Mabesikan Festival, yang Terlewat Minggu Lalu

November 1, 2016 § Leave a comment

54981cc9754dfeceef621018f28d6867

Poster Mabesikan Festival (sumber).

Masih terekam jelas penyelenggaraan mabesikan fest beberapa minggu lalu. Yang jelas teringat tentu saja gurauan dengan kawan-kawan yang jarang bertemu. Mereka adalah teman-teman yang bekerja di pelbagai sektor, terutama kreatif, ada ilustrator, artis, komikus, ada arsitek, penulis, seniman dan juga tidak ketinggalan wartawan. Aktivis penggerak sosial yang hanya dapat dilihat di aksi-aksi jalanan dan layar gadget bisa ditemukan di sini. Mabesikan Festival merupakan festival yang “memamerkan” karya-karya dan juga project seni yang dilakukan satu tahun belakangan. Para seniman dan juga komunitas yang berpameran mendapatkan hibah seni untuk merespon berbagai isu, seperti agraria, kekerasan, lingkungan, dan juga pemberdayaan perempuan.

Digagas oleh SFCG (Search Of Common Ground) dan kedutaan Besar Denmark, acara yang dihelat di desa budaya Kertalangu ini terasa sangat penuh dan beragam. Stand pameran untuk para penerima hibah, stand pameran produk, makanan, dan panggung musik mengisi ruang-ruang di Kertalangu. Brosur-brosur komunitas, informasi tentang kerja-kerja para aktivis lingkungan, ilustrasi atau poster aksi, dan seni dari plastik juga dapat ditemukan di arena pameran.

Nama-nama seperti, Made Bayak, dan Gus Dark mengisi stand dengan berbagai karya. Semisal Gus Dark menempelkan beberapa karya poster aksi dan juga kritiknya akan kehidupan di Bali. Mulai dari permasalahan air, sampah hingga reklamasi. Karya-karya tersebut juga dapat dilihat di berbagai media sosial, sebagai penyemangat para aktivis yang tengah berjuang menolak reklamasi, atau juga sentilan bagi para investor yang menanam uang di Bali.

Workshop, talkshow, dan juga pemutaran film dilakukan di wantilan sejak pagi hingga sore. Workshop yang diselenggarakan seperti: mejejahitan, batik, dan plasticology oleh Made Bayak dan Manik Bumi. Talkshow dan pemutaran film oleh beberapa seniman seperti Erick EST- Arya Ganaris dalam film Derita Sudah Naik Seleher, Agung bawantara dan Maria Ekaristi melalui film Air dan Kehidupan. Hasil-hasil project seni lainnya seperti Save garam Amed, Sawah Masa Depan, Air dan kehidupan, Bersama yang Beda, Terpasung di Pulau Surga, Warna Perempuan dan lainnya mengisi ruang-ruang pameran. Komunitas seperti Kisara PKBI Bali dan Malu Dong Buang Sampah Sembarangan juga turut serta dalam acara. Malu Dong, Komunitas yang digagas oleh Yokasara (yang juga arsitek dan mendesain tata panggung musik di Mabesikan Festival) turut menjaga kebersihan sepanjang acara.

Dari sore hingga malam acara disi acara musik oleh musisi indie Bali, seperti Relung Kaca, Nosstress, Emoni, Antrabes (Anak Terali Besi), Sandrayati Fay, Ayu Laksmi dan Svara Semesta berkolaborasi dengan Rio Sidik Bona Alit, Jasmine Okubo, Gungde Rahma dan Portadin, Lily of The Valley, dan penutup oleh Navicula.

img20161022175150

Seorang pengunjung tengah melintas di depan karya-karya poster aksi bli Gus Dark, dan juga meja konsultasi Kisara PKBI Bali.

img20161022175218

Gung Wah Aritama menonton tayangan sigkat kegiatan dokumentasi oleh Trax Video yang bekerjasama dengan Mabesikan Project.

img20161022175640

Foto karya Rudi Waisnawa tentang Garam Amed, yang bertahan di tengah berkurangnya lahan para petani garam karena pembangunan akomodasi wisata di Amed, Purwakerthi, Abang, Karangasem.

img20161022175851

Padma (Panitia, tengah) tengah berbincang dengan Nengah Suanda (duduk, Ketua Kelompok Garam Amed) mengenai kondisi pertanian garam dan bagaimana lahan-lahan tersebut saat ini. Latar belakang Mural karya Peanut Dog, yang mendapatkan hibah seni dari Mabesikan Project mengenai ” Save Garam Amed”.

img20161022180226

Karya Bli Made Bayak, Platicology Art. dan juga memamerkan hasil karya adik-adik sekolah dasar yang mengikuti program Plasticology Pulang Kampung, di Tampaksiring, Gianyar. Program tersebut merupakan hasil kerjasama dengan Mabesikan Project.

img20161022180303

Karya-karya dari Bali Women Crisis Centre, yang memajang tas selempang lukis yang dijual pada arena Mabesikan Festival. Ada juga video dokumentasi dan foto-foto kegiatan organisasi ini.

img20161022180327

Mural soal perilaku investor saat ini dari Dewa Keta dan kawan-kawan menyoal “Sawah Masa Depan Kita”

img20161022180416

Komik karya Dewa Keta dan kawan-kawan soal persoalan tanah di Bali.

img20161022180509

Wayang cerita soal sawah.

img20161022180518

Suasana pameran di Wantilan Kertalangu.

img20161022180539

Panggung musik di Mabesikan Festival, desainya karya arsitek Yokasara.

img20161022183938

Emoni tampil di Mabesikan menjelang malam, minus satu personil Gung BJ.

img20161022191725

Antrabez (Anak Terali Besi), berisi para masyarakat binaan Lapas. mereka salah satu bintang di Mabesikan Festival malam tersebut.

img20161022201409

Ayu Laksmi tampil dengan formasi tambahan. mereka tampil maksimal.

img20161022213252

Lily of The Valley, saya baru pertama kali menonton penampilan mereka dan terkesima.

img20161022224339

Navicula dengan format akustik, terasa kurang karena tampil hanya dengan lima lagu.

Advertisements

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mabesikan Festival, yang Terlewat Minggu Lalu at Sudut jalan.

meta

%d bloggers like this: