Grundelan 1: Di antara Realitas Sehari-hari dan Kondisi Aktuil

September 28, 2016 § Leave a comment

Saya punya ketertarikan khusus akan politik, mungkin salah masuk jurusan ketika berkuliah. Terlebih lagi sejak sekolah dulu hobi berdebat dengan teman sekelas terutama pelajaran-pelajaran sosial dan PPKN. Apalagi kemudian berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang lampau soal-soal sejarah dan juga peristiwa-peristiwa mutakhir terkini.

636105255536295163-gty-610601290

Trump dan Hillary Clinton, debat Capres Amerika Serikat tadi pagi. (Sumber)

Pagi hari sudah disuguhkan debat Hillary Clinton dan Donald Trump. Ini masuk peristiwa sejarah berhubungan erat dengan politik. Sejak kemarin ketika ngobrol dengan mbok jurnalis cum fotografer, entah dia sedang concern sekali dengan politik Amerika, sampai lupa debatnya jam sembilan, malah dibilang pukul tujuh. Mungkin ada gangguan dari keseleo tangannya setelah tabrakan kemarin. Untung sudah ke tukang urut kenalannya Mbok-mbok wartawati senior (terima kasih banyak mbok). Semoga segera mengetik kembali, lumayan tangan kiri buat ngetik huruf A dan shift buat kapital saat buat berita.

Berhubung saya belum bercerita tentang Project #MerekamBali, karena tulisan yang dipublikasikan tadi pagi sekadar pembuka, ada baiknya saya ceritakan apa yang saya lakukan hari ini. Jika dirunut pada satu topik mengenai Bali, setidaknya dari sore saya berpikir untuk menulis beberapa hal. Pertama soal pemilukada Bali dengan bayang-bayang para Cukong (ini hasil diskusi berat bareng mbok-mbok galau yang bosen dengar politik dan Bli Jung, owner clothing ternama hobinya analisis politik dan perdagangan) dan topik satunya soal mebraya (bersaudara).

Politik dan mebraya adalah hal yang jelas bertentangan, mengingat politik begitu cair tergantung pada kepentingan siapa yang kuat, punya kuasa, materi. Sedangkan Mebraya adalah soal kesetaraan yang dibangun oleh asas persaudaraan yang setara. Lalu saya kok tiba-tiba  teringat Gandhi soal prinsip-prinsip yang digunakan dalam menentang kolonialisme Inggris. Karena ada buku autobiografi Gandhi lawas terjemahan yang sempat saya buka dan baca pada bagian awalnya. Politik dan mebraya tidak akan pernah bertemu, alih-alih bertemu seperti yang terjadi di banyak pemilihan umum, mereka hanya mengambil rupa bersaudara. Seolah-olah sama, namun belum dapat mencapai wajah yang ramah, dan sangat rawan terjadinya pengkhianatan seperti wakil-wakil yang dipilih rakyat tiap lima tahun. DPR, DPD, DPRD, bahkan pemerintah di segala lini sangat sulit dipegang omongan dan janjinya.

Apalagi kalau berbicara “perselingkuhannya” dengan cukong. (Husss)

Prinsip-Prinsip perjuangan Gandhi (Untuk Masyarakat)

marche_sel

Gandhi dalam Salt March, 1930. Perjalanan sejauh 390 Km menyikapi kebijakan pajak garam yang tinggi oleh kolonial Inggris. (Sumber)

Kenapa Gandhi menyarankan boikot terhadap produk-produk buatan Inggris dan menyarankan menggunakan produk-produk buatannya sendiri? atau melakukan tindakan yang semata-mata hanya berlandaskan kebenaran, cinta kasih, dan tidak menyakiti. Ada satu hal yang sama saya lihat dalam perjuangan Gandhi dan masyarakat Bali kini.

Saya sangat apriori dengan gerakan yang mengatasnamakan ajaran-ajaran khas Gandhi. Ada yang serba-serba indiasentrik, walaupun kita tidak sama dengan india. Ada yang kemudian mengail sensasi di air yang keruh. Berpikir mampu untuk membangun kemandirian ekonomi berbasis bisnis rakyat tapi begitu permisif dengan investasi besar. Lho kok bisa, kan saya tidak percaya para anggota dewan yang dipilih tiap lima tahun bisa berbuat sesuatu. Walaupun tidak semuanya, bagi bapak-atau ibu yang merasa telah bekerja untuk rakyat mohon dicatat sendiri segala kebaikannya selama ini. Jika boleh ditulis di blog atau website pribadi agar kami masyarakat yang mbingung ini dapat membaca dan menilai.

Adanya kesamaan tersebut, hendaknya saya jabarkan satu-persatu. Supaya jelas dan tidak membingungkan kawan-kawan sekalian. Yang paling mendasar adalah bagaimana melawan sebuah institusi super kuat baik itu penjajah model lama ataupun model baru bernama investasi. Selanjutnya adalah perasaan tidak berdaya. Hal ini yang paling dominan saya rasakan dalam diskusi-diskusi yang begitu mbulet, soal Reklamasi teluk Benoa dan pelbagai diskusi mengenai Investasi lainnya di seluruh dunia. Hingga sampai pada simpulan saya harus meninggalkan planet bumi dan bermigrasi ke dunia lain di galaksi lainnya.

Ada satu pernyataan yang bunyinya kurang lebih seperti ini “Dunia ini sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang, tapi  akan kurang jika hanya memuaskan nafsu serakah satu orang saja.” Lalu apakah pindah negara sangat realistis ketika keserakahan satu orang tidak cukup dipenuhi oleh seluruh isi dunia? Teringat perkataan dalam diskusi mbulet tadi.  Ketiga adalah antara harapan dan musibah ada dalam garis yang sama. Jika dilihat secara sejajar garis tersebut selalu ada titik yang hilang atau realitas kejutan, dimana semuanya serba tidak terduga. Terakhir adalah selalu kita bertanya seperti apa setelah mencapai titik nadir tersebut.

Semuanya, menandakan adanya sebuah persamaan sejarah (walau menurut berbagai pandangan sejarah lebih mirip dengan spiral). Tapi pelajaran-pelajaran selalu dapat dipetik dari peristiwa sejarah. Longmarch panjang Gandhi selama 24 hari yang dikenal dengan Salt March menempuh 390 Km dari Ahmedabad hingga tepi laut Arabia. Hampir setidaknya 60.000-80.000 orang ditangkap. Atau pemogokan buruh di Ahmedabad yang tanpa adanya kekerasan, tidak ada penganiyaan pada yang berkhianat, bergantung pada kekuatan sendiri dan konsisten. Sekilas pelajaran-pelajaran itu yang hendaknya para muda ambil ketika berada dalam posisi saat ini. sekaligus pesan untuk teman-teman yang tengah berjuang saat ini.

history-repeats-itself-first-as-tragedy-second-as-farce-quote-1

Sejarah akan berulang dengan sendirinya, pertama sebagai tragedi, dan yang kedua sebagai komedi yang satir. (terjemahan bebas dan sumbernya)

Lalu apa pengejawantahan yang nyata dari slogan-slogan yang dikatakan indah melalui sejarah dari Gandhi?

Saya selalu setuju pernyataan Bung Pramoedya Ananta Toer, “Selama penderitaan datang  dari  mannusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia.” Selalu ada hal-hal yang bisa dikerjakan dalam perlawanan ini. Entah perlawanan itu harus kalah dan membuahkan sebuah kota baru yang katanya anggun. “ Kita telah melawan nak , Nyo. Sebaik-baiknya, Sehormat-hormatnya.” Dan “ Setiap pejuang bisa kalah dan terus-menerus kalah tanpa kemenangan dan kekalahan itu gurunya yang terlalu mahal dibayarnya. Tetapi biarpun kalah, selama seseorang itu bisa dinamai pejuang dia tidak akan menyerah. Bahasa Indonesia cukup kaya untuk membedakan kalah daripada menyerah.” Semuanya tentu saya ambil dari goodreads karena saya paham membaca bukunya perlu  waktu yang cukup panjang.

Tapi perjuangan belum selesai, titik nadirnya sendiri belumlah kelihatan. Masih sekitar 2-3 tahun lagi. Kita belum tentu kalah dan ada di titik kematian. Jauh jika dikatakan perjuangan kita seperti apa yang dilakukan Gandhi, yang hanya dengan puasa saja bikin gentar Inggris, atau menggerakkan masyarakat India mencapai kemerdekaannya dari inggris, karena masalah garam dan ketidakadilan akan perlakuan penjajah. Atau perjuangan Kartini-Kartini Kendeng yang puasa (tanpa paksaan dan kekerasan) sembari membeton kakinya dengan blok semen hingga memaksa Presiden Republik ini bertemu. Ingat kita belum apa-apa jangan legawa!

Atau perjuangan Pak Sandyawan Sumardi dan kawan-kawan Ciliwung Merdeka serta Forum Pencinta Kampung Kota. Mereka  yang notabene memiliki perencanaan membuat hunian vertikal untuk warga Kampung Pulo saja masih berjuang dan memasuki fase baru dalam perjuangan, tidak pernah berhenti. Kita jelas belum apa-apa? Dan belum berjalan kemana-mana?

Bersambung..

Nb. Ceritanya bersambung berhubung telah pukul dua pagi. Nama-nama yang disebutkan dalam teks tersebut benar adanya, mohon maaf atas penggunaan namanya karena saya pikir blog adalah domain yang pribadi dan bukan bersifat komersil serta menjatuhkan pribadi tersebut secara personal. Terima kasih.

Advertisements

Tagged: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Grundelan 1: Di antara Realitas Sehari-hari dan Kondisi Aktuil at Sudut jalan.

meta

%d bloggers like this: