Tenang, Macet itu Hanya Indikator Awal..

November 9, 2016 § 1 Comment

Menulis dengan tenggat yang minim mungkin bisa jadi latihan yang sepadan untuk mengasah kemampuan sebagai wartawan. Tiap hari harus menyetorkan beberapa tulisan yang sedari pagi masuk catatan editor. Penugasan dan sudut pandang beritanya ditentukan agar lebih menarik masuk koran. Pagi hingga siang liputan, sore hari tulisan harus masuk dapur redaksi. Malam editing serta konfirmasi data, dan terakhir tugas para penata letak yang akan menyesuaikan berita yang masuk ke dalam halaman koran.

Namun saya, yang punya niat setengah-setengah jadi pewarta dan setengahnya jadi arsitek, atau harus dibagi menjadi sepertiganya untuk seorang yang  biasa-biasa saja. Agaknya begitu rumit. Maka, jika ada kekurangan yang luar biasa terhadap tulisan ini. Ya saya minta maaf. Namun berdasarkan pada rapat via line yang begitu singkat, saya menulis secara rutin tiap selasa (dan minggu ini masuk minggu ketujuh) di blog milik saya mengenai Bali. Walau hanya sampai minggu kedelapan (tepatnya hanya sampai minggu depan), menulis mengenai pulau kecil ini harus berlanjut. Walaupun kadang topiknya terasa bergejolak, ada yang serius ada yang tidak minimal menjadi catatan tersendiri untuk para penulisnya. Suksma!

Bermacet-Macet Ria

Bagi warga Denpasar dan Badung, dan kota-kota penyangga lainya seperti gianyar dan tabanan, seolah harus berjuang hingga ke rumah tiap sore hari. Jalanan penuh asap kendaraan, klakson-klakson begitu nyaring di telinga merupakan santapan sehari-hari para masyarakat sekitaran kota. Konsentrasi pekerja yang tinggi di perkotaan, seperti Denpasar dan Badung selatan telah menyebabkan jalan-jalanan kita yang super mini jadi sesak dan juga makin tidak terkendali. Sore in mungkin salah satu sore yang pasti begitu naas bagi saya.

img20161108184712-01-01

Sekitar satu jam berhenti dan menonton kemacetan sore ini, di sekitaran Daerah Kwanji, Dalung.

Niat menghindari sengketa macet di sekitaran Canggu-Kerobokan, via Kwanji, Dalung harus menemui kenyataan bertemu hal yang serupa. Padahal sebelumnya disekitaran Gunung Agung-Mahendradatta juga tidak jauh berbeda. Bahkan pengendara motor-lainnya yang sempat saya ajak ngobrol ketika menunggu macet. Kondisi di beberapa ruas jalan lain seperti Sempidi-kapal dan sekitarnya juga macet tiap sore. Hujan besar tadi sore (08 November 2016) sekitaran Denpasar Barat, hingga Badung turut menjadi faktor bagi pengendara pulang pada saat yang bersamaan.

Menunggu sekitar satu setengah jam di depan sebuah toko retail harus dilakoni, mengingat menghabiskan energi berjibaku dengan asap kendaraan dan bunyi klakson tadi, bensin berada dalam posisi yang miris (tidak mungkin habis di tengah kemacetan, hal tersebut tentu tidak elegan), dan lebih baik digunakan untuk berkomunikasi perihal acara yang akan dihelat Bali Blogger, sabtu 12 November 2016 mendatang dengan beberapa teman (sekalian promosi, silahkan hadir ada permainan hiburan juga apresiasi pada jurnalis warga).

cwqo8buweaa0oui

Acarannya Bali Blogger dan Bale Bengong Sabtu ini, 12 November 2016.

Bukan hanya saya saja yang merasakannya. Pasti juga kamu, (kamu yang sedang membaca tulisan semi curhat ini). Bali akan menemui fase baru kemacetanya, setelah beberapa tahun lalu kemacetan berada di wilayah bali selatan. Kemacetan di wilayah tengah ini cuma penanda bahwa pertumbuhan-pertumbuhan yang sangat tinggi pada kota-kota penyangga. Pergeseran permukiman dari wilayah perkotaan menuju wilayah sekitarnya juga dapat dibaca sebagai sebuah gejala sosial yang beragam. Mulai dari ketersediaan dan keterjangkauan lahan, perihal kita abai transpostasi umum, hingga soal pemerataan ekonomi dan pola-pola kehidupan keluarga di Bali.

Saat saya membuat tulisan ini, setidaknya ada beberapa hal yang melintas tadi (maksudnya menulis sekaligus merenung bisa jadi). Kenapa jadi menarik? Karena saya berpikir, para akademisi kampus, pemerintah daerah dan nasional, NGO tidak ada yang serius berpikir dan juga menemukan solusi permasalahan ini. Perencanaan wilayah SARBAGITA (Denpasar, Badung, Giayar, dan Tabanan) hanya menitikberatkan pada perencanaan struktur fasilitas umum belaka, disertai dengan detail-detail aturan pembagunan belaka.

Belum pernah secara spesifik pembicaraan mengenai kota dan provinsi kecil ini secara mendalam. Kita tidak berbicara dalam tataran yang strategis, hanya mengatasi persoalan pada bagian luar saja. Solusi kemacetan wilayah Bali selatan seperti JDP (Jalan di Atas Perairan) dan juga Underpass akan bersifat lokal saja, namun memberikan dampak pada kepadatan di jalan-jalan lama yang tidak bisa berkembang lagi. Contoh yang bisa dibayangkan sekitaran canggu-kerobokan, dengan jalan relatif sempit, ada kelokan dengan bentuk dua huruf L, dan perbaikan pipa air yang tak kunjung selasai. Menjadikan jalan ini neraka baru saat pagi dan menjelang petang.

Kemacetan di Bali hanya indikator, soal pembangunan kita yang tumpang tindih. Walau harus diakui rencana-rencana akses tol untuk Bali Utara, dan Bali Barat dengan rencana pembangunan Tol Soka menuju Kuta yang tujuannya pemerataan pembangunan. Saya pikir tidak akan hasilnya demikian. Hasil utamanya justru pemiskinan di daerah-daerah. Kenapa demikian? Karena akan banyak anak muda- dan kelas pekerja menuju perkotaan karena akses yang mudah. Terlebih yang sangat menakutkan adalah makin hilangnya lahan-lahan pertanian di sekitar pembangunan jalan-jalan baru ini.

Buku Ekspedisi Anjer-Penaroekan yang merupakan kumpulan Laporan Jurnalistik Kompas tahun 2008. Buku ini menyoal berbagai hal mengenai Jalan Raya Pos yang merupakan warisan Daendels.

Ekspedisi Anjer-Penaroekan, yang diterbitkan Kompas dalam rangka 200 tahun pengembangan Jalan Raya Pos oleh Daendels pada 1808, memberikan persfektif yang amat lengkap mengenai Jalan Pos, soal kota-kota yang dilaluinya, dan dampak-dampak pembangunannya. Hal ini juga bisa dipakai dalam melihat perkembangan kota dan jalan raya dalam pembangunannya. Sedikit mengenai jalan yang dibangun dibawah mayat-mayat pekerja paksa, telah membawa dampak signifikan pada perimeter jalan tersebut. Selama hampir 200 tahun, kota-kota yang dilaluinya sangat maju, karena modal terkonsentrasi di wilayah tersebut. penduduknya meningkat sangat pesat, dan pembangunan kawasan industri, perdagangan, dan perumahan begitu pesat karena adanya arus perpindahan penduduk yang besar juga.

Di sisi yang berbeda, terjadi penurunan angkatan kerja di pedesaan, kota-kota lainnya menjadi sepi karena ditinggal penduduknya, roda perekonomianya tidak berjalan secara maksimal. Isu-isu di kota besar tadi adalah perpindahan akses tanah pada orang-orang kaya (karena hanya mereka yang sanggup membeli sedangkan orang lokal tidak sanggup mempertahankannya, bisa karena nilai pajak sangat tinggi) dan penduduk kelas menengah harus terusir ke wilayah perimeternya. Lahan-lahan produktif persawahan terkonversi oleh kegiatan perekonomian dan perdagangan. Dan makin tingginya angka-angka permasalahan sosial, seperti pengangguran, kemacetan, kriminalitas, dan tingkat frustasi warga yang meningkat.

screenshot_2016-11-09-01-03-17-07-01

Jakarta at 30 Million: Where Does The City Go Next?

Kini, Kota-kota tersebut (Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang misalnya) benar-benar menghadapi permasalah itu. Urbanis senior di Jakarta, Marco Kusumawijaya mengumumkan sebuah acara dua minggu ke depan di Jakarta. Acaranya bikin saya kaget, tajuknya “ JAKARTA at 30 Million: Where Does The City Go Next?” menyoal masa depan kota Jakarta dengan penduduk 30 juta. Ini semacam kebetulan yang amat sangat. Saya pikir yang merasa penting bisa ikut acara tersebut. karena pembahasannya serba menyeluruh (dari masa depan tanpa sampah, hingga seni).

Bali sedang menuju kesana. Perimeter-perimeternya meluas, tanah pertaniannya berkurang, jalan-jalan besar makin banyak mengangkut pekerja-pekerja ke kota dan pulang dengan wajah-wajah yang muram. Pembangunan-pembangunan jelas bukan untuk rakyat, hanya untuk pemodal besar dengan bagi keuntungan yang jelas untuk mereka saja. Sekali lagi macet sore ini hanya pertanda-pertanda belaka.

Cemagi, 09112016

Hari yang benar-benar istimewa.

Advertisements

Tagged: , , , , , , , , ,

§ One Response to Tenang, Macet itu Hanya Indikator Awal..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tenang, Macet itu Hanya Indikator Awal.. at Sudut jalan.

meta

%d bloggers like this: