Kenapa Kita Begitu Sinis?

August 30, 2016 § Leave a comment

quote-cynical-realism-is-the-intelligent-man-s-best-excuse-for-doing-nothing-in-an-intolerable-situation-aldous-huxley-90378

Saya hanya melontarkan beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Entah kemudian direspon secara positif ataupun tidak. Saya tidak mempermasalahkannya secara pribadi, karena konteks pembicaraan barusan adalah diskusi terbatas serta hanya melibatkan beberapa teman. Lalu yang membuat saya jengkel tentu karena dijawab dengan sinis ! “Hal itu tidak usah diurusi, biarkan saja yang berwenang yang mengurus.” Saya mungkin paham, hal yang disampaikan tersebut bernada bercanda, dengan tertawaan renyah di akhir obrolan (karena obrolannya via aplikasi perpesanan).

Namun jika dikatakan dalam forum yang lebih luas, dan permasalahan tersebut berdampak pada banyak hal. Saya pikir akan menuai banyak protes dan caci maki. Bagaimana tidak? Dalam peta perjuangan ini (dalam kasus Teluk Benoa), akan menjadi sangat genting ketika hal tersebut sebenar-benarnya memberikan dampak lingkungan dan sosial yang luas kedepan. Dalam pemikiran saya, Reklamasi adalah jalan masuk bagi investasi besar lainnya masuk pulau kecil ini. Serta akan menjadi dalih bagi hal serupa (reklamasi) di berbagai daerah lain. Walaupun penolakan di berbagai daerah relatif (tidak sama satu dan lainnya).

Lalu, di masa depan saya tidak ingin membayangkan apa yang terjadi di depan rumah. ketika kita secara tidak berdaya berhadapan dengan investasi yang besar, tanpa “senjata” hanya siap untuk jadi pesuruh bagi kalangan berduit. Ini diri kita, dan pulau ini RUMAH bagi kita saat ini dan kelak. Ada memori manis saja di masa kini, namun di masa depan tidak. itu yang jauh membuat saya khawatir. Anak dan cucu kita, tidak menikmati rumahnya sendiri, hanya jadi penonton dan orang yang berdiri di pinggir lapangan. Tiba-tiba terpikir apa yang dikerjakan VOC pada masa jayanya terhadap berbagai masyarakat di Nusantara. Mereka tidak memiliki apapun atas tanah kita, namun mereka menikmati setiap tetes keringat yang dihasilkan oleh bumi dan lautan Indonesia. Pajak-pajak diangkut ke Belanda untuk mengisi kantong-kantong kolonial. Tujuannya tidak lebih dari sekadar menindas bangsa lain untuk dihisap hingga sehabis-habisnya.

Investasi yang ditanam di dalam negeri oleh berbagai investasi asing (dan bahkan oleh pengusaha dalam negeri) selalu dalam keadaan yang tidak pasti. Tidak ada kepastian yang mengikat mereka untuk terus menanam modalnya, dan negara ini sangat rentan berbagai gangguan dari luar serta dalam negeri. Pengusaha dalam negeri, jauh tidak mengerti keadaan lingkungan, sosial dan masyarakat dalam menanam investasi. Kalkulasi ekonomi selalu jadi patokan, namun biaya kerugian sosial, budaya, lingkungan, tidak pernah masuk dalam hitungan mereka. Setidaknya hal tersebut yang saya lihat dalam kasus Reklamasi Serangan dengan rusaknya pantai wilayah Bali Timur, Rusaknya kawasan Tegal wangi, Jimbaran atas rencana pembangun BIP (Bali International Park), Kawasan Sawagan atas berdirinya hotel-hotel besar sekelas Mulia Resort.

Jika, banyak teman-teman yang sinis melihat hal ini sebagai sesuatu yang sia-sia. Lalu kenapa kita bertengkar untuk hal yang sia-sia pula. Jika kamu tak ingin ikut dalam upaya penolakan, janganlah sinis, menghina, dan membuat pertengkaran. Yang pintar akan lebih baik untuk mengutarakan pendapatnya secara lugas, santun, dan bersahaja. Kawan-kawan yang tengah berjuang merendahlah sedikit guna menghimpun tenaga yang lebih besar. Jangan jadi penonton, karena saya percaya kita ini bukan sapi terikat di pinggir lapangan yang tengah menyaksikan pertandingan yang menentukan di masa depan. Tabik!

*sumber gambarnya http://bit.ly/2bFBUpZ

Advertisements

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kenapa Kita Begitu Sinis? at Sudut jalan.

meta

%d bloggers like this: