelbagai lokasi. Alasannya sederhana, serangga ini sudah ada di alam, dan hanya perlu mengundangnya untuk membantu kita mengurai sampah. keunggulan lainnya adalah tingkat adaptasi larvanya pada perubahan musim serta suhu, dan mampu bertahan hidup dalam suhu ekstrim (misalnya musim dingin di Eropa). Dimana hal-hal itu telah dikerjakan di gudang Bli Made Kusuma, dimana ada dua bak berukuran 2×1 meter lengkap dengan perangkapnya. Bak tersebut menampung banyak larva yang mempunyai tugas mengurai sampah-sampah restoran, seperti sisa makanan, buah, potongan ikan, daging dan sayur sayuran. Bahkan hari ini tengah kekurangan sampah tersebut untuk memberi makan larva-larva peliharaannya. Saat ini setidaknya telah panen hingga lebih dari satu kg larva yang siap menjadi pakan ayam atau ikan. Serta menghasilkan pupuk cair serta pupuk kompos yang ia mash gunakan sendiri. setidaknya telah lebih dari 6 bulan ia mengembangkan larva-larva ini sebagai agent kompos.

Larva BSF (Black Soldier Fly) yang akan digunakan sebagai pakan ikan (Dokumentasi Ida Bagus Agung Partha)

Larva BSF (Black Soldier Fly) yang akan digunakan sebagai pakan ikan (Dokumentasi Ida Bagus Agung Partha)

Ia juga berharap lebih banyak orang yang mengembangkannya dan punya solusi terhadap (minimal) sampah organik di rumahnya sendiri. karena paling dasar dari penyelesaian sampah adalah usaha-usaha untuk memisahkan sampah, dan menerapkan aspek reuse, recycle, reduce, dan ditambah dengan replace. Bli Made tengah berjuang menghadapi masalah Sampah disekitarnya dan kita punya tanggung jawab juga di lingkungan kita masing-masing. makin banyak orang tentunya akan mempercepat penyelesaian sampah di rumah kita, lingkungan, kabupaten, serta daerah, terlebih masalah sampah di Indonesia dengan segera. Semoga!

Cemagi-Bengkala, Awal April hingga 18 April 2015

Catatan ini adalah versi panjang cerita Made Kusuma di buku Mengelola Sampah Desa

Advertisements

Tagged: , , , , , , , ,

§ 2 Responses to Visi Lingkungan dan Cerita Tentang Bli Made Kusuma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Visi Lingkungan dan Cerita Tentang Bli Made Kusuma at Sudut jalan.

meta

%d bloggers like this: