Ada “Turis” Raksasa di PKB

July 7, 2017 § Leave a comment

IMG20170706200236

Suasana di Areal Madya Mandala Art Center Denpasar, Penonton tengah menyaksikan pertunjukan Boneka Wayang Raksasa.

” Kau putar sekali lagi champs elyses lidah kita bertaut ala france langit sungguh jingga itu sore dan kau masih milikku” 

Puan Kelana-Silampukau

Ketika perjalanan menuju Denpasar, terngiang lagu Silampukau “Puan Kelana”. Duo asal Surabaya tersebut menceritakan seorang pria yang mempertanyakan kekasih hatinya pergi jauh, ke perancis tepatnya. Kebetulan kami ingin pertunjukan kolaborasi perancis-Bali di ajang Pesta Kesenian Bali ke-39, kemarin (6/7/2017). Ya “Kami”, saya dan Cile.

Kami telah berjanji beberapa hari sebelumnya. Ia bahkan mewanti-wanti secara tersirat akan menonton pertunjukannya. Saya sigap membaca “kode”, yah saya ajak saja mumpung waktu agak senggang walau kerjaan cukup banyak. Tapi apalah arti banyak pekerjaan namun hati malah tidak tenang.

Kolaborasi ini tentu dalam benak saya akan menarik. Mengingat negeri Perancis identik dengan  keindahan, rasa romantis, dan dikenal pusat seni dunia ada di negara tersebut. Tiap orang punya impian untuk menjejakkan kaki di tanah eksotik itu.

Cerita mengenai Perancis sendiri lekat dalam pikiran saya, ketika membaca petualangan Andrea Hirata aka Ikal di Negeri Napoleon tersebut. Lembaga pendidikan “ Sourbone” melekat sangat erat.

Saya juga menyukai apa yang dikerjakan lulusannya seperti Daoed Joesoef. Ia merupakan salah satu lulusan Sourbone, sekali pernah menjabat sebagai menteri pendidikan era Pak Harto. Walau pernah memberikan kontribusi yang menurut Para Aktivis kampus mengecilkan gerakan mahasiswa era pemerintahan Orde Baru. Namun saya sendiri selalu menunggu tulisannya di Koran Kompas, atau cerita-cerita pendeknya. Lewat orang-orang tersebut saya jadi beragan-angan menjejak kota itu pula. Yah suatu saat tentu, tapi entah kapan saya akan tetap berharap.

Pertunjukan dihelat sekitar pukul 8 malam, sebelum waktu tersebut kami telah tiba di kawasan Art Center Denpasar. Kami berkeliling sekadar menunggu pertunjukan. Serta mengelilingi stand kuliner, membeli satu bungkus sate jamur dan segelas es milo. Mampir ke Stand Kriya, melihat produk dan Stand Bog-bog Bali yang dipenuhi pengunjung.

IMG20170706210825

Suasana Pasar Malam di Banjar Kedaton, Denpasar.

Di waktu yang bersamaan dengan pertunjukan boneka perancis, juga diadakan pementasan Teater Bumi membawakan Lakon Kisah Cinta oleh Arifin C. Noer. Yang menarik dari pementasan tersebut, Made Mangku Pastika ikut  tampil dalam garapan tersebut. Para pejabat teras juga turut memenuhi lantai satu Gedung Ksiranawa, ada dosen, pengusaha, dan beberapa tokoh juga turut menonton.

Pukul delapan, para penabuh telah berada di halaman tengah Art Center, panggung outdoor tersebut telah dipenuhi penonton. Kami mencari tempat duduk di bagian belakang agak di tengah. Tabuh pembuka (petegak) ditabuh oleh para juru gamelan sebagai latar pembuka pertunjukan tersebut. Berjudul “dongkrak”, walaupun agak aneh dari segi judul. Namun kami malah hanyut dalam buaian sate jamur yang dibeli barusan, sesekali menyedot es milo dari wadahnya. Tabuhnya pembuka selesai, sate itu tandas pula.Pada tabuh kedua, para boneka raksasa mulai muncul di panggung. Mereka merupakan keluarga, ada tiga tokoh, seorang ayah, ibu dan seorang anak yang menokohkan wisatawan yang sedang berlibur ke Bali. Sang Ibu membawa peta wisata Bali, dan anak menenteng kamera yang tentu saja ukurannya sangat besar. Mereka  memotret penabuh, penonton dan berswafoto.

IMG20170706200144

Boneka Raksasa, tengah memainkan lakon “Les Touristes”

Bagi saya yang baru pertama kali menonton merasa kagum, soal para dalang dari wayang-wayang raksasa tersebut. Tokoh-tokoh selanjutnya muncul ke panggung. Tokoh topeng bujuh menokohkan seorang guide (pemandu wisata) menemani turis-turis raksasa tersebut untuk berkeliling melihat Bali. Mereka berkeliling seperti cerita-drama gong. Dan diceritakan memilih menonton pertunjukan barong.

Pertunjukan barong tersebut merupakan dianggap sebagai representasi pertarungan soal kejahatan dan kebaikan. Lengkap dengan adegan kera yang mengganggu barong dan tari rangda untuk memperkuat pertunjukannya. Kami hanya  menontonnya sampai disana. Ada rasa bosan dari kami menonton lebih lanjut. Namun saya pikir acara tersebut telah memberikan sebuah suguhan yang unik dan baru. Walaupun tiap tahun, boneka perancis ini turut ambil bagian dari PKB.

IMG20170706200556

Wayang Turis bersama Guide Bujuh

Pegelaran Wayang boneka Raksasa tersebut berjudul ” Les Touristes”. Tema ceritanya soal turis, terlalu biasa karena umumnya sangat standar dari suguhan kolaborasi dua negara. Saya terbayang pada cerita bondres Susi Buleleng, yang berkolaborasi dengan bule yang bisa berbahasa bali. Dimana jauh lebih menarik dan mengundang tawa dari penonton. Panitia sendiri ingin  menyelipkan soal masifnya pariwisata bagi bali, lewat boneka raksasa. Namun sisi-sisi tersebut belum mampu hadir dalam kolaborasi tersebut. Rasa kontras yang terlihat adalah sosok Rangda dan Barong yang malah terlihat kecil dan imut di hadapan boneka yang tinggi rata-rata mencapai empat meter tersebut.

Interaksi antara tokoh tersebut, mirip dengan adegan sendratari, namun ada satu hal yang menurut kami kurang dan menjadikan pagelaran tersebut kering, yaitu percakapan antara tokohnya. Interaksi dalam drama atau sendratari memerlukan cerita dan percakapan untuk memberikan gambaran lakon pada penonton. Namun bisa dimaklumi karena ada perbedaan bahasa, dan lebih mengutamakan gerak tubuh serta isyarat semata.

Namun dengan segala penilaian tersebut tidak menghentikan para penonton sekalian termasuk anak-anak larut dalam cerita tersebut hingga berakhir. Yang jauh lebih penting adalah sebuah pengalaman menarik dalam benak penonton saat selesai menyaksikan pertunjukan, sebuah kolaborasi antar dua negara. Terima kasih untuk Les Grandes Personnes, Alliance Francaise dan Komunitas Budaya Yasa Putra Sedana, Payangan yang telah menghadirkan pertunjukan menarik tersebut.

Kami akhirnya pulang diiringi hujan setelah lelah berkeliling dan berdesakan di areal jualan baju yang sempat terbakar tahun lalu. Tumben berkunjung ke PKB tidak sendiri seperti tahun-tahun sebelumnya.

Jumat, 7/7/17

Tengah bosan dengan Gambar bangunan

Bonus lagunya Silampukau Puan Kelana

 

Advertisements

Tagged: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ada “Turis” Raksasa di PKB at Sudut jalan.

meta

%d bloggers like this: