Ni Luh Sridanti: Yang Utama Adalah Anak

September 25, 2015 § 1 Comment

Oleh: Eka Mulyawan

Ni Luh Sridanti (Kiri) bersama Keluarga, anak Dwi Payanti serta suami, Made Suardana (kanan). (sumber)

Ni Luh Sridanti (Kiri) bersama Keluarga, anak Dwi Payanti serta suami, Made Suardana (kanan). (sumber)

Ni Luh Sridanti, 25 tahun datang ke Pelatihan Jurnalisme Warga Nyegara Gunung 2015, yang bertempat di Br. Babakan, Desa Purwakerthi, Abang, Karangasem. Sri datang terlambat, acara telah dimulai pada puku sembilan pagi. Kesibukannya pada pagi hari sebagai Ibu rumah tangg yang menjadi alasan utamanya. “Pagi saya memasak sarapan dan memandikan anak,” terang ibu dari Dwi Payanti (2 tahun) saat praktik wawancara penulisan profil.

Segudang aktivitas Ia musti lakukan setiap hari. Selain sebagai Ibu Rumah Tangga, Sri juga bekerja sebagai guru TK dan PAUD di Taman Kanak-kanak (TK) Astiti Dharma, mengelola sebuah restoran bersama sang suami, mendirikan sekaligus mengajar di sanggar tari yang Ia dirikan di rumahnya, dan juga menerima pekerjaan untuk menari bali di beberapa hotel. Tidak itu saja aktivitas yang harus kerjakannya,aktivitas menuntut ilmu juga ia lakukan saat ini menambah panjang daftar aktivitasnya. “Saat ini saya Mahasiswa Semester 6 Universitas Terbuka, Cabang Amlapura, Jurusan Keguruan,” jawab peraih Juara satu lomba penulisan artikel untuk guru ini.

Di tengah aktivitas yang sangat padat tersebut, kami panitia kelas Jurnalisme warga menemuinya di Restoran Sridana, yang Ia kelola bersama sang suami I Made Suardana. Restoran tersebut berada di Pusat Kawasan Pariwisata Amed. Bangunannya terbuka mirip wantilan (gedung pertemuan), aksen bambu dapat dilihat pada atap, dengan kayu sebagai pembatas bangunannya dengan halaman dan parkir. Restorannya menyediakan berbagai macam menu, khususnya Ikan dan menu khas Bali. “Di sini ada pisang rai,” terangnya memberikan saran untuk menu yang saya pesan.

Fotonya memakai pakaian penari cendrawasih kami lihat di buku menu restoran. Ia pun tertawa ketika ditanya Luh De Suriyani, pimpinan rombongan kelas Jurnalisme Warga. Ia menanyakan fotonya diambil di dapur restorannya, kami semua tersenyum sembari tergelak. Menari juga salah satu yang menarik baginya. Melalui hobinya tersebut, mengantarkannya menari di banyak tempat. Banyak tarian tradisional Bali Ia kuasai. “20, eh kira-kira 15 jenis tari yang sudah saya kuasai,” terangnya sambil tertawa.

Ia telah belajar menari sebelum masuk sekolah dasar di sebuah sanggar di desa asalnya, Desa Abang, Kecamatan Abang, Karangasem. Karena ketika itu banyak tarian yang ia kuasai, akhirnya Sri memutuskan untuk belajar tarian lainnya di Kota Amlapura. Dengan banyak jenis tarian tradisional Bali tersebut, mendorong Sri untuk membuka sebuah Sanggar tari di Rumahnya. Sanggar tersebut diperuntukan untuk anak-anak berusia 11-15 tahun, latihannya dimulai pukul tiga sore hingga pukul lima.

Jika melihat apa yang Sri capai hari ini, tidak lepas dari berbagai hal yang terjadi di saat Ia remaja. Salah satu diantaranya adalah ketika melanjutkan pendidikan menuju jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Sri diminta untuk tidak melanjutkan sekolah oleh orangtuanya karena kendala biaya. Padahal Ia merupakan langganan juara umum di sekolahnya, dan merupakan siswa dengan banyak prestasi. ketika Sri sendiri berkeinginan untuk melanjutkan pendidikannya ke SMA Negerti 2 Amlapura, salah satu sekolah terbaik di Karangasem. Namun diam-diam kakaknya mendaftarkannya untuk bersekolah di SMA tersebut. “Ternyata kakak yang mendaftarkan ke SMA 2, namun ketika itu tidak diterima karena sudah penuh,” Ungkap Sri menambahkan perihal hal yang Ia sesalkan dalam hidupnya.

Segudang aktivitasnya tersebut membuatnya mendapatkan banyak hal yang baik. “Dari aktivitas saya semuanya menarik, dari mengajar saya bisa menyanyi bersama anak-anak, dari mengelola  restoran, bicara dengan tamu bisa menambah wawasan,” terang alumnus SMA PGRI Amlapura ini. Namun yang menurutnya terpenting sebagai Ibu adalah mengasuh dan memberikan perhatiannya pada anak. “Walaupun menjadi Ibu rumah tangga tidak membuat kita tidak bisa berkarir dan berkarya, asal bisa membagi waktu dan utama adalah anak, ” Ungkap Sri yang kini sibuk sebagai Jurnalis desa ini berpesan pada kawan-kawan para ibu rumah tangga lainnya.

 

Advertisements

Tagged: , , , , ,

§ One Response to Ni Luh Sridanti: Yang Utama Adalah Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ni Luh Sridanti: Yang Utama Adalah Anak at Sudut jalan.

meta

%d bloggers like this: