Kuasa, Ruang Publik, dan Bangun Kesadaran Masyarakat

September 10, 2016 § Leave a comment

Ruang-ruang pulik adalah ruang yang mencerahkan. Dimana seluruh manusia kedudukannya sejajar dan berpikir soal kemanusiaanya di tengah aktivitas yang serba kilat setiap harinya.

Ruang-ruang pulik adalah ruang yang mencerahkan. Dimana seluruh manusia kedudukannya sejajar dan berpikir soal kemanusiaanya di tengah aktivitas yang serba kilat setiap harinya.

“Tidak adanya pemahaman bahwa ruang terbuka kota sebenarnya menjadi hak publik untuk bersosialisasi, berinteraksi dan berdemokrasi, adalah pola pikir feodal dari pihak penguasa dalam memandang arsitektur dan ruang kota sebagai aset kekuasaan.”

-Ridwan Kamil-

Publik space, pikiran kita akan mengacu pada Lapangan Puputan Badung dan Renon bagi kawan yang beraktivitas di sekitar Denpasar. Menurut Kevin Lynch menerjemahkan ruang tersebut sebagai  titik (node) dan tetengger (landmark) dari sebuah kota (Image of the city).

Tak asing dengan Monas atau Budaran Hotel Indonesia di Jakarta. Atau berkunjung ke Bandung tidak lengkap jika tidak berfoto di sekitaran Dago di depan Gedung Sate (Pusat pemerintahan Jawa Barat).  Bagi yang gemar ke luar negeri kota- kota besar seperti New York, Paris, Milan, dan bahkan Washington, anda tidak lupa mengunjungi taman kota dan bangunan (museum, panggung pertunjukan,perpustakaan, monumen, dll) terkenal.  Masyarakat di kota tersebut mengenal ruang publik sebagai ruang yang mampu menunjang aktivitas bersama masyarakat, diantaranya; rekreasi, studi, diskusi, dan berbagai aktivitas sosial budaya dalam satu tempat/ kawasan di dalam kota sebagai ruang publik. Ruang publik adalah ruang yang dimiliki masyarakat dengan segudang aktivitas bersama dengan masyarakat lain.

Ruang publik bagi masyarakat indonesia merupakan ruang- ruang silaturahmi berbagai entitas saling berbagi, belajar, bercerita, dan berinteraksi dengan sesama. Ruang- ruang ini mewadahi berbagai wacana (terhadap kebijakan pemerintah misalnya) untuk berdialetik, bergulat, bergumul serta saling melengkapi. Pada akhirnya membentuk (sintesa) wacana yang yang utuh, mufakat dan mencakup berbagai pendapat dan mengedepankan kepentingan bersama.

Jadi dapat dibayangkan kota kita di indonesia tidak memiliki ruang publik/ minim ruang- ruang interaksi. Mungkin akan muncul entitas yang penuh dengan tekanan, emosi dan stres berkepanjangan, berimplikasi pada hilangnya kepedulian dan dialog antar masyakat. Nihilnya saluran aspirasi dan diskusi dengan berbagai komponen malah dapat menimbulkan anarki dan kekerasan yang tiada henti.

Ruang Publik, Ruang yang Bersuara

“We shape our building, and afterward our building shape us”. Kalimat tersebut  diutarakan oleh Wiston churcil, Perdana Menteri Inggris pada masa Perang Dunia kedua (1939-1945). Ia menganalogikan berbagai hal adalah sebuah bangunan yang kita bangun/ bentuk, nantinya akan membentuk diri kita (manusia). Baik secara perilaku, maupun segala kebiasaan, dan pola pikir kita. Begitu pula dengan ruang publik dapat membentuk kesadaran kita (walaupun beberapa arsitek tidak sependapat dengan hal tersebut). Melalui ruang – ruang fisik berupa social setting (tembok, fasade, atap, monumen, taman, ruang terbuka. Yang terpenting membentuk jati diri kita adalah memori yang melekat dalam individu terhadap ruang publik.

Memori/  ingatan kolektif merujuk pada ingatan yang melekat (dan tidak melekat). Serta mengartikulasikan berbagai peristiwa yang pernah terjadi di areal tersebut, entah peperangan yang dashyat, atau peristiwa bersejarah penting, demonstrasi besar, bahkan pembunuhan massa. Atau dapat berupa kenangan pribadi terhadap ruang publik yang terhimpun dalam memori kolektif tersebut. Walaupun didalam konsepnya memori kolektif mengalami proses pelupaan untuk kembali mengingatnya.

Ruang publik digagas oleh Jürgen Habermas, seorang sociologist dan salah satu pemikir yang meneruskan trah Frankurt. Frankurt School merupakan rumah dari para pemikir besar Jerman seperti Kant, Karl Marx, Hegel, Freud dan banyak lagi. Habermas menjelaskan  ruang publik muncul di inggris dan perancis. Ruang ini merupakan tempat berkumpul dan berdiskusi nonformal di warung- warung kopi. Masyarakat ketika abad ke-18 mendiskusikan musik dan seni yang baru. Namun tak jarang diskusi berujung pada berbagai kebijakan pemerintah. ruang ini dianggap efektif mengontrol dan membangun kesadaran masyarakat. saat ini pemikirannya berkembang pada media massa yang merupakan bentuk nonfisik dari ruang publik.

Aksi- aksi unjuk rasa merupakan hal yang sering  dilakukan. Pagar- pagar baik fisik dan peraturan juga sekaligus menjadi barikade bagi masyarakat memanfaatkan ruang publik. Masyarakat yang memanfatkan ruang- tersebut tidak bebas untuk mengutarakan permasalahan, ketakutan, dan stress yang membelenggu. Ruang – ruang  yang seharusnya membangun peradaban melalui wacana- wacana yang cerdas dan kritis. Mengingat sangat sedikit ruang – ruang publik dan sikap individualis kita tidak membangun proses adab menjadi peradaban itu.

(Sebenar-benarnya adalah tulisan lama, untuk update blog semata. Jika memang ada esensinya silakan untuk dihayati kembali, suwun)

Advertisements

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kuasa, Ruang Publik, dan Bangun Kesadaran Masyarakat at Sudut jalan.

meta

%d bloggers like this: