Denpasar tanpa Sampah, Mungkinkah?

August 26, 2016 § Leave a comment

IMG20160612175712

Beny, kawan saya ketika SMP membaca artikel karya saya di pameran Lomba Foto dan Artikel mengenai Permasalahan Sampah di Kota Denpasar beberapa waktu lalu.

“Praktik tata kelola sampah di Indonesia Kenyataannya adalah sekedar meneruskan atau memindahkan semua sampah dari bak sampah tiap rumah ke sebuah tempat bernama Tempat Penampungan Akhir (TPA).”

-Kota Tanpa Sampah-RW 08 Camar Pinguin Bintaro Jaya-Lab Tanya-

Pertanyaan pada judul tersebut, mungkin sangat utopis dan terlalu mengada-ada. Bagaimana kota sebesar 500 ribu penduduk menyelesaikan sampah kotanya? Saya sangat tertarik pada riset yang dilakukan sebuah kantor arsitek di wilayah Bintaro Jakarta, bernama Lab Tanya. Lab Tanya merupakan sebuah divisi riset dari AWD (Adhi Wiswakarma Desantara), guna mencari berbagai kemungkinan solusi permasalahan perkotaan. Jargon utamanya “Bagaimana Jika?”

Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut memungkinkan mereka untuk mengeksplorasi berbagai gagasan solusi terbaik dari tiap permasalahan. Pendekataan seperti ini dapat digunakan dalam permasalahan di berbagai kota lain, selain Jakarta. Setiap orang dari kita tentunya dapat bertanya di keseharian kita. Kemudian tiba-tiba terinpirasi untuk melakukan perubahan yang kecil. Siapa tahu perubahan yang kecil tersebut menjadi besar, dimana semua orang dapat berbuat yang sama. Tentu akan lebih berarti tentunya.

Kota tanpa Sampah?

Kota-kota besar di dunia, punya masalah dengan sampah. China misalnya dengan jumlah penduduk sekitar 2,5 milyar orang, sangat serius permasalahan dengan sampah. Negara tirai bambu dinobatkan sebagai negara penyumbang sampah plastik ke laut terbesar di Dunia, dalam laporan CNN pada tahun 2015. Lalu Indonesia, tentunya dapat kehormatan untuk berada di posisi kedua. Hebat bukan?

Indikator penelitiannya jarang kita telaah, namun sebagai negara kepulauan dengan jumlah pulau mencapai 17.000 lebih serta dikelilingi lautan sangat mungkin posisi tersebut didapatkan. Terlebih sampah-sampah yang kita buang terbawa air, melewati sungai dan akhirnya sampai di lautan. Sudah pasti kita ada di negara-negara dalam urutan teratas. Bisakah kota-kota dalam lingkup Indonesia menjadi pionir penyelesaian masalah sampah? Lalu bagaimana Denpasar?

Kita dan pemerintah selalu melihat sampah menjadi hal yang rumit dan sangat besar. Pandangan ini sebenarnya ada karena kita meletakkan permasalahan ini ketika terakumulasi dan menjadi sukar untuk dipecahkan. Bagaimana jika kita pecah permasalahannya menjadi lebih kecil? Karena sumber dari apa yang kita buang di rumah tangga. Sampah bersumber dari apa yang kita konsumsi dan gunakan. Dimana bahan-bahan tersebut tidak kita butuhkan atau kita tidak tahu fungsinya kembali.

Pemindahan sampah dari rumah tangga tersebut ke TPA pada akhirnya tidak menyelesaikan permasalahan sampah secara keseluruhan. Namun hanya memindahkan sampah dari sumber menuju tempat lain saja. Apa yang kemudian dilakukan di Denpasar, melalui penanganan sampah secara proaktif, dan sanksi yang progressif hanya sebagai langkah awal dari upaya Kota Bebas Sampah 2020. Hal tersebut tidak saja belum mendasar.  Jika dibandingkan volume sampah yang harus diangkut setiap harinya sekitar 2500-2700 m3, jumlah sampah yang tidak tertangani mungkin juga sepedan dengang jumlah tersebut. Dapat kita tengok masih  banyak ruang yang dijadikan berbagai tempat sampah liar dan tidak tertangani.

Dalam riset yang dilakukan oleh Lab Tanya dan juga banyak literatur tentang mengelola sampah, membedakan sampahnya menjadi setidaknya tiga jenis. Pertama, organik (antara lain bahan makanan, tumbuh-tumbuhan), kedua, Non organik yang dapat di daur ulang, dan ketiga adalah bahan organik yang tidak dapat di daur ulang. Ketiganya memiliki presentase yang berbeda dalam setiap tumpukan sampah di Rumah kita. Sampah organik dalam rata-rata sampah rumah tangga (dengan empat anggota keluarga) sekitar 2-4 kilogram setiap harinya, jumlahnya bahkan lebih dari 50% dari jumlah keseluruhannya. Sampah non organik yang dapat didaur ulang sekitar 30%, dan bahan yang tidak dapat didaur ulang mencapai 20%. Lalu bagaimana? Apa yang dilakukan setelah dibedakan bahan-bahan penyusunnya tersebut?

Dari bahan-bahan penyusun tersebut sebenarnya kita dapat membayangkan, bahwa dari 100 persen sampah yang dihasilkan setiap hari ada material yang tidak harus kita buang sebesar 80%. Material tersebut berupa bahan-bahan organik dan bahan daur ulang. Lalu coba bayangkan jika sampah tersebut berhasil kita manfaatkan kembali, daur ulang, dan bahkan memakainya kembali. Tentunya akan memberikan dampak yang signifikan pada sampah yang dihasilkan. Juga jangan kaget ketika sampah yang dihasilkan jauh dari yang kita hasilkan biasanya.

Penyelesaian permasalahan sampah ada baiknya dilaukan dalam skala yang jauh lebih kecil, rumah, gang atau lingkungan banjar bisa jadi sangat ideal untuk merumuskan sebuah terobosan masalah ini. Penyelesaian secara kolektif dapat membantu warga untuk saling memahami solusi-solusi praktis dalam mengelola sampahnya. Hal-hal sederhana yang dapat dilakukan sendiri ataupun kolektif sebenarnya sudah umum dilakukan. Misalnya penggunaan komposter untuk mempercepat penguraian sampah organik, pendirian bank sampah yang sebenarnya dapat menggantikan posisi pengepul bahan daur ulang yang tidak setiap hari datang untuk mengambil barang rongsokan, dan juga penggunaan kembali bahan-bahan yang berguna. Istilahnya adalah strategi pintu belakang menurut Adi Wibowo penggagas Lab Tanya.

Terakhir, untuk 20% sampah yang tidak dapat didaur ulang seperti apa? Kadang kita tidak mendaur beberapa barang seperti bahan-bahan plastik yang keras, gabus, popok, dan bahan-bahan yang memiliki bahan kimia yang berbahaya jika dibakar atau dirusak. Hal ini sangat berhubungan dengan cara berpikir kita dalam mengkonsumsi atau menggunakan bahan tersebut. Ada budaya praktis yang selalu diutamakan ketika menggunakan bahan tersebut. Seperti plastik pembungkus makanan, gabus atau sterofoam, popok bayi, atau bahan lainnya. Ternyata bahan-bahan dapat digantikan dengan bahan yang kurang lebih sama manfaatnya.

Subtitusi atau mengganti bahan yang tersebut salah satu cara yang efektif mengurangi penggunaan bahan non daur ulang tadi. Penggunaan tas belanja kain, daun pisang sebagai pembungkus makanan, popok kain misalnya, dan botol air minum yang dapat diisi ulang terbukti sangat besar pengaruhnnya mengurangi sampah tersebut. Tidak menggunakan atau membeli makanan dengan pembungkus plastik atau berpikir lebih jauh upaya daur ulang dari bahan yang kita beli juga sangat ampuh mengurangi keinginan kita berbelanja serta menghasilkan sampah. Dari upaya kecil tersebut dapat mengurangi sampah hingga 99%.

Lalu ketika ini jadi keseharian warga kota, lantas saya terpikir angan-angan tersebut dapat terjadi!

Advertisements

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Denpasar tanpa Sampah, Mungkinkah? at Sudut jalan.

meta

%d bloggers like this: