​Yok, Ke Perpustakaan BIPR Sanur

November 16, 2016 § 2 Comments

Saya bukan orang yang lahir suka membaca. Budaya tahun 90-an membuat saya lebih menyukai tayangan televisi daripada bacaan-komik atau sejenisnya. Di era tersebut,televisi berusaha memenangkan hati penontonnya dengan banyak tayangan. Khusus anak-anak dengan kartun setengah hari ketika minggu, atau pada sore hari ketika lenggang. Atau tayangan tinju dan olahraga populer di waktu-waktu istirahat keluarga. Walau kini hanya tersisa adalah pelayanan tv pada pengiklan dan partai politik, saat itu ketergantungan kita pemuda-pemudi 90 ini tidak lepas dari televisi. Sampai harus pilih-pilih tayangan yang mengingatkan pada masa kecil, kartun.

Budaya lisan dan literasi di keluarga sebenarnya tidak mewah. Di rumah lebih banyak buku menu masakan dengan buku-buku kamus pariwisata praktis kepunyaan pada wisatawann yang ketinggalan ketika berkunjung ke restoran tempat bapak dan ibu saya bekerja. Hal itu juga membuat saya agak menyesal ketika mencanangkan gol membaca saya tahun ini sebanyak 20 buku di situs goodreads tahun ini. Angka tersebut sebenarnya cukup sedikit, karena rata-rata pelajar menengah di Amerika minimal membaca 25 buku. Artinya jumlah segitu tidak pantas untuk saya karena umurnya jauh dari anak-anak sekolah menengah. Atau angka 100 buku yang dicapai Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang dibaca ketika berada di AS. Jelas angka-angka yang tidak terkejar.

Jauh-jauh saya menimang capaian tersebut akankah tercapai. Beberapakali saya ingin mengganti atau mengeset ulang  angkanya, jelas hal yang memalukan. Tapi sampai atau tidak, itu akan jadi rapor sendiri bagi saya. Membaca adalah soal sikap, ada konsistensi kita untuk bertanggung jawab menelusuri tiap jengkal kalimatnya, namun juga soal menentukan kebutuhan materi yang benar-benar diperlukan, kegembiraan ketika mendapatkan suatu hiburan dalam bacaan, dan kebermanfaatan ilmu atas pengetahuan yang didapatkan.

Saya tengah berputar-putar pada wacana membaca ini sejak lama. Buku-buku sebenarnya sangat mudah untuk diakses saat ini. Terlebih era digital membuat kita dapat menemukan berbagai bacaan, sekehendak kita. kadang saya jadi berpikir saat mudah mendapatkan keistimewaan tersebut, kita tidak menyambutnya secara antusias. Kita manusia yang kurang antusias akan sesuatu. Saat akses itu ada kita selalu berminat pada hal-hal yang jelas tidak substansial.

Perpustakaan bagus, lalu apa lagi?

Tulisan in sebenarnya akan lebih banyak menceritakan perpustakaan langganan saya. Karena saya sendiri berhutang pada perpustakaan ini. tidak hanya berhutang denda keterlambatan pengembalian buku, tapi juga sebagai penyelamat saya ketika literatur di kampus saya tidak bisa dipinjam secara leluasa. Terutama untuk buku-buku berbahasa asing, yang hanya dapat dibaca ditempat.

 

 

wp-image-677667582jpg.jpg

Minggu lalu saya minta izin penjaga perpustakaan BPIR Werdhapura (milik Dinas Pekerjaan Umum Pusat) untuk menuliskan dan mengambil beberapa gambar di perpustakaanya untuk tulisan di blog ini. Penjaga perpustakaanya, Ni Putu Purnamawati mempersilahkan saya sembari mencatat buku-buku yang akan saya pinjam sore tersebut. Hanya tersisa dua pengunjung yang mengisi ruang rapat, untuk mengerjakan tugas perkuliahannya. Jam dinding menunjukkan pukul setengah lima sore, sisa setengah jam lagi perpustakaan akan tutup.

Perpustakaan milik kementerian PU ini hanya ada 4 unit di Indonesia. Pertama di Medan, Sumatera Utara (yang melingkupi wilayah Sumatera), Bandung (sebagai pusat dokumentasi milik PU), Bali, dan Makassar (melayani wilayah Indonesia Timur). Perpusatakaan ini menyediakan banyak bacaan mengenai teknik (terutama Arsitektur, Sipil karena sesuai dengan bidang-bidang pekerjaan umum) serta terdapat sebagian buku-buku pengetahuan umum, ekonomi, sosial, dan juga majalah-majalah populer macam National geografic. Alat-alat peraga mengenai tata ruang- serta program kementerian PU dari pusat hingga daerah juga mengisi ruang di perpustakaannya (khususnya di Bali).

wp-image-1984908006jpg.jpg

Bagi saya, perpustakaan ini sangat mumpuni dan juga lengkap. Karena beberapa buku-buku mengenai arsitektur baik dalam dan luar negeri tersedia serta dapat dipinjam. Jika kemudian buku-buku yang  kita ingin pinjam tidak ada dalam koleksi perpustakaannya, kita bisa meminta perpustakaannya menyediakan buku-buku tersebut. Cukup berkomunikasi dengan penjaganya, berikan informasi buku secara lengkap, mungkin segera dapat tersedia.

Ruang-ruangnya sangat cukup untuk menampung pengunjung setiap harinya. Meja-meja dengan stop kontak tersedia untuk kawan yang ingin berlama-lama sambil mengerjakan tugas. Fasilitas yang lengkap dengan koneksi internet dan bahan bacaan yang cukup mungkin akan membuat pengunjung  bisa memanfaatkan tempat tersebut sebagai ruang belajar di saat ruang-ruang kampus terasa sempit dan menjemukan. Bisa dengan mengajak teman tentunya akan lebih menyenangkan.

Saya sering datang dan meminjam buku, maksimal tiga buku sekali meminjam dengan jangka waktu dua minggu. Jika ingin menambah masa pinjam tinggal telepon ke perpustakaan. Untuk dapat meminjam, harus menjadi anggota terlebih dahulu. Pertama dengan mengisi form pendaftaran anggota serta menyertakan identitas dan pendaftaran, hanya Rp. 25.000 (untuk pelajar/mahasiswa) dan Rp. 50.000-75.000 (untuk umum).

Di tengah baiknya fasilitas tersebut, sekali lagi antusiasme membaca tidak terlalu banyak. Memang pengunjung dapat mencapai 65 orang satu hari, terkadang perpustakaan ini melompong tanpa pengunjung. “Sempat kemarin ada pengunjung 65 orang, anak-anak mahasiswa. Mereka mengerjakan tugas disini,” terang Putu Purnamawati. Jumlah anggota perpustakaan mencapat 250 orang. kadang masih ada yang perlu dihubungi untuk mengembalikan bukunya.

Pernah suatu kali, PU melalui unit perpustakaan ini ingin bekerja sama dengan pihak kampus untuk dapat meminjamkan beberapa koleksinya di perpustakaan kampus. Dengan status kerjasama, mahasiswa dapat meminjam buku perpustakaan werdhapura ini di tempat mereka. Sekaligus misinya mengenalkan perpustakaan mereka ke mahasiswa, yang merupakan pasar  utamanya. Namun saya tidak tahu kelanjutannya kemudian.

 

Tugas dan fungsi tulisan ini hanya mengenalkan dan pengantar awal untuk berkunjung ke perpustakaan tersebut. Datang saja mulai pukul 09.00-17.00 Wita ke perpustakaan BPIR, di Werdhapura, Sanur. Jika bingung mencari lokasinya, bertempat di Jalan Danau Tamblingan Sanur, Denpasar. Sebelah selatan kompleks Hotel Santrian. Perpustakaannya agak masuk ke dalam, berada di bawah ruang pertemuan PU sebelah timur Hotel Werdhapura. Untuk lokasi bisa cek di sini (via google maps).

Jika enggan datang bisa telepon dulu, atau bisa datang bareng teman dan mendaftar sebagai anggota bersama.

Merekam Bali edisi ini mungkin lebih mirip seperti iklan. Yah fungsinya karena keinginan saya untuk bayar hutang. Sekalian ingin memberikan masukan tempat-tempat yang bisa didatangi ketika suntuk di rumah. Sebagai ucapan terima kasih, karena memberikan banyak masukan ketika kuliah hingga sekarang. Salah satu tempat melarikan diri paling nyaman, karena ada sofa, meja-kursi untuk mengerjakan tugas, AC dan juga koneksi internet juga buku-buku menarik.

Advertisements

Tagged: , , , , ,

§ 2 Responses to ​Yok, Ke Perpustakaan BIPR Sanur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading ​Yok, Ke Perpustakaan BIPR Sanur at Sudut jalan.

meta

%d bloggers like this: