Cari Bangunan Jengki di Denpasar

October 11, 2016 § Leave a comment

Iri betul melihat peninggalan arsitektur di Surabaya dan Madura. Perjalanan menuju dan berkeliling kota-kotanya sangat berkesan. Masuk gang-gang sempit selalu saja berbuah manis, bangunan-bangunan tradisional berumur ratusan tahun atau bangunan kolonial hibrid dengan gaya cina selalu membuat saya terkesima. Rata-rata peninggalan tersebut berada dalam kondisi yang masih utuh, walaupun beberapa bagiannya rusak atau tidak terawat. Tapi bagi saya atau kawan-kawan yang menyukai hal-hal berbau kuno wajib menjajal dua kota ini.

img20160909165057

Jengki di Kapedi, Blutoh, Sumenep, Madura milik seorang jurangan tembakau. Gaya jengki dapat dilihat dari bebasnya ekspresi bahan bangunan, atap pelana yang (kadang) tidak simetris, adanya lubang angin (kerawang) sebagai salah satu elemen dekoratif. bentuk bangunannya yang rada miring mirip pentagon, dan adanya kanopi terpisah dari struktur bangunan utama yang ditopang kolom yang mengecil ke bawah, miring atau dengan bentuk yang tak lazim. Jengki adalah soal ekspresi bangunannya.

Setelah balik ke Bali beberapa minggu lalu, saya jadi tiba-tiba menjadi begitu terobsesi. Terutama ketika perjalanan pulang dari denpasar menuju rumah. Mata saya melihat sekitar, kadang-kadang ditengah perjalanan hampir menabrak atau menyenggol kendaraan lain. duh berbahaya saya pikir. Ketika melintas jalan Gajahmada, Hasanudin, Diponegoro, atau melintas sekitar veteran selalu saja saya sibuk mencari bangunan-bangunan agak lawas. Sembari berpikir kira-kira pengaruh apa, tahun berapa, apa yang unik dari bangunan yang saya lihat. Fiks, saya terkena sindrom kunosentrik atau setelah melaksanakan penelitian jengki jadi semacam sindroma jengki.

Lalu saya putuskan untuk berkeliling jalan kaki. Karena merasa bahwa naik kendaraan cukup membahayakan dan sangat sedikit objek yang dapat dilihat. Jalan kaki di kota denpasar, sebenarnya cukup nyaman, karena di beberapa jalan protokol kondisi trotoarnya cukup baik. Namun yang kadang permasalahan yang ditemukan dalam berjalan kaki adalah banyaknya orang yang memanfaatkan trotoar atau emperan toko. Hal yang lumrah kalau berkunjung ke jalan Diponegoro atau Hasanudin (di pertokaan Mas Suci, denpasar). Ibu-ibu pegadai emas duduk dengan santainya. Kadang bertemu yang sibuk mejejahitan, atau tengah selonjoran dengan kaki lurus dengan kacamata hitam, dan tas gendong kecil dalam jepitan ketiak.

Bagi pejalan kaki harusnya maklum, para pedagangan ini hanya memanfaatkan ruang yang mereka anggap tidak terpakai. Adanya pasar atau tempat berdagang yang layak serta pembeli saya pikir dapat membantu mengurai permasalahan pedestrian yang umum terjadi diperkotaan. Ruang-ruang privat harus dibagi dan dibijaksanai mengingat adanya kepentingan bersama, yang kemudian justru menambah nilai ruang perkotaan. Kohesi sosial mungkin dapat dibangun antara pemilik lahan, pedangang, dan pembeli. Tentu jauh sangat menguntungkan.

Ruang-ruang kota seperti pusat kota denpasar juga memiliki  makna dan rasa ruang yang menarik. Kehadiran bangunan dengan ragam bentuk serta gaya sebenarnya memiliki keterkaitan akan tempat dan waktu yang lampau, dan kita bisa menebak-nebak cerita-cerita yang berlangsung di tengah kota. Bangunan-bangunan ala ruko pecinan, indische, streamline masih bisa ditemukan di kota ini. jika bergeser ke daerah Renon atau civic center bangunan beton, gabungan brutalisme, internasional style, dan ukiran bali menyatu. Namun jengki apakah ada?

Saya memutuskan suatu sore, untuk keliling jalan kaki. Sebelum sampai untuk parkir kendaraan, saya berhenti di depan bioskop Depasar, kemarin sebelum memutuskan untuk berjalan kaki berkeliling cari jengki, malam saat saya pulang bangunan tersebut yang saya lihat dan ketika itu memutuskan untuk berjalan kaki. Gayanya campuran agak mirip ruko pecinan, namun dengan kolom yang menyangga atapnya miring, mirip rumah-rumah kebayoran yang tampil di Film tiga dara (yang belum nonton-nonton dululah).

img20161003165249

Ruko (Rumah toko) di dekat bioskop Denpasar yang membuat saya penasaran untuk berkeliling mencari bangunan Jengki. Kolom penyangga atap yang miring, pengaruhnya mungkin dari bangunan Jengki.

Sampai Puputan Badung, motor saya parkir dekat kantor Pangdam Udayana. Di kejauhan ada bangunan yang menarik di samping kantor Garuda Indonesia, sepertinya semacam rumah dinas bagi pegawai pemerintarahan. Mungkin ada pengaruh jengkinya sedikit. Hanya bagian depan yang menggunakan atap pelana, gewelnya lengkap dengan tekstur semen. Tidak masuk hingga depan, karena ada mbak-mbak sedang menyapu. Fotonya hanya dari trotoar saja dan agak tidak jelas karena cukup rimbun disana-sini. Hanya sebentar, kaki mengarah ke jalan beliton menuju jalan Sumatera. Di samping Kantor Yayasan Dana Punia Bali milik Raja Majapahit Bali, Om AWS (karena namanya kepanjangan) bangunan serupa dengan atap pelana. Gewelnya (bagian tembok depan yang berada dibagian bawah atap rumah) hanya dicat putih, tekstur batanya masih kentara. Saya foto agak nyamping dari bangunan tersebut. lalu berlalu.

img20161003170306

Rumah di sebelah barat Kantor Garuda Indonesia, sebelah selatan Lapangan Puputan Badung. Gewel (Tembok depan yang berada di bawah atap) memiliki tekstur yang berbeda serta kanopi betonnya punya pengaruh gaya jengki.

Samping persimpangan jalan Diponegoro dan dan Hasanuddin, dekat toko jam bangunannya dengan atap pelana. Warnanya putih polos, dekorasi berupa tekstur batu hanya sampai setengah temboknya hampir di seluruh dindingnya. Agak sulit menyebarang jalan, lalu lurus menuju arah toko emas Suci, Denpasar. Tepat di depan toko emas, dekat tempat les fisika, kimia, matematika samping Mesjid. Ada rumah bercat biru, lengkap dengan atap pelana, beranda (portico) dengan kanopi beton, gewelnya mirip yang saya temukan sebelumnya di jalan Beliton (yang hampir semua rumah bergaya sama menggunakannya), kerawang (lubang angin) yang melilit tipis dibawah atap kanopi.

img20161003171030

Dekat, simpang Jalan Diponegoro-Hasanudin-Sumatera, Denpasar. Atap pelana dan penggunaan tekstur batu pada bagian dindingnya yang ekspresif.

img20161003171311

Bangunan rumah dekat masjid di depan pertokoan emas Kawasan Suci, Denpasar. Jengkinya lebih terasa, walaupun tidak terlalu ekstrim tentu saja ini sangat menarik.

Hanya sebentar, lalu bergegas melewati jembatan lalu berbelok ke kiri masuk jalan Bukit Barisan menelusur Tukad Badung. jalan ini saya jarang lewati, karena tidak terpikir untuk memotong jalanan padat dari Pertokoaan Kertawijaya, atau dari Jalan Diponegoro tanpa melewati macetnya di Depan pertokoan emas sepanjang sore sepulang kerja.  Bangunan sepanjang sungai ditata rapi, ada lengkap dengan tepiannya yang cukup, ada pilinggih kecil. Cuma kemarin tidak banyak yang mancing. Melipir ke Jalan Pulau Buru lurus dikit, belok Jalan Pulau Buru satu setelah Pasar Pekambingan yang mungil dan mengular sepanjang selokan. Tembus jalan Jalan Madura, belok kiri menuju Diponegoro. (yang nggak kepikiran jalannya, boleh ditelusur via google Maps). Tepat diseberang jalan ada rumah mungil dengan lubang angin menarik pada gewelnya, jendela dan hampir seluruh kusennya memiliki topi beton, lubang angin dan beton dipadu dengan jadi kolom untuk kanopi dari genteng.

img20161003172632

Bangunan Rumah di Jalan Diponegoro, Denpasar berada di depan Jalan Pulau Buru. Lubang anginnya menarik, kusen-kusennya juga dilengkapi topi beton walaupun tidak terlalu kentara.

Lantas berbelok kanan menuju komplek pertokoan Kerta Wijaya, melihat banguanan perusahaan Pronas yang agak Indis. Niatnya balik mencari jalan ke seberang Jalan bukit Barisan, masuk gang sebelum Toko Petualang belok kanan tepat di belakang pertokoan Suci. Menelusur gang.  Banyak bangunan dengan atap pelana, ada yang jejer beberapa, namun rumah bergaya lebih kuno banyak sekitaran dibawah tahun tahun 50-an. Umumnya rumah masyarakat. langsung turun, tepat di seberang Jalan Bukit Barisan, jalan pinggir sungai ini resik. Sampahnya nihil ditambah paving (walau tidak dengan bioporinya) ada sumur dan pemandian umum tahun 66 namun tidak dipakai lagi. Kira-kira pukul 6 sore. Keluar di gang persis sebelah toko mas di Jalan Suci. Kemudian dibantu Polwan yang berjaga menyeberang menuju jalan Sulawesi yang dikenal sebagai sentra penjualan kain. Belok kanan di Kalimantan.

img20161003174441

Gang-gang kecil kota selalu menyimpan kejutan- kejutan seperti deretan bangunan ini.

img20161003174744

Sumur dan Pemandian umum bertuliskan tanggal pembuatannya 1-1-1966. Pastinya ini bangunan/peninggalan cagar budaya.

img20161003174755

Suasana adem tepi Tukad Badung. Bagian dari cerita jalan-jalan sore kali ini.

Di ujung  jalan, ada rumah serupa. Warna temboknya putih cukup besar, dengan atap pelana dan gewel bertekstur bata. Rumah nomor satu tersebut, karawangnya tipis  dibawah kanopi beton. Itu rumah yang terakhir yang saya temukan. Beberapa hari setelah berjalan-jalan tersebut, rumah dengan ciri-ciri serupa juga saya temukan di jalan Pulau Natuna yang berada dekat Toko Puri Jam. Kecenderungan tred dari rumah dengan gaya tersebut mungkin sempat menjangkiti pusat kota ini. Daerah perdagangan memilki kecenderungan meniru yang tinggi, apalagi adanya akses untuk membangun serta adanya bersentuhan dengan pengaruh dari kota lain. Jengki atau bangunan ekletik mirip jengki bisa saja hadir di sebuah kota, namun juga dapat berubah sesuai kotanya. Citra-citra bangunan juga dapat menentukan wajah kotanya, warnanya beragam, dan tentunya bisa menjadi bagian identitas kota. Menikmati bagian kota juga bagian rekreatif yang menarik dan juga sehat, sekaligus upaya mengenal tempat hidup kita, melihat masalah dan berbenah.

img20161003175426

Rumah nomor satu Jalan Kalimantan, Denpasar. Karawang, gewel, atap pelana dan juga kanopi beton hadir sedikit malu-malu tidak seperti jengki di Jawa yang sangat ekspresif. Mungkin karena adanya modifikasi pada bangunan yang umumnya jengki, ada peniruan, dan gaya seperti ini dapat ditemukan di Kawasan Heritage Denpasar ini.

img20161003175935

Sedang jalan pulang, diringi deret pertokoan di simpang Gajahmada dan Sumatera, Denpasar.

Lalu perjalanan sore itu diakhiri dengan berjalan kembali, menyusur jalan Sumatera dan Gajah Mada hingga Puputan Badung. Terpikir melakukannya kembali, dengan lebih banyak orang. Ditunggu saja kabarnya.

Advertisements

Tagged: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cari Bangunan Jengki di Denpasar at Sudut jalan.

meta

%d bloggers like this: