Sanur dan Kejadian-Kejadian Kecil Minggu Pagi

October 18, 2016 § Leave a comment

Bau teh bandulan masih tersisa di jari saya, ketika tadi hanya menuangkan sejumput dari wadahnya dengan cap dagang “Gardoe”, asli buatan Surakarta.  Menyeduhnya dengan gelas selai untuk menjual ice tea seharga Rp.15.000. Hanya gelas tersebut saya rasa pas untuk menemani mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus menulis untuk piket ngeblog saya minggu ini. Saya menulisnya hari senin (keinginannya) walaupun tidak selesai toh sudah ada bahan yang cukup mengisi blog. Beberapa teman yang ikutan gabung ngeblog seperti sedang sibuk, karena pekerjaan dan juga kegiatan, dimana mereka bergabung sebagai volunteer. Tentu saja hal tersebut dapat jadi hal yang menarik. Tidak semua orang punya pengalaman tersebut. Pantas untuk diceritakan melalui media. Berbagi tentu saja memberi arti bagi cerita-cerita tersebut.

Hal-hal yang kecil pun patut diceritakan, apalagi cerita-cerita yang jauh lebih besar dengan skala yang tentunya mencakup kepentingan banyak orang. Begitu yang saya katakan kemarin, dengan patner perjalanan pagi saya, Cile kemarin. Sanur jadi pilihan saya, dengan gaya agak “memaksa”, kami akhirnya jadi melepas waktu bersama. Seminggu terjebak rutinitas, dengan tensi yang tinggi. saya pikir juga patut diakhiri dengan jalan-jalan pagi. Walaupun hari kemarin bukan hari liburnya, ia mau menghabiskannnya hingga siang, Suwun ya, Mbak.

Sanur ramai sekali. Keluarga-keluarga menghampar diatas pasir. Ada yang mandi dan berbelanja. Pedagang menangguk rejeki yang lumayan. Hari kemarin ada yang beda. Bagi saya yang jarang berkunjung ke Sanur dalm jangka waktu yang cukup lama. Atraksi paralayang dengan baling-baling sangat memukau. Beberapa teman mengabadikannya  dan mengunggahnya lewat instagram. Agak ngeri juga ketika atlet-atlet mahir ini terbang rendah, mirip elang menyambar anak ayam. Mungkin ada beberapa orang yang terganggu, tapi masih lebih banyak kagumnya. Kedua, yang tentunya membuat mata tidak berkenan adalah masalah sampah di sepanjang pantainya.

Sanur Minggu pagi nampak ramai dengan pellbagai aktivitas dari olahraga, dagang hingga hanya sekadar berjalan-jalan.

Ini (mau) musim penghujan pikir saya. Wajar sampah-sampah dari laut berhamburan ke pantai. Pengunjung tetap saja melanjutkan aktivitasnya di pantai. yang justru bekerja keras adalah ibu-ibu DKP dengan baju hijau sibuk mengumpulkan dan mengubur gelas-gelas air mineral (yang lebih banyak terlihat) serta sampah-sampah lainnya di bawah pasir. Salah satu diantaranya sibuk dengan cangkul berukuran sedang. Dengan keringat di dahi dan juga nafas terengah.

Makin berat pekerjaannya karena banyak sampah yang ditinggalkan pengunjung. Saya berseloroh, kenapa pengunjung lebih senang pakai plastik ya bukan pakai tas kepada wartawan yang saya ajak jalan-jalan ini. sesekali juga berseloroh,  mungkin saja  bapak-bapak yang menanam diri dengan sampah yang ditanam ibu-ibu DKP tadi. Kontan ia tertawa, mungkin ia tengah membayangkan yang saya katakan.

Ibu-Ibu DKP sedang mengumpulkan dan menimbun sampahnya di pasir. tentu tidak efektif karena menyisakan sampah. Tapi perjuangan mereka membersihkan patut untuk diapresiasi dengan membuang sampah yang kita bawa.

Matahari tinggi, agak panas, padahal jaket sudah saya tanggalkan dan gantung di tas selempang. Mungkin telah terbit pukul enam pagi, ini pukul setengah delapan. Plastik merah besar saya temukan tidak bertuan, entah siapa yang punya. Mirip dengan anak-anak yang durhaka pada orang tuanya meninggalkan mereka di panti-panti jompo setempat. Kebermanfaatannya hanya sekedar lalu saja. Padahal masih dapat digunakan. Isinya hanya pembungkus snack mie garing kesukaan Igun, fotografer konser dan kawan inisiasi kegiatan minggu menanam.

Dekat pantai Shindu, lebih bersih dibandingkan utara Hotel Bali Beach. Mungkin sudah dibersihkan sejak subuh tadi, saya tidak tahu. Segerombolan anak-anak dengan cepat menyerbu sampah-sampah berserakan. Dengan setengah lari, para pemuda-pemudi dengan baju putih-putih ala petarung sembari membawa tas kresek merah besar memunguti sampah. Walaupun tidak semua diambil, mungkin dapat berarti bagi masyarakat lainya yang menikmati pantai juga. Jika kemudian Cile bercerita tentang dualitas pada blognya. Saya bersepakat demikian. Selalu saja ada sisi-sisi yang berlainan yang tentu sangat seimbang. Mirip dengan konser kesukaanya yang tidak ia tonton dan hanya membaca liputannya di Kompas. Yang peduli dan juga yang abai juga serupa. Namun permasalahan sampah  ini juga demikian.

Omang-omang atau kelomang, saat ini jarang ditemukan di pantai. Tengah berjalan di plastik merah besar yang ditinggalkan pengunjung di pinggir pantai. Hidup mereka makin rumit dengan sampah, bayangkan manusia berada dalam posisi sama.

Komunitas-komunitas peduli lingkungan mulai gencar melaksanakan pembersihan. Ha l yang sangat positif, anak-anak muda ikut aktif dan berkontribusi. Gerakan-gerakan ini makin besar. Seperti Malu Dong, buang sampah sembarangan! Hingga green habitat yang bersih-bersih tiap hari minggu. Bagi yang memiliki kepedulian dan ingin gabung dengan komunitas, bisa bergabung dengan mereka. Atau yang jauh dari denpasar juga bisa buat sendiri dengan beberapa kawan-kawan yang visinya sama, bisa bekerja dengan bendera-bendera tersebut, atau membuat secara mandiri dan bekerja sama. Makin banyak ikut makin baik.

Minggu di pantai harus diselesaikan, mandi pun belum plus perut keroncongan. Ada kerumunan yang menarik didepan pintu masuk Pantai Shindu. Wajahnya familiar, artis-artis ibukota dengan pakaian kuning terang. Saya juga melihat ibu Wakil Gubernur seperti menyambut rombongan berjas kuning tersebut. Tantowi dengan postur tegap tampak mengamati sekelilingnya. Pendek saya berpikir mungkin ada pertemuan dengan petinggi partai di sini. Setelah memesan roti bakar, kami jalan kembali ke parkiran. Nampak seseorang dengan kemeja putih ngobro dengan warga yang duduk di pantai. posturnya saya tahu dan kenal. Dengan rambut belah samping agak klinis. Setya Novanto saya rasa.

Lalu saya berseloroh saja pada cile, perihal penghapusan kasus permintaannya akan saham Freeport di Badan Kehormatan DPR. Kok saya geli dengan tingkah polah politisi kini. Mungkin akan kembali menjadi ketua DPR setelah namanya dipulihkan kembali. Diketengahkan pola soal Archandra dan Ignatius Jonan yang menjadi menteri dan wakil menteri secara mendadak. Sangat mungkin adanya perihal agenda tertentu oleh Presiden mengenai ESDM. Ditunggu saja. Kesalahan-kesalahan begitu cepat untuk dilupakan dan dimaafkan.

Sanur punya arti penting juga ke depan, semoga pantai ini makin bersih, pengunjung memungut sampahnya sendiri, yang merasa sampah masyarakat bisa berendam di pantai siapa  tahu masalahnya hilang dan dilupakan. Pantai punya fungsi penting bagi kami, begitu banyak orang. Dijaga dan dirawat bersama. Namun kemarin itu hari Minggu, terlampau jauh untuk sekedar bertukar pandang semata. Minggu kami jadi beragam, dan selebihnya untuk merayakan hal-hal yang kecil.

Advertisements

Tagged: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sanur dan Kejadian-Kejadian Kecil Minggu Pagi at Sudut jalan.

meta

%d bloggers like this: