Catatan Residensi Jengki Madura 2016: Beraksitektur melalui Dokumentasi Arsitektur

November 2, 2016 § 1 Comment

Seorang teman mengajak untuk menonton film Tiga Dara, besutan Usmar Ismail itu digelar di Ruang terbuka Bentara Budaya Bali, Ketewel, Gianyar di penghujung September. Pemutaran bergaya gerimis bubar (Misbar) ini menyedot banyak penonton. Saya begitu menikmati filmnya. Alih-alih menyukai pemerannya yang berkarakter, lucu, centil. Atau lagu-lagu yang menarik, lirik-liriknya yang tandas bertanya soal mapannya seorang lelaki yang harus mempersunting seorang istri. Saya malah tertarik pada latarnya, gaya rumah  ala Indonesia yang berkembang pada periode tahun 1950-1960.  Dikenal dengan gaya jengki atau dikenal dengan arsitektur jengki.

Kenampakan rumah dan latar cerita film Tiga Dara yang mengambil latar kota Jakarta pasca kemerdekaan. Tampak bangunan dengan atap pelana dengan dinding miring, jendela bulat, dan kolom-kolom miring mengecil di bagian bawah yang merupakan identitas bangunan bergaya Jengki.

Kenampakan rumah dan latar cerita film Tiga Dara yang mengambil latar kota Jakarta pasca kemerdekaan. Tampak bangunan dengan atap pelana dengan dinding miring, jendela bulat, dan kolom-kolom miring mengecil di bagian bawah yang merupakan identitas bangunan bergaya Jengki.

Kolom-kolom miring mengecil ke bawah, plat beton menaungi teras, gewel dengan tekstur material yang kaya, ekspolarasi fasade bangunan dengan krawang, jendela dengan segibanyak atau bulat engkap dengan topinya, dan atap pelana dengan kemiringan yang cukup. Hal tersebut mengingatkan saya akan Residensi Jengki Madura yang saya ikuti pada awal hingga pertengahan bulan September 2016.

14046140_1767282536894132_1018614707032105632_n

Program Residensi Jengki Madura 2016

Residensi Jengki Madura difokuskan untuk medokumentasikan rumah dan karya arsitektur yang berhubungan erat dengan jurangan tembakau. Dokumentasi tersebut diadakan di dua desa yang terletak Kabupaten Sumenep, yaitu Kapedi dan Prenduan. Dua desa tersebut dikenal sebagai daerah pemasok tembakau ke pabrik rokok di Pulau Jawa. Rumah-rumah bergaya jengki tersebut dibangun antara 1950-1975. Selain arsitektur, tim juga mendokumentasikan pemiliknya melalui kacamata antropologi. Hubungan sosial, ekonomi, budaya, agama, politik juga turut menjelaskan bagaimana arsitektur ini dapat hadir di desa tersebut. « Read the rest of this entry »

Advertisements

Mabesikan Festival, yang Terlewat Minggu Lalu

November 1, 2016 § Leave a comment

54981cc9754dfeceef621018f28d6867

Poster Mabesikan Festival (sumber).

Masih terekam jelas penyelenggaraan mabesikan fest beberapa minggu lalu. Yang jelas teringat tentu saja gurauan dengan kawan-kawan yang jarang bertemu. Mereka adalah teman-teman yang bekerja di pelbagai sektor, terutama kreatif, ada ilustrator, artis, komikus, ada arsitek, penulis, seniman dan juga tidak ketinggalan wartawan. Aktivis penggerak sosial yang hanya dapat dilihat di aksi-aksi jalanan dan layar gadget bisa ditemukan di sini. Mabesikan Festival merupakan festival yang “memamerkan” karya-karya dan juga project seni yang dilakukan satu tahun belakangan. Para seniman dan juga komunitas yang berpameran mendapatkan hibah seni untuk merespon berbagai isu, seperti agraria, kekerasan, lingkungan, dan juga pemberdayaan perempuan.

Digagas oleh SFCG (Search Of Common Ground) dan kedutaan Besar Denmark, acara yang dihelat di desa budaya Kertalangu ini terasa sangat penuh dan beragam. Stand pameran untuk para penerima hibah, stand pameran produk, makanan, dan panggung musik mengisi ruang-ruang di Kertalangu. Brosur-brosur komunitas, informasi tentang kerja-kerja para aktivis lingkungan, ilustrasi atau poster aksi, dan seni dari plastik juga dapat ditemukan di arena pameran. « Read the rest of this entry »

Hati-Hati Cuaca Buruk, Hati-Hati untuk Semuanya

October 25, 2016 § Leave a comment

Hujan mendera begitu kencang daerah sekitar Canggu dan sekitarnya. Kurang lebih sekitar pukul 13.00 sejak kemarin hujan turun disertai angin kencang. Waktunya tidak terlalu lama, hanya sekitar 30 menit hingga satu jam. Namun jalan di lingkungan rumah saya, di Cemagi tergenang sampai 30-50 cm tergantung pada posisinya terhadap sungai, motor-motor dipacu pemiliknya melewati genangan hampir sepanjang 50 meter. kebetulan kemarin saya baru saja hendak keluar rumah, ke Denpasar niatnya makan siang dan ngobrol dengan Cile serta mengunjungi perpustakaan PU, di Werdapura Sanur, untuk meminjam beberapa buku. Baru saja keluar beberapa ratus meter, motor terasa aneh tidak stabil seperti biasa.

img20161024123335

Hujan deras, foto yang saya posting kemarin lewat instagram. Hujan disertai dengan dengan petir dan angin kencang.

posting-banjir

Postingan kawan saya, Adi lewat akun instagram miliknya. Kondisi banjir di jalan lingkungan Banjar rumah saya.

Saya putuskan singgah ke bengkel sebentar, mungkin bannya bocor. Langit gelap gulita, angin mulai agak kencang. Sampai bengkel, hujan turun deras  disertai angin dan petir. Jarang melihat hujan besar seperti ini setahun ini. Walaupun tidak terlalu lama, papan-papan nama toko-toko nampak goyah diterjang angin. Papan nama besar milik toko waralaba setinggi 10-15 meter tepat di sebelah toko bergoyang, menimbulkan suara decit mengganggu. Duh mungkin bisa saja roboh. Posisi saya duduk di bengkel tepat sebelahnya. Jika jatuh menimpa saya dan orang lain yang melintas pasti berbahaya. « Read the rest of this entry »

Sanur dan Kejadian-Kejadian Kecil Minggu Pagi

October 18, 2016 § Leave a comment

Bau teh bandulan masih tersisa di jari saya, ketika tadi hanya menuangkan sejumput dari wadahnya dengan cap dagang “Gardoe”, asli buatan Surakarta.  Menyeduhnya dengan gelas selai untuk menjual ice tea seharga Rp.15.000. Hanya gelas tersebut saya rasa pas untuk menemani mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus menulis untuk piket ngeblog saya minggu ini. Saya menulisnya hari senin (keinginannya) walaupun tidak selesai toh sudah ada bahan yang cukup mengisi blog. Beberapa teman yang ikutan gabung ngeblog seperti sedang sibuk, karena pekerjaan dan juga kegiatan, dimana mereka bergabung sebagai volunteer. Tentu saja hal tersebut dapat jadi hal yang menarik. Tidak semua orang punya pengalaman tersebut. Pantas untuk diceritakan melalui media. Berbagi tentu saja memberi arti bagi cerita-cerita tersebut.

Hal-hal yang kecil pun patut diceritakan, apalagi cerita-cerita yang jauh lebih besar dengan skala yang tentunya mencakup kepentingan banyak orang. Begitu yang saya katakan kemarin, dengan patner perjalanan pagi saya, Cile kemarin. Sanur jadi pilihan saya, dengan gaya agak “memaksa”, kami akhirnya jadi melepas waktu bersama. Seminggu terjebak rutinitas, dengan tensi yang tinggi. saya pikir juga patut diakhiri dengan jalan-jalan pagi. Walaupun hari kemarin bukan hari liburnya, ia mau menghabiskannnya hingga siang, Suwun ya, Mbak. « Read the rest of this entry »

Cari Bangunan Jengki di Denpasar

October 11, 2016 § Leave a comment

Iri betul melihat peninggalan arsitektur di Surabaya dan Madura. Perjalanan menuju dan berkeliling kota-kotanya sangat berkesan. Masuk gang-gang sempit selalu saja berbuah manis, bangunan-bangunan tradisional berumur ratusan tahun atau bangunan kolonial hibrid dengan gaya cina selalu membuat saya terkesima. Rata-rata peninggalan tersebut berada dalam kondisi yang masih utuh, walaupun beberapa bagiannya rusak atau tidak terawat. Tapi bagi saya atau kawan-kawan yang menyukai hal-hal berbau kuno wajib menjajal dua kota ini.

img20160909165057

Jengki di Kapedi, Blutoh, Sumenep, Madura milik seorang jurangan tembakau. Gaya jengki dapat dilihat dari bebasnya ekspresi bahan bangunan, atap pelana yang (kadang) tidak simetris, adanya lubang angin (kerawang) sebagai salah satu elemen dekoratif. bentuk bangunannya yang rada miring mirip pentagon, dan adanya kanopi terpisah dari struktur bangunan utama yang ditopang kolom yang mengecil ke bawah, miring atau dengan bentuk yang tak lazim. Jengki adalah soal ekspresi bangunannya.

Setelah balik ke Bali beberapa minggu lalu, saya jadi tiba-tiba menjadi begitu terobsesi. Terutama ketika perjalanan pulang dari denpasar menuju rumah. Mata saya melihat sekitar, kadang-kadang ditengah perjalanan hampir menabrak atau menyenggol kendaraan lain. duh berbahaya saya pikir. Ketika melintas jalan Gajahmada, Hasanudin, Diponegoro, atau melintas sekitar veteran selalu saja saya sibuk mencari bangunan-bangunan agak lawas. Sembari berpikir kira-kira pengaruh apa, tahun berapa, apa yang unik dari bangunan yang saya lihat. Fiks, saya terkena sindrom kunosentrik atau setelah melaksanakan penelitian jengki jadi semacam sindroma jengki. « Read the rest of this entry »

Minggu Menanam, Menanam Kebaikan

October 4, 2016 § Leave a comment

Kira-kira minggu lalu, ada empat penggagas kegiatan ini. Acaranya coba menanam tanaman di lahan yang sempit. Kami sepakat bertemu tiap minggu pukul 5 sore, di Warung Suksma Tohpati. Hari minggu kemarin kami bertemu,  penggagasnya Jong (pemuda dagang nasi, pemilik warung), Igund (fotografer, hobi nonton musik), Cile (wartawan), Thurdy (Dokter di Rumah Sakit Swasta), dan saya (arsitek kambuhan kadang menulis). Gagasan tadi merupakan jawaban yang sangat temporal, soal kegalauan akan keadaan dunia saat ini. sulit menanggapi pertanyaan thurdy soal hal-hal yang paling esensi dalam hidup dan stress rutinitasnya (yang ketimbang lainnya bekerja secara lepas) yang musti banyak berhadapan dengan situasi yang menekan baik oleh pasien, tempatnya bekerja. Jadi kami putuskan menanam, sebagai penghilang stress.

img20160816161754-01-03

Publikasinya Minggu Menanam

Secara kebetulan, thurdy pernah bantu-bantu untuk kegiatan di IDEP, NGO pertanian organik dan permakultur di Gianyar, Bali. setidakya cara ini klop untuk berbagi cara menanam pangan bagi kami yang awam dan juga bersamaan mengejawantahan ilmunya. Minggu ini kami menanam sayuran (walaupun bukan benih lokal, segera nanti diganti dengan bibit organik) di sudut warung Suksma secara bersama-sama. Dimulai pukul lima, tanah dicampurkan dengan kompos mulai mengisi karung-karung beras yang kosong di tempat makan tersebut. kemudian diisi bibit sawi dan bayam. « Read the rest of this entry »

Grundelan 1: Di antara Realitas Sehari-hari dan Kondisi Aktuil

September 28, 2016 § Leave a comment

Saya punya ketertarikan khusus akan politik, mungkin salah masuk jurusan ketika berkuliah. Terlebih lagi sejak sekolah dulu hobi berdebat dengan teman sekelas terutama pelajaran-pelajaran sosial dan PPKN. Apalagi kemudian berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang lampau soal-soal sejarah dan juga peristiwa-peristiwa mutakhir terkini.

636105255536295163-gty-610601290

Trump dan Hillary Clinton, debat Capres Amerika Serikat tadi pagi. (Sumber)

Pagi hari sudah disuguhkan debat Hillary Clinton dan Donald Trump. Ini masuk peristiwa sejarah berhubungan erat dengan politik. Sejak kemarin ketika ngobrol dengan mbok jurnalis cum fotografer, entah dia sedang concern sekali dengan politik Amerika, sampai lupa debatnya jam sembilan, malah dibilang pukul tujuh. Mungkin ada gangguan dari keseleo tangannya setelah tabrakan kemarin. Untung sudah ke tukang urut kenalannya Mbok-mbok wartawati senior (terima kasih banyak mbok). Semoga segera mengetik kembali, lumayan tangan kiri buat ngetik huruf A dan shift buat kapital saat buat berita.

Berhubung saya belum bercerita tentang Project #MerekamBali, karena tulisan yang dipublikasikan tadi pagi sekadar pembuka, ada baiknya saya ceritakan apa yang saya lakukan hari ini. Jika dirunut pada satu topik mengenai Bali, setidaknya dari sore saya berpikir untuk menulis beberapa hal. Pertama soal pemilukada Bali dengan bayang-bayang para Cukong (ini hasil diskusi berat bareng mbok-mbok galau yang bosen dengar politik dan Bli Jung, owner clothing ternama hobinya analisis politik dan perdagangan) dan topik satunya soal mebraya (bersaudara). « Read the rest of this entry »